Ini cerita bukan tentang seseorang yang pernah hidup di satu jazirah pada satu jaman. Secara bunyi, memang ada kemiripan. Tapi cobalah lebih lindap ketika kata kedua diucapkan: lahap . Ada unsur fonetik yang menjadikannya berbeda.

Ini tentang seseorang atau personifikasi orang per orang yang memenuhi nafsu makannya menjadi keistimewaan. Mereka yang hidupnya hanya agar ambisi apetite -nya terpuaskan.

Ia ada di segala tataran dan bidang. Dari skala gurem, sandal jepit hingga kaum terpelajar dan para pakar serta spesies di belakang meja pembuat keputusan dan kursi-kursi empuk yang menggariskan arah perjalanan satu bangsa, negara dan kehidupan global.

Kaum kebanyakan harus puas dan tak punya peluang selain menerima situasi yang sekedar “apa makan”. Namun Abu Lahap punya medan perangnya sendiri yang para jelata tak sanggup membayangkan. Karena tataran dan permainan mereka ada di ketinggian ” makan apa” dan “siapa lagi yang hendak dimakan”.

Baginya, tak ada lagi agenda menahan diri, menyisihkan, apa lagi berbagi. Karena tidak kunjung usai rasa lapar yang mereka rasakan. Kenyang adalah shelter pemberhentian sejenak sebelum perjalanan ke terminal lapar berikutnya.

Jangan tanya bagaimana mereka mematuhi Tuhan karena kelengkapan busana, perilaku dan ucapannya tak jarang menegaskan bahwa merekalah sejatinya ahli surga. Peribadatan yang mestinya adalah kamar rahasia pertemuan kita dengan Sang Pencipta menjadi ruang pamer tempat semua orang bisa melihat betapa ia adalah hamba yang militan. Tingkah seperti ini perlu dilakukan semata untuk mempermudah upaya mendapatkan dukungan dan permakluman. Hilirnya tetaplah sama; agar lapar tak sempat bersemayam.

Ini tentang seseorang atau personifikasi orang per orang. Secara kalkulatif ia atau mereka ada di luar sana namum jangan ingkari kemungkinan bahwa ia adalah saya sendiri atau anda. Di satu sudut UINSA di malam penghujung tahun ini kita perbincangkan itu semua.

 

[Tim Tema BangbangWetan]