Rahim

ANSWER: LOVE MYSELF – Menemukan Diri Melalui Jalan Fangirling

Oleh: RahmaPil

Menjadi perempuan, saking istimewanya selalu menjadi sorotan. Apa yang dikenakan, diucapkan, dilakukan, disukai, dibicarakan, diramaikan—semuanya tidak luput diperhatikan. Masalahnya, tidak semua bentuk perhatian itu sekadar kepedulian, tapi buruknya ada yang menjadi bahan cacian dan cara segelintir orang memuaskan ego mereka. Sebetulnya laki-laki pun juga menerima hal yang sama, tapi kenyataannya memang tidak sebanyak perempuan. Perempuan harus memenuhi banyak standar yang bahkan tidak ditetapkan oleh perempuan.

Delapan bulan ini saya memiliki identitas baru sebagai gadis penggemar atau akrab disebut “fangirl”. Istilah ini populer dalam Korean Pop atau Kpop. Meski sejujurnya sejak kecil saya sudah lekat dengan makna dari istilah itu, tapi fangirl memang menjadi istilah khusus yang nampaknya hanya akrab dengan Kpop. Menjadi seorang fangirl atau juga Kpoper ternyata tidak semudah ketika saya hanya menjadi penggemar musik budaya lain. Saya juga penggemar berat Westlife, Kodaline, Secondhand Serenade, dan Mayday Parade. Sentimen pada Kpop memang sangat terasa dibandingkan budaya musik barat. Bertahun-tahun saya menjadi penggemar dari empat grup band tersebut rasanya “aman-aman saja”. Sampai akhirnya saya kecemplung dalam dunia Kpop.

Tidak butuh waktu lama untuk saya mengukuhkan diri sebagai seorang fangirl. Sejak saat itu pula, saya merasakan seberapa besar sentimen yang diterima para Kpoper selama ini. Bukan rahasia lagi bahwa pelaku dunia hiburan di Korea Selatan selalu lekat dengan isu operasi plastik. Hal itu pun tidak mungkin tidak menjadi salah satu hujatan yang saya terima. Padahal tidak semua pelaku dunia hiburan melakukan operasi plastik seperti yang diisukan. Namun, itu tidak sama sekali menyurutkan rutinitas baru saya, membagi perjalanan fangirling saya di berbagai akun media sosial pribadi. Tentu saja semua orang yang mengenal saya selama ini lantas kaget dengan perubahan itu. Jangankan mereka, saya sendiri pun terheran.

Semuanya berawal dari penggalan lagu yang terdengar dari sebuah iklan ponsel ternama yang muncul di televisi dan ketika kemudian saya patah hati. Awal November, entah bagaimana tiba- tiba Tuhan mengenalkan saya dengan BTS, sebuah boy group yang digadang-gadang sebagai grup musik  terbesar di dunia saat ini. Tidak, saya tidak hendak membeberkan prestasi-prestasi dan perjalanan karir mereka karena menulisnya tidak akan cukup satu hari, hehehe. Saya tidak lagi begitu sanggup mengingat awal mencari tahu soal mereka. Yang paling saya ingat adalah ketika melihat video tingkah-tingkah lucu mereka, lalu saya tertarik mencari tahu masing-masing pribadi.

Beruntungnya mereka punya kekhasan dan keistimewaan masing-masing yang membuat saya mudah mengingat satu persatu wajah dan nama. Sebab, kalau kesulitan, mungkin saya akan menyerah dari awal.

Saya pun mulai menyukai mereka, mendengar lagu-lagu mereka. Sampai pada lagu-lagu yang bagi saya kini sangat istimewa, yang lewat lagu-lagu itu sepertinya Tuhan ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Terang saja, tidak lama kemudian saya menemukan pesan mendalam dalam pidato pemimpin grup itu, Kim Namjoon, pada sidang umum PBB “Generation Unlimited”, pada tahun 2018. Pesan yang menjadi bagian dari kampanye mereka bersama UNICEF sejak tahun 2017, “Love Yourself”. Pesan yang sangat sinkron dengan lagu-lagu juga tindakan mereka. Ya, Tuhan ternyata menegur saya agar saya mencintai diri sendiri dulu sebelum orang lain. Itulah alasannya saya menjadikan salah satu judul lagu mereka sebagai judul tulisan ini.

Tiga bulan setelah mengenal mereka, salah satu batu loncatan berhasil saya pijaki. Batu loncatan besar bagi saya. Tanggal dua Februari, saya meluncurkan sebuah buku berisi kumpulan puisi pendek berbahasa Inggris secara mandiri dan digital. Mungkin orang-orang yang tidak mengetahuinya akan terheran, apa hubungannya saya merilis sebuah buku dengan menjadi penggemar dari sekelompok laki-laki asal Korea Selatan itu? Saya akan tegas menjawab, bahwa merekalah pendorong terbesar saya berani mengambil tindakan itu.

Jujur saja, sebetulnya itu hal yang sangat nekat dan terlalu percaya diri. Menjadi percaya diri saja bagi saya sebelumnya sangat sulit, tapi dengan bantuan Bangtan (sebutan lain BTS) semua itu menjadi terasa mudah. Karena ketika kita mulai mengenali diri kita sendiri, kita akan mulai percaya dengan kemampuan dan kekuatan kita sendiri dan kita akan lebih mendengar suara dari dalam diri daripada kebisingan dari luar. “I do believe your galaxy, I want to hear your melody” adalah penggalan lirik dari lagu Magic Shop yang menjadi kunci pembuka keberanian saya, untuk keluar dari kegelapan saya sendiri.

Sebagian orang mungkin sempat tertawa saat membaca sub-judul yang saya berikan, “Menemukan Diri Melalui Jalan Fangirling“. Rasanya aneh dan mungkin layak diragukan, ada orang yang menemukan dirinya hanya berawal dari suka Kpop. Nyatanya itu benar terjadi pada saya dan banyak orang. Mereka telah menunjukkan pada saya bahwa saya seharusnya mencintai diri saya, sebelum hal-hal lain di luar saya.

Perjalanan mengenal diri sendiri sebelumnya memang sudah pernah saya coba cari sendiri jauh sebelum mengenal BTS, tapi saya masih sangat jauh dari kata berhasil. Sampai akhirnya saya merasa telah dibantu oleh mereka, salah satunya melalui teori Peta Jiwa yang dicetuskan oleh Carl Gustav Jung, seorang murid Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis. Hal itu mengembalikan ingatan saya ke tahun 2014, saat saya pernah berambisi menjadi seorang mahasiswa Psikologi. Namun, saya gagal dan akhirnya saya temukan jawabannya sekarang. Peta Jiwa atau Map of The Soul adalah judul buku Dr. Murray Stein yang merupakan seorang Jungian. Buku tersebut yang menginspirasi BTS dalam album Map of The Soul: 7, yang kemudian juga ikut menuntun saya untuk mempelajari peta jiwa saya sendiri. Bahkan itu adalah salah satu PR saya yang masih saya tuntaskan hingga hari ini.

Tidak hanya buku puisi, enam bulan setelah menjadi seorang BTS ARMY, saya memberanikan diri atau nekat membuat Suaruni. Sebuah podcast yang saya olah sendiri dengan segala keterbatasan yang ada dan kemampuan yang saya miliki. Bahkan, saya sangat sadar banyaknya kekurangan jika saya sibuk membandingkan dengan podcaster lainnya. Namun, BTS mengajarkan saya untuk fokus pada diri saya daripada milik orang lain, sehingga saya tidak sibuk memikirkan semua kekurangan itu dan berakhir dengan tidak memulai apa-apa. Melainkan, tetap mengusahakan semampu saya, mengeluarkan upaya terbaik, dan terus berlatih.

Pada  bagian akhir tulisan ini, mungkin ini  sedikit  pesan bagi orang-orang yang  masih suka memberi label negatif pada seorang Kpoper. Bahwa kami tidak minta kalian untuk menyukai yang kami suka, sama sekali tidak. Kami cuma ingin agar tidak mendapat diskriminasi hanya karena menyukai Kpop dan tidak mendapat standar ganda, sedangkan kalian sendiri juga punya kesukaan yang tidak pernah kami usik, bukan!? Bahwa kami juga sama seperti para fandom lain, penggemar bola, film atau karakter tertentu, dan sejenisnya. Bahwa saya juga tidak perlu repot membeberkan kegiatan kemanusiaan apa saja yang sudah kami lakukan selama ini untuk mendapat respek yang sama dengan manusia lainnya.

Terakhir, bagi saya mengenali diri sendiri memang merupakan pengalaman spiritual yang eksklusif. Maksudnya setiap jiwa memiliki perjalanannya masing-masing, yang tidak akan pernah sama dengan yang lain. Termasuk dengan cara apa mereka akhirnya memulai perjalanan itu. Kunci apa yang membuka pintu untuk keluar dari kegelapan diri. Seperti saya, yang bahkan saya sendiri juga terkadang masih tidak menyangka sampai hari ini.

Runindaru, seorang BTS ARMY, yang saat ini sedang menyibukkan diri dengan tulisan dan membangun podcast Suaruni. Tulisan-tulisannya bisa dijumpai di akun media sosial dan halaman blog ataupun platform pribadinya. Ia juga bisa disapa melalui akun twitter @RahmaPil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.