HEADLINE : Menjemput Mimpi Para Pemuda ( Reportase BangbangWetan April 2017 )

Reportase _

Pendopo Taman Budaya Jawa Timur, Jl. Genteng Kali No. 85, Surabaya menjadi saksi pertemuan mesra antar Jannatul Maiyah (JM) dalam BangbangWetan (BbW) yang jatuh pada 12 April 2017. Lingkaran BbW April 2017 ini mengambil tema “The True Audience” yang berkaitan dengan situasi Indonesia saat ini. Pertemuan bulanan yang mengakomodasi JM yang berada di wilayah Surabaya dan sekitarnya ini satu tahun terakhir masih akan nomaden karena adanya renovasi lanjutan di “rumah” tetap BbW, Balai Pemuda.

Rockmen kembali menghentak panggung BbW malam itu dengan lagu-lagu beraliran Rock dan Blues. Suara khas Pak Men, Sang vokalis yang sudah sangat sering didengar oleh JM tetap saja mampu membangkitkan gairah dan semangat sinau bareng yang selalu diusung dalam setiap Maiyahan. Keseluruhan punggawa Rockmen sendiri adalah JM yang sering hadir dalam setiap Maiyahan di Jawa Timur. Hentakan Rockmen mampu mengendapkan pikiran-pikiran JM yang telah penuh ilmu agar rileks dan dingin kembali.

  • Obat Awet Muda

Pak Suko Widodo yang malam itu hadir lebih awal mempersilakan KH. D. Zawawi Imron untuk mengawali keilmuan malam itu setelah sesi awal dari para pegiat BbW. Selain membawakan beberapa puisinya, penyair senior ini juga menyampaikan pendaran-pendaran keilmuan baru yang tetap dibawakan dengan romantisme khas bahasa puisi.

Sang Celurit Emas ini menyampaikan tentang obat hati dan obat awet. Beliau mengajak JM untuk optimis terhadap hari esok dengan tersenyum. Senyum yang dimaksud adalah senyum yang datang dari hati yang efeknya akan menjadikan hati semakin cantik dan bersih. Dari dalam hati yang cantik dan bersih akan muncul semangat yang berkobar-kobar untuk kepentingan bersama. Inilah yang dimaksud dengan obat awet muda. Alangkah indahnya hati yang selalu ingat kepada Allah. Zikir dan shalawat akan membuat hidup tentram dan nikmat secara bersama-sama.

“Koruptor adalah orang yang rusak hatinya”, tandas beliau diiringi pantun yang dilagukan. Buah delima buah mentor/ karung goni pembungkus nangka/ syarat utama jadi koruptor/ harus berani masuk neraka.

Dalam kesempatan di atas panggung BbW, pidato proklamasi dari Bung Karno yang dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945 coba dibawakan dengan gaya aslinya oleh penyair kelahiran Sumenep ini.
”Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, salah seorang penyair kita, Chairil Anwar namanya menyatakan. Aku mau hidup seribu tahun lagi. Aku kagum kepada kalimat ini saudara, Soekarno juga ingin hidup seribu tahun. Tapi mana mungkin, seratus tahun saja belum mungkin. Walaupun demikian, tapi cita-cita kemerdekaan yang kutanamkan di hati rakyat dan bangsaku untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur akan hidup seribu tahun, saudara.” Inilah wasiat yang diberikan Bung Karno yang disusul oleh riuh tepuk tangan dari JM.”

Suasana mesra di antara JM perlahan terbangun ketika puisi “Ibu” dibacakan secara deklamasi oleh pengarangnya langsung. JM serasa dikoyak-koyak hati dan pikirannya untuk kembali memasuki goa garba ibunya masing-masing ketika bersama-sama memejamkan mata dan merasakan makna substansial dari puisi “ibu”. Ibu yang dimaksud puisi ini tidak hanya berarti ibu secara denotasi, namun juga konotasi yang berarti Tanah Air Indonesia.

Selesai pembacaan puisi pamungkas, KH. D. Zawawi Imron berpamitan kepada JM untuk lebih dulu meninggalkan acara. Seraya berpamitan, Pak Suko tak lupa sedikit “menggelitik” beliau dengan pancingan-pancingan humor agar ilmu yang tersampaikan semakin merasuk ke dalam hati dan pikiran JM.     —  [ Selengkapnya .. ]


Orang yang tertindas dan menindas itu sama sama “BUKAN ” manusia . Yang menindas menghilangkan kemanusiaannya ,  yang ditindas di hilangkan kemanusiannya . – Toto Rahardjo

 

 

Sastra itu segala sesuatu tentang membaca , Membaca itu segala sesuatu tentang mencari makna , Makna itu segala sesuatu yang membuat manusia bukan hewan , tidak sekedar tetumbuhan atau benda benda . –  Joko Umbaran