Kolom Jamaah

Al Qur’an; Tafsir dan Tadabbur

Oleh: Budi Rustanto*

RASA-rasanya sedikit terlambat menuliskan perihal Al Qur’an di penghujung sepuluh hari kedua Ramadan ini, setelah peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh di malam 17 Ramadan. Tapi seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Karena seperti halnya di sekolah-sekolah, poin keterlambatan tidak dituliskan dalam rapor.

Di negeri ini, berbicara tentang Al Qur’an tak bisa dilepaskan dari dua hal yang mengikutinya, yaitu terjemah dan tafsir. Jelasnya seperti itu karena bahasa ibu kita bukanlah bahasa Arab. Maka untuk bisa mengerti, dibutuhkan terjemah agar dalam membaca, kita bisa mendekati tombo ati yang pertama.

Patut diketahui bahwa Al Qur’an adalah ilmu pengetahuan berlapis-lapis. Bukan hanya memahami yang tersurat, tapi juga yang tersirat. Mengambil amsal 7 (tujuh) langit, terjemah bisa dimaknai sebagai langit pertama. Dan naasnya, segelintir orang yang berada di langit pertama itu cenderung meyakini bahwa ayat tekstual adalah makna final dari Al Qur’an. Banyak dari mereka menganggap langit pertama adalah pencapaian sesungguhnya. Padahal masih ada 6 langit lagi yang harus ditembus.

Untuk bisa menerjemah, tidak dibutuhkan terlalu banyak bekal. Asal mengerti dan memahami kaidah bahasa Arab, terjemahan bisa diselesaikan. Hal ini yang sedikit membedakan dengan tafsir. Untuk bisa menafsir, dibutuhkan ilmu yang lebih tinggi dari itu. Al Qur’an tak bisa ditafsirkan dengan sembarangan, di dalamnya terkandung banyak subliminal message. Terlebih jika tafsiran yang nantinya dihasilkan, diajarkan dan disebarluaskan serta digunakan sebagai pegangan bagi umat.

Untuk bisa menghasilkan tafsir, dibutuhkan bekal ekstra. Seperti yang dijelaskan Kyai Muzammil pada Bangbang Wetan April, setidaknya, kita diharuskan memahami dan menguasai 15 bidang ilmu yang di dalamnya terdapat Nahwu, Shorof, Balaghoh, hingga Asbabun Nuzul. Yang mana untuk mempelajari 15 bidang ilmu itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Di Indonesia, kita mengenal ketinggian ilmu Profesor Quraish Shihab yang terkenal dengan Tafsir Al Mishbah.

Tapi yang terjadi saat ini, tafsir-tafsir dibuat untuk mendukung kepentingan dan keuntungan pribadi atau suatu kelompok. Sedangkan tafsir yang tidak mendukung ditolak mentah-mentah, bahkan bisa jadi pihak yang memberikan tafsir berbeda akan dicap kafir, sesat, dan semacamnya. Tafsir-tafsir yang lebih mengedepankan kebencian dan kepentingan diri sendiri, dijejalkan kepada masyarakat sekitar.

Banyak dari mereka menggambarkan seolah-olah Allah adalah Tuhan dengan pedang di ‘kedua tanganNya’ yang siap menghukum para manusia yang tidak beriman, dan Islam adalah agama kekerasan yang hanya mengenal perang serta penghancuran. Al Qur’an yang ditafsirkan secara banal, akan berakibat semakin menjauhnya Islam dari fitrah. Padahal dalam Surat Al Fatihah, Allah berfirman bahwa DiriNya adalah Ar-Rahman Ar-Rahim hingga dua kali.

Kurangnya ilmu dan sempitnya akal serta hati—mungkin juga kurang kasih sayang—yang dibalut kesombongan dan berpusat pada ego dan nafsu diri, menjadikan Al Qur’an dimaknai dengan begitu dangkal. Padahal ilmu Allah yang terkandung dalam Al Qur’an laksana samudera tanpa tepi, sedangkan ilmu makhlukNya tak lebih banyak dari tetesan terakhir dari samudera ilmu itu. Jika hanya tafsiran-tafsiran Islam marah yang kita tunjukkan, Rahmatan Lil ‘Alamin-nya mana?

Karena sifat keilmuannya yang berlapis, tafsir tidak serta merta bisa menjadi pegangan mutlak bagi umat. Pernah dikatakan bahwa tafsir Al Qur’an itu sebanyak jumlah pemeluk Islam di dunia. Lantas tafsir siapakah yang dirasa benar? Hal ini yang sering kali menjadi penyebab perpecahan. Arogansi sektarian yang kita lihat di masyarakat cenderung untuk mencari siapa yang benar. Sedang kita dan mereka sendiri lupa untuk mencari apa yang benar. Dengan mencari apa yang benar, diharapkan kita tidak saling menyalahkan. Karena masing-masing dari kita berposisi sebagai pembelajar. Jika sesama murid saling mengisi rapor, maka perpecahan seperti yang terjadi sekarang ini tak bisa dihindarkan. Tak pula kita diperbolehkan memvonis tafsir A lebih benar daripada B. Padahal diri sendiri belum memiliki ilmu dan pengetahuan untuk menemukan Kebenaran yang hakiki.

Adanya segelintir umat yang memaksakan hasil tafsirnya kepada kelompok di luar mereka, membuat Islam semakin terpecah belah. Hal ini yang sewajibnya bagi keseluruhan umat Islam coba hindarkan. Rasulullah SAW dalam dakwahnya menyampaikan Kalamullah tidak didasari dengan pemaksaan dan mengafirkan, lalu, mengapa kita sebagai umatnya berani melakukan hal yang sebaliknya? Apakah kita merasa lebih baik dari Rasulullah SAW?

Maka untuk menghindari penyampaian seperti itu, kita perlu mempelajari hal baru dalam memahami Al Qur’an. ‘Konsep’ yang disebutkan di dalam Al Qur’an, tapi kurang begitu dimaknai dan dipahami bagi para pembaca maupun penghafalnya, yakni, tadabbur. Tentu saja tak ada pemaksaan di dalamnya. Dalam hal ini, tadabbur Al Qur’an berbeda dengan tafsir. Jika tafsir membutuhkan paling tidak 15 cabang ilmu, untuk tadabbur, kita bisa ‘hanya’ berbekal akal dan keadaan hati yang bersih.

Masih pada pembahasan Bangbang Wetan April , dikatakan tadabbur bersifat ‘amr bagi seluruh umat Islam. Hal ini terlanjur kurang dipahami dan diminati bagi sekalian umat. Umat hanya terpaku pada tafsir saja. Kebanyakan umat berlomba-lomba mempelajari ‘cara berpikir’ Al Qur’an menurut mereka, sedang kita melalaikan diri belajar cara berpikir Al Qur’an menurut Al Qur’an itu sendiri. Itulah mengapa dalam tadabbur dibutuhkan kondisi hati yang bersih. Agar kita bisa mengambil hikmah atau makna terdalam pada Al Qur’an, sehingga menghasilkan akhlaqul karimah seperti yang ada pada diri Rasulullah SAW.

Sebagai muslim yang berakal, tadabbur tidak hanya berhenti pada Al Qur’an saja. Sebab, ayat-ayat Allah yang tidak terangkum dalam Al Qur’an jauh lebih banyak. Adalah kita sebagai hamba bertugas untuk mengenali dan mengenalNya, sehingga tercipta pemberadaban. Bukankah untuk mencapai manusia Ta’dib, kita harus melewati serangkaian Ta’lim, Tafhim, Ta’rif, Ta’mil/Taf’il, serta Takhlis? Allahu A’lam.

 

Budi Rustanto:
Jamaah Maiyah yang berendah hati menyebut dirinya sebagai  sekedar pembelajar, bisa disapa melalui akun twitter : @boeingr