12 tahun Bangbang Wetan

هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

– —

12 tahun untuk konsistensi sebuah perhelatan berbasis komunitas maupun komunitas itu sendiri, kohesi dan interaksi di dalamnya, kebersambungan dan ketersambungan dari tahun ke tahun sebenarnya adalah hal yang biasa saja ditemui dalam guyub masyarakat Nusantara.

Menjadi menarik ketika percepatan dan Revolusi Industri 4.0 yang menggelombang menjadi dominan dan kemudian diabsahkan sebagai parameter mengukur kemajuan dan pencapaian dengan isme yang berwujud sisi materi belaka. Sebuah kegiatan berbasis komunitas bisa bertahan sedemikian lama di dalam kepungannya adalah sebuah anomali sosial. Bukannya tidak mungkin, hanya saja ia menjadi langka terkecuali dengan adanya sebuah titik tuju yang bisa diukur dengan materialisme tadi.

Demikianlah Bangbang Wetan menemukan titik koordinatnya dalam absis-ordinat jaman.

Dengan demikian, sungguh beruntunglah Bangbang Wetan yang memasuki gerbang tahun ke 12. Maiyah dimana termasuk Bangbang Wetan di dalamnya adalah manifestasi strategis untuk menjawab panggilanNya hayya ‘alal falah hingga bermuara pada hum al muflihun. Pada “Ruang” maiyahan, Maiyah dan seluruh Jamaah Maiyah telah merasakan dengan nyata keberuntungannya. Keberuntungan dikaruniakanNya Maiyah, keberuntungan dipertemukan, dikenalkan dan mengenal Maiyah, keberuntungan gondelan klambine Kanjeng Nabi, keberuntungan paseduluran yang sejati. Hum al muflihun, orang-orang yang beruntung. Demikian yang tersurat 12 kali di dalam kitab suci.

Bangbang Wetan harus terus bersyukur, setidaknya ketika hingga putaran matahari Masehi 2018 ini diperkenankan untuk terus berjalan. Memberi warna di sebuah kota yang disematkan padanya Kota Pahlawan, yang dalam nafasnya tersimpan begitu banyak catatan sejarah yang pejal, agile, durable, dan sustain. Bangbang Wetan dalam titik syukur pertamanya adalah semoga ialah yang dimaksud dan dikehendaki Allah sebagai humul muflihun, karena ia ‘ala hudan min Rabbihim. Hudan min Rabbihim adalah titik tonggak utama dan pertama Bangbang Wetan sejak Muhammad Ainun Nadjib pada 2006 yang lalu meniatkannya sebagai sebuah laku becik untuk anak cucunya.

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 5)

Bangbang Wetan, yang di dalam semburatnya setiap jamaah dan hadirin hanya berupaya gondelan klambine Kanjeng Nabi, memonyong-monyongkan bibirnya karena terkesima dan mencoba meniru senyumnya ia yang tabassam wajahnya. Keramahan dan kemurahan itu saling memantul satu sama lain di dalamnya, sehingga terus menerus mengupayakan keselamatan satu sama lain. Keselamatan yang sejati, keselamatan di hadapan Sang Maha Hakim, Ia yang Maha titis dan presisi perhitungannya. Pengupayaan ini adalah meniscayakan apa yang oleh Tuhan disebutNya amr ma’ruf nahyi munnkar. Maka tak heran Bangbang Wetan terus ngonceki layer demi layer khayr, hasan, ma’ruf, birr dan dialektika Tuhan lainnya dalam pasemuan bebrayan sesama Jamaah Maiyah. Bersyukurlah Bangbang Wetan dengan terus memohon perkenanNya digolongkan ke dalam humul muflihun.

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imron: 104)

“Cukuplah engkau berbuat baik,” demikian ucap teduh Ngai Ma Dodera menegaskan keniscayaan manusia untuk terus menerus berjuang menjalani laku becik, baik sesamanya ataupun dengan alam dimana ia adalah bagiannya. Menebarkan kebaikan adalah yang Bangbang Wetan coba terus istiqamah menjalaninya. Tidak mudah dan tidak sederhana memang, namun terus menata hati menjernihkan fikiran, mungkin mengundang kemurahan Tuhan menunjuki peluang-peluang kebaikan yang bisa ditebarkan. Maka atas kesempatan semacam ini, wajiblah Bangbang Wetan untuk tidak melayang dan tinggi hati, melainkan tetap berendah hati hingga Tuhan menganggap layak mengatributinya humul muflihun, ketika semua laku becik-nya disambut oleh senyum kelapanganNya.

وَٱلۡوَزۡنُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّۚ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’raf: 8)

Ialah Muhammad. Sang Rasul yang ummiy, yang hari-hari beliau saaw dipenuhi dengan menebarkan kebaikan, mencegah dan menjauhkan mudharat, tetap dan terus tersenyum kepada seluruh sahabatNya, dan pada zawiyyah sunyinya senantiasa merintihkan dan menangiskan beban dan belenggu kesementaraan yang diketahui terus memberati umatnya hingga yawm al-akhr kelak. Sirah dan perjalanan hidupnya yang sederhana namun berkilau, sang manusia pinilih luar biasa yang memilih menjalani hidupnya dengan biasa saja, yang memutuskan menjadi ‘abdan nabiyya daripada mulkan nabiyya – adalah yang terus menerus menjadi cermin Bangbang Wetan untuk terus mematut-matutkan dirinya hingga kelak Tuhan menganggapnya pantas untuk diserunya dalam humul muflihun, di bawah naungan teduh jubah sang Musthafa.

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِيَّ ٱلۡأُمِّيَّ ٱلَّذِي يَجِدُونَهُۥ مَكۡتُوبًا عِندَهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَٱلۡإِنجِيلِ يَأۡمُرُهُم بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنۡهُمۡ إِصۡرَهُمۡ وَٱلۡأَغۡلَٰلَ ٱلَّتِي كَانَتۡ عَلَيۡهِمۡۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 157)

Sebagaimana majelis masyarakat Maiyah lainnya, Bangbang Wetan mewajibkan dirinya untuk setidaknya setiap bulan bermuwajjahah, bertemu muka, bertukar sapa, saling menyunggingkan senyum, membaca garis wajah. Dalam perhelatan bulanan inipun, Bangbang Wetan menghaturkan rasa syukur tak berhingga yang Tuhan telah menjaganya untuk tetap bisa independen, terhindar dari wewangian materi dari mereka yang berlebih namun berpamrih. Rasa syukur ini bertaut erat dengan rasa terima kasih Bangbang Wetan atas keikhlasan dan kesediaan jamaahnya untuk hadir secara fisik dan menyisihkan sebagian kepemilikannya untuk keberlangsungan perhelatan tersebut, Hal ini sangat penting, mengingat Bangbang Wetan cukup yakin bahwa sebagian besar jamaah Bangbang Wetan bukanlah mereka yang berlebih secara materi, namun masih bersedia nyengkuyung paseban bebrayan bulanannya, baik dengan harta, tenaga maupun pemikiran. Teriring haturan doa dan pengharapan bahwa Tuhan kelak menyambutnya dalam bentangan humul muflihun.

لَٰكِنِ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ جَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡخَيۡرَٰتُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Tawbah: 88)

Seluruh pengupayaan kebaikan dan tirakat laku becik yang dilakukan Bangbang Wetan harus disertai oleh muhasabah diri tiada henti, sebab Bangbang Wetan memahami bahwa kehidupan ini berayun pada tawazun dan algoritma langit dalam genggaman presisi Sang Maha Hakim. Terus menerus memantaskan diri menjadi al-mutahabbina fiLlah meniscayakan pengharapan pada samudera Rahman RahimNya yang mengayun tawazun sang waktu pada sisi humul muflihun.

فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. (QS. Al-Mu’minun: 102)

Sang ‘abdan nabiyya dawuh bahwa kewajiban setiap mu’min adalah saling memberikan rasa aman satu sama lain. Di dalam upaya saling menghadirkan rasa aman itu, Bangbang Wetan melakukannya dalam kesadaran bahwa audience utamanya adalah Allah dan Rasul-Nya sehingga segala kemungkinan ketidaksesuain dan perselisihan di dalamnya dikembalikan lagi kepada Allah dan RasulNya. Semua jamaah Bangbang Wetan berposisi sama sebagai salikin Maiyah, maka sesama murid tidak memiliki hak untuk mengisi raport sesama murid yang lain. Bangbang Wetan hanya punya satu kemungkinan sami’na wa atha’na atas penilaian sang audience utama. Semoga Ia al-Muhaymin al-Hafidz menjaga setiap kreteg paling sirr Bangbang Wetan untuk mentaatiNya tanpa reserve sebagai syarat humul muflihun.

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur: 51)

Etos untuk lebih memilih melaksanakan kewajiban daripada sibuk menuntut hak, adalah salah satu hal berat yang tertatih-tatih Bangbang Wetan mencoba menjadikannya laku. Pada suatu titik, sang pengampu menancapkan tonggak wa laa tansa nashibaka min ad-dunya sebagai resonansi firman Tuhan agar manusia tetap pada koordinat kemanusiaanya. Memperhatikan dan mengupayakan kebutuhan kerabat dekatnya maupun sedulur sesama madhlumin baik fuqara wal masakin secara letterlijk maupun yang difakir-miskinkan secara sistemik dan kronik oleh sesamanya. Dan Tuhan menyebut yang sedemikian itu sebagai humul muflihun.

Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS. Ar-Ruum: 38)

Hati yang terus menerus memohon petunjuknya dan hati yang tawaddhu’ adalah pesan Simbah untuk terus menerus merawat nyala receiver nurani dalam menyelaraskan dengan frekuensi ketuhanan (divine frequency). Dengan kedua sayap ini, burung hidayah akan tetap terbang mengangkasa, menuju cahaya yang sejati untuk bergabung dengan mereka humul muflihun.

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Luqman: 5)

Simbah sepuh pengayom Bangbang Wetan tak lelah mengajarkan diplomasi cinta kepadaNya. Sedikit berbeda dengan pandangan umum yang hampir seluruhnya memohon agar mendapatkan ridhaNya dengan terus melakukan amal salih, beliau yang teduh memilih ndherekke terompah akhlaq Sang Nabi, dan kemudian mengajarkannya kepada jamaah diplomasi cinta dan kemesraan Segitiga Cinta. “Daripada fokusmu hanya kepada bagaimana mendapatkan ridhaNya, sebaliknya belajarlah dengan tekun bagaimana engkau ridha atasNya. Atas segala kehendakNya atasmu.” Dan jamaahpun mengawalinya dengan terus menjalin paseduluran tanpa tepi, paseduluran tanpa ikatan darah, paseduluran kemanusiaan. Paseduluran yang mengikuti alunan iramaNya, menyalakan lentera emergence sosial untuk sebuah peradaban yang otentik dan madani. Bahkan andaikanpun Ia menitahkannya mengambil peran sebagai pasukanNya, sebagaimana koloni semut, emergence maiyah menjalankan mekanisme itu untuk akhirnya bergabung pada pasukanNya humul muflihun.

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al-Mujadilah: 22)

 

Di dalam Bangbang Wetan, sebagaimana lazimnya di dalam maiyahan, yang paling terasa kental adalah nuansa dan pangrasa paseduluran, persaudarannya. Paseduluran yang tak hanya terbungkus sekedar kata panggilan dulur, tretan, akhi, bro, saudaraku dan kata sapa lainnya – namun paseduluran tanpa tepi. Persaudaraan yang mengikat ruang batin masing-masing jamaah sebagai sesama manusia. Inipun adalah upaya menapaktilasi apa yang dilakukan pertama kali oleh Sang Ppembawa Risalah ketika hijrah ke Madinah. Mempersaudarakan satu sama lain. Rasa paseduluran yang tulus tak menyisakan tempat bagi kemungkinan tumbuhnya iri, dengki dan kikir di dalamnya. Sebab keterpeliharaan dari rasa iri, dengki dan kikir adalah salah satu karakter mereka yang humul muflihun. Paseduluran ini yang merawat setiap pertemuan demi pertemuan terasa begitu berharga dan terus dirindukan, hingga kelak perjamuan di telaga yang teduh dan damai.

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ 

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9)

Dan di tahun kedua belas Bangbang Wetan, ia harus terus berupaya menjaga nyala lentera srawung bebrayan paseduluran dengan tetap bertaqwa kepada Sang Maha Cahaya. Revolusi informasi gelombang keempat sedang dan terus membanjir-bandangi keseharian manusia modern saat ini, dan itu berarti semakin terasa urgensi dan beratnya upaya menjaga etos kuna eling lan waspodo sebagai salah satu manifestasi taqwa. Semoga Al-Muhaymin Al-Hafidz tak melonggarkan sedikitpun penjagaannya atas Bangbang Wetan, hingga kelak ketika Ia mengumumkan humul muflihun, Bangbang Wetan bersama seluruh Jamaah Maiyah tersipu menemukan dirinya di sudut jubah sang Musthafa.

فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ وَأَنفِقُواْ خَيۡرٗا لِّأَنفُسِكُمۡۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Taghabun: 16)

Bangbang Wetan beserta Jamaah Maiyah yang humul muflihun dalam Ruang Maiyah, memasuki gerbang kedua belas putaran sang surya. Di dalam Ruang,Titik berbaris menjelma Garis, Garis sambung menyambung membentuk Bidang, yang kemudian saling bertaut menjadi Bangunan. Dari dalam Ruang Maiyah, Bangbang Wetan harus membagikan keberuntungannya pada Garis, hingga menjelma Bidang dan membangun Bangunan keberuntungan yang sejati. Bangbang Wetan, sebagaimana Maiyah, bukan hanya berpuas diri dan merasa cukup dalam tempurung kebahagiaan pribadi dan golongannya sendiri, melainkan berkenan menebarkan kebahagiaan dan keberuntungan itu lebih jembar sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas yang diamanahkan kepadanya. Tidak mudah itu pasti. Tidak gampang itu niscaya. Namun dengan cinta dan kemesraan paseduluran dalam siklus Segitiga Cinta, dengan bahagia kita menjalaninya. Selamat dan barakaLlah atas 12 tahun Bangbang Wetan. []