Kolom Jamaah

Allah Yang Hadir dan Ada; Episode Panjang Belajar Bersyukur

Oleh: Sunartip Fadlan

Suatu hari datang orang “gila” ke rumah saya yang bertempat di sebuah pojok, bersanding dengan pondok putri. Ia datang sambil teriak-teriak minta makan.

Segera saya berlari menemui isteri yang sembunyi-sembunyi ketakutan. Saya bilang: “Tolong sediakan makanan terbaik kita untuknya, gunakan piring ayah yang peninggalan mbah!”. Isteri saya menimpali, “Lha itu kan orang gila!. Rambutnya gimbal, korengan, pakaiannya compang-camping, dekil, ngomel ndak karu-karuan!”

Saya sangat kaget mendengar jawaban isteri. Hati saya menangis, batin saya menjerit, saya katakan pelan, “Siapkan dulu seperti ayah minta!, nanti ayah jelaskan.”

Maka istri pun menghidangkan untuk si “gila”. Rupanya ia tidak merasa kenyang, ia minta tambah lagi dan lagi, hingga hampir semua makanan hari itu tidak tersisa kecuali bagi anak kami yang pertama (saat itu baru satu).

Selesai makan ia ngawe-awe (memanggil) saya, sambil mengrapatkan jari tengah dan telunjuknya. Sebuah isyarat kalau ia minta–maaf–rokok.  Saya sambut, saya berikan yang ia minta, saya nyalakan di mulutnya. Mulutnya komat-kamit, lamat-lamat saya dengar ia mengucap alhamdulillah berkali-kali. Mata saya berkaca-kaca. Betapa ia yang dianggap “gila” bisa sangat bersyukur dengan sesuatu yang remeh, makan…dan sebatang rokok!.

Saya ciumi tangannya dan ia berlalu sambil nguro-uro mendendangkan tembang Jawa dengan suara lantang. Mendengar nadanya, saya menduga ia sedang menembangkan Maskumambang.

Saya langsung masuk kamar mandi yang posisinya ada di depan rumah. Saya nangis ngguguk-ngguguk. Betapa bodohnya saya terhadap kenikmatan yang selama ini dipanggil “ustadz”. Saya merasa sangat gagal mengolah rasa syukur dalam hidup. Terlalu banyak mengeluh dan terbilang cerewet dalam meminta. Isteri saya mendiamkan saya yang shalat taubat sambil terus menangis.

Ya Allah! Sungguh Engkau Maha Pengampun, ampunilah segala ketidak berdayaanku mensyukuri segala nikmatMu, apalagi nikmat iman-Islam ini.

ya Allah! terimakasih Engkau berkenan kirimkan wakilMu untuk menegurku. Apapun dan siapapun ia.

Ya Allah. Peliharalah segenap kerinduan dan kesyukuran ini atas hadirMu!

Saya yakin steri saya, tak perlu lagi saya terangkan, tahu alasan mengapa kami harus siapkan makanan terbaik dengan piring terbaik bagi si “gila”. Tidak mungkin ia datang sendiri ke rumah kami yang orang waras pun lumayan sulit menemukan, kecuali Allah yang mengutusnya.

Ponorogo, 10 Agustus 2013

Penulis adalah jama’ah Padhang mBulan dan pengasuh pondok pesantren mahasiswa Al Mutawakkil, Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published.