Metaforatma

Abang-Abang Saka Wetan

Oleh : Eliyas Yahya

(Untuk 12 tahun BangbangWetan)

 

Alkisah ada sebuah warung kopi tanpa wifi di area Surabaya Timur yang tetap ramai karena kebaikan hati penjualnya, Mbok Yem; serta alasan utama, boleh ngutang. Di warkop ini banyak pemuda yang nyangkruk. Sekedar ngopi bersama, join rokok, atau hanya nunut istirahat setelah ngamen seharian berkeliling kota.

Di tengah obrolan mereka ada seorang nyeletuk mengenai semburat fajar, atau dalam bahasa Jawa dikenal idiom ‘abang-abang soko wetan’. Rokhim, pemuda yang sehari-harinya menjadi sales peralatan rumah tangga itu, kemudian bercerita.

“Kenapa ya, setiap orang kalau ingin berguru, selalu ke timur dari tempat asalnya. Contohnya orang Surabaya atau Jombang, belajarnya ke timurnya, Madura. Ada apa di wetan/timur itu?” ucap Rokhim kepada Radit, Joko, dan Solihin

“Loh timur memang pemancar cahaya, matahari saja memancarnya di timur, dan tenggelam di barat” jawab Radit, sambil menghisap rokok di tangannya

“Berarti barat adalah kegelapan dan menenggelamkan?” tanya Solihin

“Hahahaha, multiple choice koen,” tawa Rokhim pada Solihin

“Bahasa opo maneh iku” Solihin bingung

Multiple choice itu, kalau tidak A ya B. Kalau bukan itu ya ini. Kalau ini benar berarti itu salah. Multiple choice itu pemikiran yang sedang dibangun di pendidikan bangsa Indonesia, dan produknya ya kamu,” jawab Rokhim, sambil sesekali menghisap rokok

“Ah mbuh, aku dari dulu sekolah ya bolos terus, jadi nggak paham bahasa-bahasa gituan” jawab Solihin dengan raut muka bingung

“Kita kembali ke timur saja, ke abang-abang saka wetan, di Surabaya itu ada forum diskusi yang namaya BangbangWetan.  Acaranya seperti kita ini. Mulai setelah isya’ sampai menjelang subuh. Yang dibahas macam-macam. Ada sholawatnya, ada guyonny. Tapi yang jelas banyak ilmunya.” Ujar joko kepada teman-temannya.

“Loh di mana itu acaranya?” Radit rupanya tertarik.

“Kadang di Balai Pemuda, kadang di Cak Durasim. Ayo kalau ikut, aku sering ikut membuat ketagihan, bahkan rindu kalau lama tidak melingkar di sana. Bulan ini BangbangWetan sedang ulang tahun, kalau kita ke sana ayo berangkat lebih awal, bawa kacang dan kopi. Kita belajar di wetan, agar tidak ditenggelamkan oleh barat,” ajak Joko pada teman-temannya.

Oke wes, budaal,” jawab mereka serentak.

Obrolan terus berlanjut, sambil minum kopi, nyomot gorengan, dan tak lupa rokok yang terus berasap. Apa saja mereka bahas. Walaupun asal nggacor, hubungan mereka sangat erat, hubungan manusia sewarung kopi.  Berbeda dengan warung kopi lainnya, yang manusianya selalu menunduk memegang gawai sambil bermain game online. Tidak ada srawungisme atau obrolan asal nggacor seperti di warung kopi Mbok Yem, yang insya Allah akan menjadi pembantu umum Malaikat Ridwan bagian ngudek kopi dan membuat gorengan penghuni surga.

 

Eliyas Yahya :Jamaah Maiyah (bisa di sapa di Facebook dengan nama Eliyas Yahya)