Rahim

Baba

Oleh: Nafisatul Wakhidah

Musim gugur, bulan Oktober 2019, sekitar pukul tujuh malam seorang pasien laki-laki membunyikan bel. Sebuah tanda bagi kami para perawat bahwa pasien tersebut membutuhkan pertolongan. Seperti biasa para siswa di sini yang dituntut lebih sigap untuk pergi menemui pasien lebih dahulu sebelum Perawat Bangsal menemuinya. Saat itu, kebetulan saya masih siswa kesehatan dan keperawatan tahun kedua yang ditugaskan di Bangsal Bedah Viszeral/Station Allgemeine Viszeralchirurgie dan bertugas jaga siang dari pukul 1 hingga 9 malam.

Pasien tersebut dalam tulisan ini akan lebih sering saya sebut beliau dengan Baba. Sebutan khas Ayah bagi keturunan Turki dan beliau memang orang Turki yang sudah lama tinggal di Jerman. Putra dan keluarganya silih berganti menjenguk, membawakan keperluan Baba setiap hari. Seperti pagi sebelumnya, kulihat kedua anaknya mencium pipi dan kening Sang Baba sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.

Ternyata beliau membutuhkan sedikit air minum dan minta diperbaiki posisi berbaringnya. Hari sebelumnya, beliau baru saja menjalani operasi Ileus dan masih kesulitan serta kesakitan untuk bisa melakukannya sendiri. Terlihat di meja kecil pasien buku kecil, tertera di sana 99 Asmaul Husna dalam bahasa Arab dan Turki. Dalam kondisi sakit pula beliau masih melakukan sholat.

Pukul 20.17, alarm berbunyi lagi. Saya pun bergegas datang ke sumber alarm, yang tak lain dari kamar Baba ini. Si Baba pelan dan samar seperti membaca syahadat dan mau tidak mau saya ikut mengiringinya di samping suara parau beliau. Saat itu saya merasa beruntung karena satu-satunya  muslim yang bertugas dan kebetulan bisa membersamai dalam momen itu. Dan bahkan beliau sampai mengucap tiga kali. Sepertinya beliau sudah begitu siap untuk bertemu Tuhan, Sang Kekasih Sejati. Setelah semua kebutuhannya terpenuhi, saya pun kembali pada kolega lain yang di waktu yang sama sedang melakukan penyerahan shift (übergabe) dari Perawat Jaga Siang ke Perawat Jaga Malam.

Malam pun berselang. Setelah hari sebelumnya Jaga Siang, kebetulan hari selanjutnya juga masih Jaga Siang. Saat übergabe dari perawat pagi ke perawat siang menceloslah hati saya ketika tiba pada nama Baba. Baba yang kemarin dibersamai saat membaca syahadat, ternyata itu merupakan syahadat terakhirnya, karena malam itu pula beliau sudah langsung kembali keharibaan Sang Pencipta dan tenang menghadap-Nya. Air mata pun tak tertahankan, apa yang menjadi feeling saya kemarin malam benar-benar terjadi.

Baba, pasien pertama saya yang meninggal dalam masa studi ini. Meskipun hanya beberapa hari merawat dan bertemu beliau, saya yakin Baba orang yang sangat baik. Beliau benar-benar sudah berhasil menegakkan syahadat hingga di akhir nafasnya. Saya merasa sangat kerdil, membayangkan bagaimana kondisi akhir hayat hidup saya nanti. Apakah saya juga akan mampu mengucap dua kalimat syahadat di ujung napas seperti beliau?

Setiap yang hidup pasti akan merasakan kematian, begitulan hukum kehidupan yang berlaku. Pasien pertama yang meninggal saat masa penugasan tak akan pernah terlupakan. Meski pertemuan sangat singkat, terima kasih telah mengajarkan saya banyak hal. Sakit njenengan telah usai, Baba. Titip salam rindu kagem Gusti Pangeran kaliyan Kanjeng Nabi, nggih. Selamat jalan Baba….

Bayern, 17.02.2022

Penulis adalah Jamaah Maiyah yang sedang diperjalankan di Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *