Mata Air

Antara Tafsir dan Tadabbur

Antara Tafsir dan Tadabbur
Oleh: Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad)
Terbit di BMJ (Buletin Maiyah Jatim): Bulan FEBRUARI 2016

tafsir dan tadabburPerintah Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah iqra`- bacalah!. Termasuk di dalamnya membaca Al-Qur`an yang sering disebut sebagai ayat-ayat qauliyah. Membaca Al-Qur`an bermacam-macam bentuk dan tingkatannya.

Ada membaca Al-Qur`an lit-ta’abbud semata-mata sebagai ibadah, yang tanpa memahami maknanya pun sudah mendapatkan pahala. Kemudian membaca Al-Qur`an untuk memahami maknanya, memahami pesan-pesan Allah di dalamnya.

Ada ayat-ayat yang begitu jelas dan tegas maknanya, dan dengan mudah ditangkap pesannya. Misalnya, firman Allah “qul huwallahu ahad” (Katakanlah, Dialah Allah yang Esa). Makna dan pesan ayat ini sudah jelas bagi siapa pun yang membacanya. Tapi ada juga ayat yang untuk memahami maksudnya diperlukan penjelasan. Penjelasan itu bisa dari ayat lain dalam Al-Qur`an, bisa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bisa dari para sahabat yang hidup semasa dengan Nabi, bisa juga dari pemikiran manusia. Ini lah yang kemudian disebut dengan tafsir.

Sebagai contoh, ayat ihdina ash-shirâtal mustaqîm (tunjukilah kami jalan yang lurus). Frasa ash-shirâtal mustaqîmmasih menimbulkan pertanyaan bagi pembaca, oleh karena itu dijelaskan oleh ayat sesudahnya shirâthal ladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdhûbi ‘alaihin waladh-dhâllin (jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat). Siapa orang yang dimurkai dan orang yang sesat, masih menjadi pertanyaan bagi para sahabat, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan “yang dimurkai adalah kaum Yahudi dan yang sesat adalah umat Nasrani”.

Ketika Allah bersumpah dengan menyebut “wat-tîn, waz-zaitûn, wathûrisînînwa hâdzal-baladil amîn”, Ibnu Abbas tokoh tafsir dari kalangan sahabat menjelaskan bahwa at-tînwaz-zaitûn (pohon Tin dan Zaitun) adalah simbol dari Nabi Isa (agama Nasrani). Thûrisînîn(bukit Tursina) adalah simbol dari Nabi Musa (agama Yahudi). Sedangkan hâdzal-baladil amîn(negeri yang aman yaitui Mekah) adalah simbol dari Nabi Muhammad (agama Islam). Setelah lewat masa Nabi dan para sahabat, lahirlah tafsir-tafsir baru berdasarkan pemikiran manusia yang menambah luasnya cakrawala pemahaman terhadap teks-teks Al-Qur`an.

Di dalam Al-Qur`an tidak ada perintah secara eksplisit untuk menafsirkan Al-Qur`an. Yang ada justru perintah untuk tadabbur Al-Qur`an. Sebagai contoh dalam surat Muhammad ayat 24 {Maka Apakah mereka tidak mentadabbur Al Quran ataukah hati mereka terkunci? Muhammad}.Dalam berbagai terjemahan Al-Qur`an bahasa Indonesia, tadabbur diartikan “memperhatikan”.

Namun dalam pengertian yang lebih dalam, tadabbur tidak sekedar memperhatikan tapi merenungkan secara mendalam atau melihat jauh kebelakang yang tampak. Kalau tafsir pada umumnya membedah internal teks, yaitu menjelaskan makna ayat, menganalisis huruf, kata, kalimat, melihat konteks, asbabun nuzul, hubungan antar ayat. antar surat, dan sejenisnya. Maka tadabbur melihat apa yang ada dibelakang teks, dibalik teks, behind dan beyond the text.

Tadabbur dengan demikian memiliki beberapa dimensi, antara lain sebagai berikut. Pertama, tadabbur tidak berhenti pada makna hakiki, makna lahiriah, tapi menembus ke makna majazi, makna yang tersembunyi. Dimensi ini melahirkan istilah ta`wil yang pada perkembangan terakhir menjadi bagian dari ilmu tafsir.

Kedua, tadabbur membawa ayat Al-Qur`an ke dalam relalitas eksternal, atau kehidupan nyata pada setiap zaman. Sebagai misal, ketika membaca kisah-kisah Al-Qur`an mengenai kaum ‘Ad, Tsamud, Ashhabul ukhdud dan lain-lain yang dibinasakan oleh Allah; sementara tafsir sibuk dengan penjelasan mengenai data-data waktu, tempat, asal usul dan rincian peristiwa, maka tadabbur mencari inti pesan dari kisah-kisah tersebut  dan membawanya ke dunia nyata saat ini, untuk menjadi pelajaran. Dengan demikian, Al-Qur`an benar-benar berperan sebagai pelita yang membimbing manusia ke jalan keselamatan.

Ketiga, tadabbur membawa pembaca Al-Qur`an kepada perenungan individual. Setiap ayat yang dibacanyadirasakan seperti baru turun dan ditujukan kepadanya. Ketika membaca ayat “innamal mu`minûna ikhwatun” {sesungguhnya orang-orang beriman itu mesti bersaudara}, segera bertanya kepada diri sendiri “sudahkah aku mengamalkan persaudaraan dengan saudara-saudara seiman”?

Ketika menyimak ayat “alam ya`ni lilladzîna âmanû an takhsya’a qulûbuhum lidzikrillâh”{belum tibakah saatnya bagi orang-orang beriman untuk tunduk khusyu’ mengingat Allah?}, tergerak hatinya untuk melakukan muhasabah, dan segera menyadari kelalaiannya selama ini, maka tidak lagi menunda-nunda waktu untuk lari menuju Allah, dan melepaskan keterikatan dengan dunia yang selama ini membelenggunya.

Maka tadabbur adalah salah satu bentuk interaksi dengan Al-Qur`an yang sangat penting untuk digalakkan pada masa sekarang ini. Setelah memahami sekedarnya makna suatu ayat, dengan bantuan tafsir atau terjemah, setiap muslim dapat melakukan tadabbur. Dengan demikian, Al-Qur`an menjadi fungsional bagi seorang muslim.

Oleh: Ahmad Fuad Effendy (Cak Fuad)