Ashabul Kursi di Meja Dadu bernama Pemilu

 

Hari ini (Rabu, 17 April 2019) seluruh rakyat Indonesia menggunakan hak pilihnya yang akan menentukan komposisi lembaga eksekutif dan legislatif. Satu perhelatan besar bertajuk Pemilihan Umum.

Dua hari yang lalu, forum BangbangWetan yang sudah 12 tahun lebih mewarnai ruang publik di Surabaya, melaksanakan forum rutinan yang kesekian kali di Gedung Cak Durasim. Dengan mengangkat tema Ashabul Kursi, dialektika diskusi malam itu mengeksplorasi diskursus-diskursus baru mengenai kepemiluan. Satu diantaranya adalah menyoroti bagaimana konstruksi informasi yang tidak mencukupi dalam pertimbangan seorang konstituen. Tidak cukupnya informasi ini ibarat melempar dadu di meja judi. Informasi kontekstualnya adalah bahwa informasi yang berkualitas dan adekuat mengenai kandidat belum tersedia. Sebaliknya, informasi ada hanya bersifat pencitraan dan kebutuhan elektabilitas saja.

Perspektif lain yang mengemuka pada forum egaliter dua malam lalu adalah perbincangan tentang “kursi” atau kekuasaan. Terjadi perbincangan bahwa kursi atau kekuasaan datang sebagai satu paket utuh dengan tanggung jawab yang menyertainya.

Di saat rakyat memiliki informasi mengenai hal-hal krusial di atas, rakyat bisa membangun preferensi mengenai kualifikasi kandidat yang dibutuhkan untuk mengemban tanggung jawab yang menyertai “kursi” atau kekuasaan; sebuah posisi dan kedudukan yang mestinya bermakna amanah.

Di sinilah ditemukan pentingnya kemampuan untuk menata dan membangun konstruksi informasi yang diperlukan untuk membentuk apa yang disebut oleh Komisi Pemilihan Umum sebagai pemilih yang berdaulat. Maka, seluruh upaya atau rekayasa sosial dalam manajemen informasi kepemiluan ini menemukan urgensinya. Untuk menumbuhkan dan melatih kemampuan pemilih mengerjakan proses kurasi dan validasi informasi yang benar-benar penting dan dibutuhkan untuk memilih.

Hadirin, yang meleburkan diri sebagai Jamaah Maiyah, malam itu pulang dari forum BangbangWetan dengan bekal konsideran dan perspektif yang baru dan segar. Bekal mendasar yang pasti dibutuhkan ketika melaksanakan kewajibannya sebagai pemilih di bilik TPS 17 April hari ini. Meskipun mungkin tidak berpengaruh banyak pada output Pilpres dan Pilleg, namun bukan tidak mungkin pada 2024 nanti–ketika konstruksi konsideran bergeser lebih rasional dan logis–akan membawa angin segar kepemiluan. Menjadikan pemilu berintegritas yang dicita-citakan menjadi kian dekat perwujudannya.

Dalam masa tenang setelah kampanye yang bising; forum publik selayaknya BangbangWetan yang mandiri dan otentik, kritis namun terukur adalah sebuah oase di jalan panjang kehidupan metropolis serta gemuruh dinamika kehidupan berbangsa, bernegara pula.