Kolom Jamaah

“…and His One Last Kiss”

Pengantar Minum Kopi:  “…and His One Last Kiss”
Oleh: Rio, NS

 

” Asal kata Sejarah itu dari bahasa Arab ”Sajaroh” yang mempunyai arti pohon. Kita perlu mengenal pohon, kesejarahan, untuk bisa merencanakan masa depan dengan baik. Untuk bisa mengenal pohon kita harus membedakan mana akar, pohon, batang, ranting dan daun… “

[Fathur Rozi]

memorium-pak-ndut

Apa yang istimewa dari seorang yang ikut memeriahkan perhelatan PB & BBW dengan dagangannya. Buku-buku, stiker, CD, kalender dan “peci Maiyah”, juga beberapa buku lain yang tidak berhubungan dengan kemaiyahan adalah pernik yang bisa dipastikan menjadi komplemen kedua perhelatan rutin itu. Tentu saja, rokok dan aneka minuman instan  serta kopi yang secara eksklusif diseduh sendiri oleh lelaki berbadan besar dengan sorot mata tajam yang sekilas bernada, “apa maumu?!”

Tapi sebentar, tak sesederhana itu ternyata. Gerai dengan banner bertajuk “Pojok Ilmu” itu jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sementara kita sebut sebagai “penggiat” dan tak jarang bersama keluarga mereka. Selalu saja ada tempat untuk para balita yang “dipaksa” kedua orang tuanya untuk ikut dalam acara semalam suntuk yang seolah ingin membantah teori jam biologis, irama metabolik dan siklus sikardian di ranah ilmu kedokteran.

Mari kita lanjutkan penelusurannya. Dari etalase yang oleh lelaki tambun itu sendiri disebut sebagai “peka-lima”, mengalir pasokan logistik bagi mereka yang bertugas di panggung utama. Kopi, jahe, kue-kue, air minum dalam kemasan hingga asbak beserta tissuenya mengalir di saat yang tepat kala kantuk dan penat menyergap para nara sumber dan pembicara utama.

Tak diragukan lagi, dialah Pak Ndut. Seorang laki-laki yang sungguh “Suroboyo” dalam ujaran, logat dan satunya hati dengan kata-kata. Dibanding teman-teman lain yang bersyukur bisa melakukan interaksi intens dengannya, kualitas hubungan saya dengannya terbilang biasa-biasa saja. Beberapa yang saya ingat adalah celoteh pedasnya atas lambannya kinerja lembaga zakat dan infaq bernama Sanabila. Sebuah lembaga yang dengan sentuhan kasih seperti ke anak kandung ikut beliau timang-timang di masa awal kelahiran hingga sekian tahun usianya.

Di rumahnya yang selalu hangat bagi siapa saja, kami pernah serius membuat kotak tabungan kecil dalam balutan program “Pundi Cinta Sanabila”. Kebanggaan, rasa memiliki dan cinta mati inilah yang membuatnya tidak segan menyampaikan pesan dengan nada tinggi atas apapun yang dianggapnya kurang berkenan menyangkut Sanabila.

Tak bisa disangkal, bapak dua puteri ini adalah orang sakti. Pernah dalam perjalanan ke Trenggalek dengan kendaraan roda duanya, sakit mata yang diderita waktu itu tidak kunjung sembuh. Maka dengan kebersihan hati dan kepasrahan, ditengadahkan kepala dan ia biarkan derasnya tetesan air hujan menghujam langsung ke kelopak, pupil sampai kornea. Walhasil, sembuhlah derita mata!.

Orang yang tidak jarang bisa melontarkan candaan-candaan segar ini punya kiat tersendiri untuk mengendalikan hipertensi dengan merutinkan makan cao / ekstrak daun cincao dengan menelannya mentah-mentah. Sungguh sederhana dan bentuk lain dari evident based medicine!

Dalam kelindan aktifitas saya bersama Bangbang Wetan, ada fase-fase dimana grafik menunjukkan lemah yang curam sekaligus panjang. Ini artinya, pertemuan, tatap muka dan interaksi personal dengan lulusan IAIN Sunan Ampel ini juga mengalami masa dormansi. Ketika lahir seorang anak laki-laki dari isteri saya, beiau adalah mereka yang pertama menjenguknya. Datang bersama keluarga, kabar yang diteruskan ke teman-teman adalah foto nomer kamar di rumah bersalin tempat pada akhirnya saya bertemu lagi dengannya.

Bukan pertemuan itu sebenarnya yang membuat tetesan air dari mata saya mengalir. Namun permintaan lirih isteri saya kepadanya untuk, “….sampean dongani, ya…” yang diikuti dengan adegan saat dimana anak saya diciumnya setelah komat-kamit bibirnya menyesakkan semesta ruang di dada kami. Hanya Tuhan ternyata yang bisa membuat skenario teramat manis itu, ciuman kasih itu adalah ciuman terakhir darinya…

*=  In memoriam seribu hari keberangkatan pak Ndut