Atlas Indonesia Terkini

Oleh: Rio NS

 

Dinamika adalah keniscayaan hidup. Seorang Maha Guru pernah berujar, “Hidup adalah aliran yang bergetar dan getaran yang mengalir”. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perubahan, transformasi, dan pergeseran akan terus terjadi baik dalam bentuk yang linier maupun siklikal. Linier bila apa yang kita lihat sebagai gejala adalah hal-hal baru bagi sensor keindraan. Siklikal ketika kehadiran sesuatu tertangkap sebagai perulangan atas apa yang ada di fase lampau—dengan derajat kemiripan yang serbaneka.

Hal sama terjadi di negeri tercinta, Indonesia. Dari kecipak riak hingga gelombang dahsyat pernah mendera bahtera kebersamaan kita sebagai satu bangsa. Bahwa perahu bercadik yang bermuatan limpahan kekayaan alam itu bertahan hingga hari-hari kemarau tahun ini, nampaknya lebih sebagai fenomena bahwa Tuhan masih menjalankan laku puasa-Nya. Karena pilihan Dia untuk berbuka bisa berarti akhir dari ribuan rencana-rencana manusia.

Siklus lima tahunan di kehidupan bernegara telah terlewati. Bersamanya ada banyak perolehan yang bisa dicatat. Perolehan itu menyangkut catatan-catatan fakta, yang kalau dipikir ulang sama sekali bukan barang baru. Apa yang kita saksikan kemarin dengan mudah dapat kita temukan di peristiwa sama beberapa tahun lalu. Proses alienasi, penggumpalan dukungan, perumusan pakta, dan kesepakatan, tajamnya polarisasi dan ratusan varian latar belakang serta ekspresi dukungan adalah beberapa unsur utama yang warnanya kurang lebih senada dari masa ke masa.

Spesifik dari dua pilpres terakhir, populer kembali istilah lama yang sudah sangat dikenal masyarakat kita; Cebong dan Kampret. Cebong, lengkapnya kecebong, merupakan sebutan bagi anak-anak katak yang masih dalam fase kehidupan air sebelum bermetamorfosis menjadi makhluk amfibi. Hidup di darat yes, di air pun no problem. Istilah ini disematkan kepada kelompok pendukung fanatik Jokowi. Proses penamaannya sangat sederhana karena Jokowi memfavoritkan katak dan memelihara sejumlah binatang pemangsa nyamuk itu di halaman istana.

Sedangka Kampret adalah kabilah yang secara mendalam mencintai dan sepenuhnya mendukung Prabowo. Kata yang merupakan nama binatang malam sebangsa kelelawar pemakan buah-buahan ini muncul dari penyederhanaan sebutan atas KMP (Koalisi Merah Putih) yang kemudian digabungkan begitu saja “KMP…ret”. Sesederhana itu! Dengan kata lain, tidak usah menyibukkan diri dengan menelusuri makna filosofis atas keduanya.

Sebutan bernada cemooh juga diberikan kepada Jokowi dan Prabowo. Bekas Walikota Solo yang berangkat dari keberuntungan sejarah sebagai pengrajin mebel ini sendiri mendapatkan sebutan Jokowi dari mitra kerjanya yang asli orang Jerman. Nama Jokowi diberikan si bule untuk menjadikan rekan bisnisnya itu punya nama keren berbau Eropa Timur. Beberapa panggilan dengan sebelah mata untuk Jokowi antara lain Mukidi, Bang Jae, To’ing, serta Wiwi. Terkait Wiwi ini, Prabowo hanya punya satu sebutan yakni Wowo.

Kalau muncul pertanyaan mengapa Jokowi memiliki lebih banyak sebutan? Saya persilakan ketajaman rasa dan analisis Anda memberikan jawabannya. Tulisan ini sungguh dibuat untuk keperluan reportase dan bukan dimaksud sebagai kolom yang bermuatan opini dan keberpihakan. Hohoho…

Lalu setelah “pesta demokrasi” dijalankan–dengan catatan duka atas hilangnya nyawa lebih dari 500 panitia penyelenggara—di manakah kini kedua spesies itu berada? Masih adakah Cebong? Tetap hidupkah Kampret?

Masih ada, lho. Diplomasi eM eR Te yang berlanjut dengan santapan sate Senayan memang kenyataan yang berat bagi kedua belah pihak. Cebong bertanya-tanya, Kampret jatuh di kubangan air mata. Sebagaimana hidup yang dinamis, terhadap fenomena itu, Cebong kini dikenal sebagai Togog sedang Kampret lebih sering disebut sebagai Semar. Kedua tokoh pewayangan ini diberikan kepada mereka karena saat makan sate bersama, Lukisan dibelakang kedua tokoh itu menginspirasi penyebutan. Jokowi duduk berlatar belakang lukisan Togog dan Prabowo menduduki kursi di mana gambar Semar ada di dinding belakangnya.

Berkenaan dengan adegan dramatis di MRT dan kedai sate beberapa hari lalu, saat ini tengah terjadi segmentasi Kampret. Setidaknya, ada tiga percabangan di dalam tubuh Kampret. Masing-masing adalah Kampret Idealis, Kampret Loyalis, dan Kampret Realis. Penjelasan singkat dari ketiganya adalah Kampret Idealis merupakan mereka yang teguh mengusung nilai-nilai perjuangan bagi segala apa yang menjadi kelemahan dan tidak didapatkan dari Jokowi. Kaum puritan ini mempersilakan Prabowo untuk memilih jalan rekonsiliasi dengan kubu 01 sementara mereka (bersama barisan ulama) akan meneruskan jalan menuju tatanan baru. Sementara Kampret Loyalis adalah para pecinta buta yang menganggap tindakan Jokowi menjalin komunikasi dengan petugas partai dan “The God Mother” sebagai langkah strategis yang sangat tepat. Sehingga untuk itu—dan apapun langkah Prabowo—harus tetap didukung sepenuh jiwa raga. Terakhir, Kampret Realis. Sempalan ini adalah Kampret loyalis yang lebih rasional. Mereka memilih sikap wait and see­ untuk tetap mendukung atau berpaling dari Prabowo. Kalau pernyataan Rocky Gerung benar bahwa Prabowo tak lebih sebagai seorang “dealer” dan bukan lagi “leader” maka tindakan selanjutnya adalah “Selamat tinggal, Prabowo”.

Cebong mutan ataupun Kampret dengan berbagai varian adalah produk nyata dari polarisasi hasil pemilu 2014 dan 2019. Dalam konstelasi sosio-politik Indonesia mutakhir, tentu saja masih ada golongan lain yang secara nyata mewarnai dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan kita bersama. Namun setidaknya, sedikit gambaran di atas adalah atlas terkini Indonesia, yang mau paham atau tidak, swear, itu terserah Anda. Selamat berakhir pekan!

 

Rio N. S, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.

—000—