Oleh: J. Rosyidi

 

Manusia diciptakan dengan fitrahnya. Fitrah mengenali Allah sebagai Rabb-nya. Tuhan yang menjaga segenap alam semesta. Tuhan yang mengendalikan segala gerak, baik yang tampak maupun yang tersamar. Dari skala subatomik hingga skala galaksi.

Namun fitrah tersebut bisa saja tidak tumbuh, atau malah rusak karena kondisi di sekelilingnya. Maka sebagai orang tua, tugas kita adalah menjaga dan menumbuhkembangkan fitrah pada anak. Sebagaimana bahasan yang lalu-lalu.

Makrifatullah, pengenalan terhadap Allah adalah fondasi dasar hidup kita sebagai hamba. Dengan makrifatullah kita bisa menjadikan segala laku kita sesuai dengan garis yang telah ditentukanNya. Sesungguhnya salatku, amal ibadahku, bahkan hidup dan matiku, semuanya lillah, untuk Allah.

Oleh karena itu, sepatutnya sedari dini kita mengenalkan Allah kepada anak-anak kita. Bukan mengenalkan Allah dengan bahasan yang njelimet tentunya. Mengenalkan Allah sesuai dengan logika serta kemampuan berbahasanya.

Kalau kita mendaras Alquran, yang diajarkan Allah kepada Adam a.s. adalah “asma”: nama-nama benda. Maka kita pun bisa mengenalkan Allah melalui pengenalan nama-nama benda di sekitar kita. Misalkan ketika kita mengenalkan kursi, maka kita bisa melengkapi dengan narasi seperti ini misalnya, “Ini namanya kursi, Nak! Allah memberikan manusia kemampuan untuk membuatnya.”

Ketika memperkenalkan kendaraan, mobil misalnya. Kita pun bisa memberikan narasi yang mengaitkannya dengan peran Allah. “Ini namanya mobil. Jenis kendaraan beroda empat. Allah menganugerahkan manusia akal sehingga mampu merancang mobil dan berbagai kendaraan yang lain.”

“Lihatlah itu namanya gunung. Allah menciptakannya sebagai pasak bumi”. “Nak, coba lihat bintang gemintang. Indah bukan? Allah menjadikannya sebagai penghias langit”. Kalau mau didaftar satu-persatu tentu tidak akan cukup. Itu hanyalah sekelumit contoh. Tentu ayah-bunda bisa melakukan narasi yang jauh lebih indah.

Pada prinsipnya, meskipun anak belum mengerti benar, tapi mendengar kata “Allah” secara berulang dan terus-menerus, tentu lama-lama akan membekas dalam ingatan anak. Sehingga anak mampu menyadari keberadaan Allah dalam setiap fenomena yang dilihat, didengar, dan dirasakannya.

Kalau kemudian kita membaca dan merenungkan surah Annas, Allah mengenalkan dirinya dengan tiga term. Rabb, Malik, dan Ilah. Rabb berarti penjaga atau pelindung. Malik berarti raja atau pemilik. Dan Ilah berarti Tuhan atau sesembahan, yang disembah. Nah, ketiganya bisa mewakili fase pembelajaran terhadap Allah pada putra-putri kita.

Fase pertama adalah mengenalkan Allah dengan sifat rahman-rahimnya. Di fase-fase awal perkembangan anak, “bahasa” kasih sayang akan direspons maksimal oleh anak.  Meski Allah pun menyifati dirinya sebagai “yang memiliki azab yang pedih”. Namun sifat yang seolah kontradiktif, sebagai lawan sifat kasih sayangnya dikenalkan ketika anak sudah memahami hubungan sebab akibat.

Bisa jadi, karena didorong rasa terima kasih serta keingintahuannya, anak pun akan sangat mungkin bertanya di mana Allah? Seyogianya kita mengalihkan pertanyaan tersebut. Kita kenalkan Allah melalui ciptaanNya. Karena ada larangan dari nabi untuk memikirkan dzat Allah. “Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati.”

Nah, untuk fase kedua dan ketiga akan kita jadikan tulisan mendatang ya…

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi