17 Tahun Kenduri Cinta; Oase Paguyuban Di Tengah Gurun Patembayan

 

” Forum yang dari namanya saja mengantarkan pesan bahwa semua yang datang membawa apapun itu untuk diletakkan di tengah lingkaran. Diolah bersama, dibumbui kesepakatan dan kerelaan, diikat dengan do’a, dan permohonan untuk kemudian dibagi sama rata kepada semua. Satu terapan dari apa yang kita kenal sebagai kenduri, “kenduren“, “slametan“. “

Kehidupan urban menawarkan lebih banyak pilihan. Ini berangkat dari morfologi dasar dan mekanisme yang menggerakkan pembentukannya. Faktanya, kota lahir dari kemajemukan unsur yang saling membelit dan menyatu dalam alasan sederhana: kepentingan.

Demikian halnya Jakarta. Cobalah tengok ke satu-dua pemukiman jelata di bantaran sungai atau rumah temporer yang sangat nol meter dari rel kereta. Lalu lanjutkan perjalanan ke hunian eksklusif yang sejak dari nama dan nuansa lingkungannya sangat Amerika atau Eropa. Kedua kutub di atas menyadarkan kita akan adanya satu keseragaman impresi bahwa mereka yang ada di dalamnya dipersatukan oleh kesamaan pandangan untuk hanya “numpang hidup”.

Jika observasi dimaksudkan ke arah dinamika interaksi antar manusia, tak perlu ayunan langkah lebih jauh kita butuhkan. Berdiam saja di salah satu terminal angkutan umum, pusat perkantoran atau perbelanjaan yang ada. Dalam waktu yang tidak lama, segera kita dapati fragmen yang menunjukkan luasnya spektrum kebhinekaan. Kemiskinan yang sungguh papa hingga tajir yang sangat fantasia. Ritme ketidakteraturan sampai pada tarikan nafas yang nyata-nyata robotik adanya.

Selalu ada celah untuk melanjutkan harap. Dan mungkin hanya rasa syukur bisa kita haturkan –dengan bermacam ekspresinya– bahwa di setiap Jum’at minggu kedua ada forum yang anomalis bernama Kenduri Cinta. Satu agenda yang dihadiri orang dari serbaneka latar belakang keyakinan spiritual dan kultur budaya dimana materi pembahasan lebih mengarah pada penampungan ide-ide dan gagasan. Tidak harus menjadi produk siap pakai namun selalu siap sebagai bahan rujukan perumusan solusi. Atas berpuluh persoalan dan silang sengkarut permasalahan.

Forum yang dari namanya saja mengantarkan pesan bahwa semua yang datang membawa apapun itu untuk diletakkan di tengah lingkaran. Diolah bersama, dibumbui kesepakatan dan kerelaan, diikat dengan do’a, dan permohonan untuk kemudian dibagi sama rata kepada semua. Satu terapan dari apa yang kita kenal sebagai kenduri, “kenduren“, “slametan“.

Ah ya, “slametan” satu kata benda yang bila dirangkai secara epistemologis dan gramatikal akan menghantarkan pemahaman ke makna Islam yang bisa berarti sangat resiproksitas “saling menyelamatkan”. Satu makna yang memunculkan ekspektasi di tengah era dimana manusia sedang asik saling menjatuhkan, saling menghancurkan.

Forum yang 16 Juni 2017 ini mensyukuri keberadaan tujuh belas tahunnya InsyaAllah kian menjadi rujukan bagi dahaga “bebrayan” semakin banyak insan.

Happy sweet seventeen“, dulur. Kita sedarah dalam barisan yang sama.

 

 

Oleh ; Rio N.S

Penggiat Maiyah Jawa Timur , BangbangWetan , beralamat di : rio_ns2000@yahoo.com