Oleh: J. Rosyidi

Setelah anak dikenalkan betapa Allah sangat Rahman dan Rahim sebagai bagian dari sifat rububiyah-Nya, fase selanjutnya adalah mengenalkan Kemahakuasaan-Nya. Allah sebagai Malik, Maha Raja Alam Semesta.

Narasi fase ini hendaknya sejalan dengan perintah, “Iqro’ bismirobbikal ladzi kholaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan”. Maksudnya bagaimana? Membaca ciptaan-Nya, mengamati dan meneliti. Tentu dengan percobaan-percoban sederhana yang bisa dilakukan di rumah dan mudah dipahami oleh anak.

Tujuannya apa? Membangun konsep pemahaman adanya hubungan kausalitas atas realitas atau fenomena yang terjadi di alam. Jangan bayangkan yang terlalu “wah”, tapi, mulailah dari realitas yang mampu dijangkau anak terlebih dahulu. Misalnya, dengan melakukan penelitian atau percobaan terhadap hal-hal di sekitar lingkungan keluarga.

Penelitian bisa dimulai dengan mengenalkan siklus air kepada anak dengan percobaan sederhana; rebus air dengan panci tertutup. Setelah mendidih, tunjukkan uap air yang menempel di tutup panci bagian bawah. Dengan sedikit mengubah cara, bisa kita dinginkan tutup pancinya, lalu kita kenalkan mereka kepada embun. Mendiamkan air di dalam freezer-pun bisa dijadikan pilihan.

Orangtua bisa juga mengenalkan sifat-sifat air kepada anak sebagai bagian dari sunnatullah; sifat yang selalu mengalir dari atas ke bawah. Atau, orangtua bisa mengeksplorasi air dengan percobaan yang lain.

Contoh lain, perihal sampah. Sedari dini anak dikenalkan dengan macam serta jenis sampah, sehingga anak mampu memilah sampah dengan baik. Pengenalan sederhana tentang sampah organik dan non-organik, misalnya, bisa dijadikan titik mula.

Pada fase selanjutnya, anak bisa diajarkan untuk proses composting. Tentunya orangtua sendiri wajib memiliki pengetahuan tentang 5W + 1H perihal composting. Apakah mungkin sedari dini? Sangat mungkin. Apakah nanti tidak kotor? Percayalah, berkotor-kotor dalam batas tertentu adalah baik. Asalkan setelahnya membersihkan diri, tidak mengapa, bukan? Ada juga kemungkinan dalam proses composting, anak diperlihatkan jasad renik. Dari sini mereka orangtua bisa menstimulasi anak tentang Kemahakuasaan-Nya, mengatur yang tampak hingga yang tak tampak. Mengatur skala makro hingga mikro. Untuk hal ini, kita disyaratkan memiliki mikroskop elektron.

Terkait dengan sampah ini, pun bisa kita ajarkan tentang daur ulang. Sehingga anak mampu memahami sejatinya tiada yang tidak bermanfaat.

Kenapa dua hal—sains dan isu lingkungan—dijadikan contoh kali ini? Kalian pasti mengerti jika umat Islam saat ini sangat tertinggal dalam sains dan teknologi. Maka, meletakkan fondasi berpikir yang baik bagi anak, disertai nilai-nilai Ketuhanan, diharapkan bisa melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang memiliki fondasi agama yang baik, benar, dan indah. Karena saat ini, sains seolah dibenturkan dengan agama. Padahal Islam pernah memiliki ilmuwan-ilmuwan kelas dunia.

Isu lingkungan saat ini menjadi sangat urgen. Maka, memulai dari hal sederhana tentang mengelola—bahkan kalau perlu mengurangi—sampah adalah langkah awal yang perlu dikenalkan sejak dini kepada anak.

Namun, bukan berarti sains dan isu lingkungan menjadi satu-satunya. Orangtua bisa memulai dari isu manapun yang dianggap penting sesuai nilai yang dianut. Tapi, apapun itu, sebaiknya berkaitan dengan Kemahakuasaan Allah. Sehingga setelah lahir kesadaran pada anak akan kasih sayang Allah, maka diharapkan akan tumbuh ketakjuban anak kepada Allah, Tuhannya. Yang mana kesadaran itu akan menjadi fondasi untuk mengenalkan Allah sebagi Ilah, Zat yang wajib diibadahi.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi