Merdeka

Agustus Wannabe

” Bagi saya sendiri, satu hal yang saya tangkap dari Agustus adalah momentum atau ajal. Momentum mencakup waktu, situasi, dan kondisi yang tepat dalam melakukan sesuatu.”

 

Bagi kita masyarakat Indonesia, bulan Agustus selalu berbeda dengan bulan-bulan lain. Kemeriahan, kemewahan, dan gegap gempita mewarnai bulan yang tujuh puluh dua tahun lalu ditandai dengan dibacakannya Teks Proklamasi kemerdekaan  republik ini. Gencarnya ditandai oleh baliho-baliho ‘merdeka’ dengan background merah putih menghujani papan-papan reklame di kota besar. Karena memang papan rekalame, sisipan iklan, promosi, atau program diskon yang menggiurkan termuat di dalamnya. Kalau kita geser pandangan ke desa atau pemukiman dan perkampungan, kerlip lampu, aneka warna gapura, hingga janur kuning mewarnai setiap rumah. Bendera tegak berkibar dan umbul-umbul menjulang tinggi berderet di sepanjang jalan.

Fakta-fakta di atas masih menyangkut apa yang tampak. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang menjadikan warna tambahan bagi meriahnya Agustus. Mulai dari perlombaan olahraga hingga  permainan-permainan tradisional yang membuat anak-anak usia SD tergiur untuk mengikutinya. Catur, voli, dan gaple tak ketinggalan menjadi hiburan tambahan bagi para kepala keluarga. Baris-berbaris dan pawai budaya adalah hal yang paling ditunggu di lingkungan masyarakat desa. Puncaknya adalah tanggapan wayang yang salah satu acara utamanya adalah ajang pengumuman dan penyerahan hadiah. Bila secara acak ditanyakan kepada warga masyarakat yang mengikuti acara-acara tersebut, satu jawaban terbesar yang bisa kita dapatkan adalah untuk mensyukuri dan memperingati kemerdekaan

Bagi saya sendiri, satu hal yang saya tangkap dari Agustus adalah momentum atau ajal. Momentum mencakup waktu, situasi, dan kondisi yang tepat dalam melakukan sesuatu.

Teks proklamasi tak akan mungkin dipidatokan 72 tahun lalu tanpa momentum. Terkoyaknya Jepang karena bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Hiroshima dan Nagasaki adalah momentum peletup bagi tokoh-tokoh perjuangan ketika itu. Kemerdekaan memang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari sebelum peristiwa bom atom lewat BPUPKI, tetapi tanpa momentum itu mustahil BPUPKI yang kemudian bertransformasi menjadi PPKI berani membacakan proklamasi tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Momentum Agustus itu begitu berpengaruh dalam kehidupan saat ini. Bulan Agustus seolah-olah menjadi bulan gotong-royong dan bulan kerukunan antar masyarakat. Di bulan Agusutus-lah bermacam kegiatan dilakukan atas dasar dan semata hanya untuk ke-gotongroyong-an. Serbaneka perlombaan, kenduri kampung /barikan,  kerja bakti membersihkan dan mempercantik lingkungan, mebuat dan memasang umbul-umbul / penjor, semuanya dilakukan dengan tidak memerlukan alasan dan energi pendorong  selain semangat gotong royong dalam satu kubah tema besar bertajuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Praduga dan pada beberapa kasus telah menjadi kenyataan, selepas rangkaian acara “Agustusan” ini, berlalu pula nuansa gotong royong itu. Masyarakat kembali ke dalam kehidupan pribadinya. Pertemuan hanya sebatas sapaan dan lemparan senyum. Bantu-membantu dilakukan hanya kalau diminta. Sebagai satu bangsa, masyarakat lupa kembali kepada bilik sempit kehidupan personalnya

Di gelombang pasang kehidupan lokal yang kian tak terpisahkan dari pengaruh global ini, saya masih masih berkeyakinan bahwa orang Indonesia memiliki benih-benih kesadaran gotong royong yang tidak berpretensi apapun dan tanpa iming-iming hadiah. Salah satunya bisa dilihat di lingkungan desa dimana masih banyak masyarakat yang menjaga budaya sayan yakni membangun atau membongkar rumah secara bersama-sama. Tentu saja, benih atau embrio itu harus ditumbuhkembangkan. Dan merupakan kewajiban kita semua-lah perkembangbiakan embrio itu. Setidaknya di diri kita masing-masing.

Agustus Wannabe. Agustus harus menjadi arus, ia tak boleh tumus atau pupus.

 


Oleh : Danang Y Riyadi 

Penulis sehari hari bisa ditemui di twitter @DanangJunior