Ashabul Kursi

 

Periodisasi sejarah tentang merebut dan mempertahankan kekuasaan, selalu menjadi garis tegas sebuah peradaban. Sejak 2,5 juta tahun lalu, perkembangan sistem bertahan hidup yang dilakukan oleh hominid purba, neanderthal, sampai Homo Sapiens terus mengalami perubahan iklim berpikir.

 

Perubahan inilah yang nantinya menghasilkan perilaku sosial dalam melahirkan sebuah sistem kekuasaan. Sistem dan mekanisme yang unik bagi masing-masing negara dalam mengatur dan menentukan siapa pengambil kebijakan di antara mereka.

 

Catatan tentang pergantian kursi kepresidenan Indonesia cukup menarik untuk diamati. Terjadi 7 kali pergantian dalam 11 kali pemilihan umum dengan nuansa, latar belakang, dan situasi yang serbaneka.

 

Demokrasi sebagai ide besar yang menjadi pilihan para perumus rancang bangun negara kala itu melahirkan dua hal. Pertama, konsep perwakilan dan, kedua, kondisi dimana rakyat harus “meminjamkan kursi” kedaulatan mereka. Kedua hal inilah ditambah naluri badaniah manusia yang menjadi awal sekaligus sebab musabab bagi kepincangan kronis dan sakit berkepanjangan yang masih berlangsung dan sangat kasat mata.

 

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kursi keterwakilan itu dirawat kesempurnaan amanahnya? Siapa sih mereka yang menjajakan diri untuk bisa mendapat keistimewaan menduduki kursi itu? Apa saja output dan dampak ikutan bagi rakyat sebagai pemilik kursi setelah mereka ikhlaskan kedaulatan kepada wakilnya di ranah eksekutif dan legislatif?

 

Merujuk pada referensi tertinggi kita, sejatinya tidak satu pun makhluk yang berhak atas singgasana kekuasaan atas dan terhadap makhluk lainnya. Bacalah pernyataan Tuhan di surat Al Baqarah ayat 255 yang menegaskan bahwa, “…Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah maha tinggi lagi maha besar.

 

Dua hari ke depan, sebagai manifestasi tarekat kepedulian terhadap Indonesia, akan ada satu kegiatan dimana kita dipersilakan memilih kepada siapa kursi kedaulatan kita titipkan. Bekal untuk memasuki acara itu sudah diberikan Mbah Nun. Partisi besarnya adalah ‘supaya bangsa ini bukan hanya bisa memulai kembali belajar memilih pemimpin nasional. Tapi juga belajar memerdekakan diri dari klenik, mitologi, dan cinta babi buta, yang semakin tidak belajar semakin akan membunuh bangsa ke depan’. [Mbah Nun, Reformasi NKRI, Pemimpin #71].

 

Berharap temu bulanan kita di BangbangWetan April ini kian membulatkan pilihan. Sehingga Ashabul Kursi yang duduk selama lima tahun ke depan adalah mereka yang terus terjaga dalam kesadaran akan sangkan paran.

 

[Tim Tema BangbangWetan]