Oleh : J.Rosyidi

“Dan carilah (dengan penuh kesunggugahan) apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu  negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari duniawi.

Kalau kita membaca terjemah Al-Qur’an yang ada, rata-rata tidak akan kita jumpai kata-kata yang dalam tanda kurung di atas. Sebenarnya itu tidak hanya sedikit kurang pas menurut saya. Baik sebelum kita menguraikan kaitannya dengan dunia parenting, kita akan sedikit mencoba mentadabburi ayat tersebut. Ini masih ada kaitannya juga dengan tulisan pertama yang sebelum ini.

Kata wabtagi tersusun dari huruf waw dan fiil am’r (kata perintah) ibtagho. Huruf waw selain berfungsi sebagai kata sambung juga bisa berfungsi sebagai huruf qosam (sumpah). Sedangkan kata ibtagho asal katanya tersusun dari huruf ba-gho-ya yang memiliki arti -salah satunya adalah melampaui batas. Maka ketika dua kata (waw dan kata ibtagho) tersebut bersambung, maka kesan yang muncul adalah usaha pencarian yang dilakukan haruslah dengan penuh kesungguhan. Pun lebih lagi apabila kita bandingkan dengan -sekedar kata- jangan lupa terhadap dunia.

Apabila kemudian kita merenungkan doa sapu jagat misalnya, berapa bagian akhirat dibandingkan bagian dunia? Dua banding satu. Maka kemudian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa visi misi hidup kita adalah rumah akhirat. Karena dunia ini tak lain hanyalah permainan dan Senda gurau semata. Bahkan dalam banyak kesempatan, Mbah Nun menandaskan -bahwa selama di dunia ini, yang penting Allah tidak marah saja sudah cukup buat kita.

***

Dalam konteks pilihan – pilihan yang kita pilih untuk ananda adalah cerminan dari visi-misi pendidikan kita dalam keluarga. Dalam dunia yang hedonis – materialis ini , banyak dari kita terjebak pada kecenderungan duniawi semata. Contoh sederhana saja profesi profesi impian untuk ananda apa? Dasarnya besarnya take home pay, apa nilai nilai kebaikan?

Penyusunan visi misi keluarga -termasuk dalam pendidikan anak tentunya- haruslah merupakan hasil diskusi rasional antara ayah dan ibu. Ibu punya potensi dan mampu menjadi “bapak”, tapi bapak seringkali tidak mampu menjadi -berfungsi sebagai- ibu. Bukankah banyak bukti seorang ibu mampu menjadi single parents, sementara bapak tidak. Maka dalam hal penyusunan visi misi pendidikan ini, sekali lagi, ibu harus menegasikan kecenderungan emosionalnya dan lebih mengedepankan corak rasional. Jadi dalam penyusunan visi misi pendidikan anak ini, seolah dibutuhkan dua orang bapak bagi ananda.

Kemudian mari kita kembali kepada “hadis fitrah” yang pernah kita bahas sebelumnya. Coba kita lihat pilihan pilihan visi-misi pendidikan yang ada disana. Mau jadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi? Loh terus Islam kok gak disebut? Ulama ulama menyatakan fitrah penciptaan adalah Islam itu sendiri. Jadi tidak perlu disebutkan berulang.

Yahudi mewakili madzhab materialistis. Lihat saja bagaimana kisah kisah Alquran mengisahkan Bani Israil sebagai pewaris agama Yahudi. Semuanya diliputi oleh nilai nilai kebendaan. Maka tak heran ketika zionisme Yahudi “menguasai” dunia maka materialisme pun seakan merasuk ke setiap kita. Apakah kita kemudian akan mendidik dan menumbuh-kembangkan anak anak kita dalam nilai nilai materialisme.?

Nasrani lahir dari antitesa agama Yahudi. Nilai nilai yang diajarkan dalam agama Nasrani cenderung “melupakan” duniawi. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Demikian salah satu ayat dalam Matius yang sangat familiar bukan?

Saat ini kita tidak bisa menafikan aspek duniawi dengan lebih menekankan aspek ukhrowi. Oleh karenanya diperlukan visi misi pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan keduanya secara proporsional. Lebih tepatnya kita membutuhkan visi misi pendidikan yang mampu menempatkan aspek duniawi dan ukhrowi secara presisi.

Lalu bagaimana dengan Majusi? Terus terang saya perlu melakukan permenungan yang lebih. Hingga kemudian, aha.. entah itu Ilham atau apa namanya, timbul kesan bahwa Majusi sebagai agama penyembah “api” merupakan lambang dari nilai nilai kekutan sains-tekologi. Kok bisa? Zaman nabi, api adalah sarana paling wah dalam mengelola logam sebagai perwujudan kemajuan teknologi. Saat ini kemudian ada semacam gerakan keberagamaan yang berbasis “sains-tekologi” yang lazim disebut saintologi -Scientology.

Sebaliknya, kesan saya terhadap Majusi adalah atheisme karena api juga melambangkan nihilisme. Entah kesan ini benar atau tidak. Tapi itu yang saya tangkap. Karena api cenderung membakar dan menghabiskan apapun yang bersentuhan dengannya. Baik scientology maupun atheisme, keduanya saat ini menjadi tren yang tidak dapat diabaikan. Scientology berkembang karena sains dan teknologi dinggap mampu menjawab segala tantangan kehidupan. Sementara atheisme merebak karena kegagalan agama agama menampilkan wajah yang ramah (baca: humanis).

***

Bila ananda mampu membaca 1 juz perhari atau bahkan menghafalnya ataukah ananda mampu menghasilkan uang 1 miliar dalam sehari yang dengannya melupakan berinteraksi dengan Al-Qur’an, kira kira mana yang ayah bunda pilih? Tidak usah dijawab. Cuma silahkan direnungkan.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi