Yang Mengalir dan Bergetar; Majelis Maiyah Balitar

 

Untuk satu tahunnya – Majelis Maiyah Balitar –

Oleh: Rio NS  / dok: fe/#MBJan

Kalau ada orang bertanya darimana saya berasal dan saya jawab dengan pasti Blitar, maka si penanya pasti langsung menyahut Bung Karno. Demi alasan psikososial, saya tentu harus mengiyakan pemahamannya. Meski tidak sepenuhnya salah, asosiasi yang sangat common sense ini sesungguhnya perlu pelurusan sejarah dan jiwa besar bagi semua pihak. Kelegaan menyangkut keyakinan yang dipatuhi sekian lama serta tentu saja kebanggaan primordial yang terjaga.

Blitar tanpa Bung Karno memang terkesan hanya kota kecil di sisi barat Malang yang trully Asia dan sebelah tenggara Kediri yang berjaya bersama salah satu raksasa dalam industri rokok nasional. Sekilas, kawasan ini tidak menawarkan apa-apa kecuali cerita sedih akibat sapuan lahar Gunung Kelud yang kondang dengan Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung, Kediri dadi kali.

Tapi baiklah, mari tinggalkan kesedihan Blitar atas kekalahannya dalam polemik “kepemilikan” Gunung Kelud. Atau upaya pemulihan nama baik yang tak kunjung berhasil dalam kaitannya dengan posisinya sebagai penghasil nanas dan ikan koi. Meski dalam beberapa hal, agrobisnis Blitar masih menghembuskan nafas segar bagi perekonomian regional misalnya dalam produksi telur ayam dan rambutan.

Untuk kali ini saya memilih mengungkapkan rasa syukur secara vertikal dan angkat topi dalam tata hubungan horisontal atas peristiwa perulangan tahun pertama bagi Majelis Maiyah Balitar (MMB). Lingkaran kecil yang secara de jure telah sahih sebagai satu simpul sejak Februari 2016 ini sedang berhikmat atas perjalanan geliat hidup dan pertumbuhannya yang genap 12 bulan.

Cukup mengejutkan saat pertama mendengar agenda grand launching simpul Maiyah di Blitar. Hal ini muncul karena ada semacam kecenderungan salah pikir pada saya bahwa apa sih yang mau diperjuangkan di sebuah kota pensiunan sebesar Blitar? Hal yang menambah keterkejutan ini adalah kenyataan betapa lingkar Jam’ah di sana justru digerakkan oleh mereka yang datang dari generasi muda. Mereka yang kosmos kesehariannya jauh dari hiruk pikuk kisah heroik perjalanan Cak Nun bersama Persada Studi Klub, Teater Dnasti, tragedi Kedung Ombo, Lautan Jilbab dan suksesi kagol ‘98.

Seiring perjalanan waktu, keterbatasan saya menyebabkan peluang untuk bisa menjadi salah satu audience di perhelatan bulanan mereka menjadi kecil. Namun, sungguh, gelombang syukur itu sulit saya sembunyikan setiap kali saya temukan announcement yang mereka unggah di media sosial. Syukur betapa mereka dari generasi Junit dan Toling ini punya greget untuk mengangkat isu-isu yang sepi dari perhatian umum dan orang banyak. Isu yang mereka angkat dibungkus dengan balutan tema yang cukup menyita perhatian dan prolog yang berisi dan terstruktur rapi.

Dari cerita-cerita yang saya dengar, tempat penyelenggaraan forum bulanan MMB berpindah-pindah. Alasannya tentu saja menyangkut kerelaan dan kesiapan shahibul bait. Maklum, karena seperti acara serupa di puluhan simpul lainnya yang berakhir di ujung malam, resistensi dari orang sekitar dan tak jarang keluarga menjadi tantangan tersendiri.

Sabtu, di hari kedelapanbelas Februari ini, malam yang basah di kawasan dari mana dua Presiden dan satu Wapres Indonesia pernah bersinggungan dengannya akan hangat oleh tumpahan cahaya pengharapan MMB. Tak terelakkan lagi, kado unik yang diterima kawan-kawan MMB beberapa hari sebelumnya berupa trauma kapitis seorang JM adalah isyarat kasat mata: bahwa langit segera akan menitipkan sesuatu yang istimewa bagi saudara-saudara muda kita itu. Titipan yang berkenaan dengan pembahasan lebih lanjut mengenai cemerlangnya sebuah jaman baru.

Ngaturaken sugeng Tanggap Warsa!

 

REDAKSI : Nugroho P. Sanyoto (Rio): pegiat BangbangWetan asal Blitar yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Tak henti bersyukur atas karunia Maiyah dalam hidupnya. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto / redaksi@bangbangwetan.org

 

FacebookTwitterWhatsAppLineWeChatSMSGoogle+Google GmailBlogger PostPrintFriendly

Di Balik Layar

  Oleh : Yopi Delanurai  Petinggi organisasi hitam itu tidak ada yang pernah tahu siapa dia sebenarnya, identitasnya dan apa saja rencana gerakan-gerakan ambisi selanjutnya. Sekian lama tak pernah menampakkan dirinya. Hanya sesekali dipanggil ‘Orang itu’ dalam beberapa episode oleh para eksekutor yang ikut bersembunyi dalam rencana berseri-seri cerita ini. Dia kemungkinan berkamuflase sebagai sosok…

FacebookTwitterWhatsAppLineWeChatSMSGoogle+Google GmailBlogger PostPrintFriendly

Identifikasi Sebab-Akibat

BERITA : BangbangWetan Februari 2017 ( KONJUNGSI RANTAS ) “Sebelum menyimpulkan dan memetakan masalah, kita harus berhati-hati dengan yang namanya alur sebab-akibat. Jangan sampai salah identifikasi, gara-gara hal tersebut.” itulah salah satu poin yang disampaikan Mas Sabrang dalam Majelis Maiyah BangbangWetan Februari, tadi malam (12/2). BangbangWetan yang kembali diselenggarakan di halaman Taman Budaya Cak Durasim,…

FacebookTwitterWhatsAppLineWeChatSMSGoogle+Google GmailBlogger PostPrintFriendly