Merdeka

Bahkan Kita Lupa Cara Melipatnya

” Tentang bagaimana kita perlakukan Bendera Merah Putih setelah dan sebelum digunakan. Akankah ia kita cuci dan setrika layaknya benda berbahan kain lainnya? Berapa kali kita melipat serta warna apa yang harus menjadi penampang luarnya? “

Di tengah hiruk pikuk pencabutan beberapa program subsidi, dana 1,5 T, rencana pemanfaatan simpanan Ongkos Naik Haji (ONH)  untuk kelanjutan program pembangunan infrastruktur atau kewajiban ber-NPWP bagi mahasiswa, mari kita menepi sejenak.

Saya sekedar ingin mengajak pembaca berjalan-jalan di candra Agustus. Satu bulan yang karena keringnya kemarau justru menghasilkan dingin. Musim bedhidhing  yang ditandai dengan bermunculannya bunga-bunga randu juga mangga.

Kita memulai dari kawasan yang penataan lingkungannya sungguh  bersih, aman dan rapi. Pos keamanan dengan petugas berseragam menjadi salah satu penanda. Jangan coba-coba berbuat sesuatu yang mengundang pertanyaan. Puluhan kamera cctv siap merekam gerak-gerik hingga gumaman atau gerundelan. Masalah kecil bisa jadi panjang dengan pasal tuduhan “diduga” dan seterusnya.

Di bagian tengah bulan kedelapan tahun solar, di Indonesia, mestinya setiap rumah mengibarkan bendera kebangsaannya. Bukan itu saja, sebagai ekspresi gembira memperingati tanggal ketujuhbelasnya, penampakan bertambah dengan pernik warna-warni berupa penjor janur kuning asli atau imitasi. Masih bisa ditambah dengan kerlap-kerlip lampu kecil aneka warna.

Namun tidak saya temukan itu semua. Jangankan yang sekunder atau tersier, sedang yang primer pun berupa sebentuk tiang tegak lurus dengan bendera merah putih di puncaknya tidak saya temukan. Terasa wajar bila muncul pertanyaan pada diri saya, apakah penghuni rumah adi kencana itu memiliki kewarganegaraan selain Indonesia? Dan karena itu pula mereka memiliki kekebalan dipomatik untuk tetap mematuhi aturan negaranya. Atau justru kekebalan hukum karena sumbangsih atau kontribusi mereka secara angka kepada negara sehingga patuh atau tidaknya mereka terhadap beberapa regulasi menjadi hak istimewa.

Tidak usah kita perpanjang daftar keheranan itu, kita lanjutkan saja jalan-jalan kita. Langkahkanlah kaki ke pemukiman masyarakat dari tataran menengah-bawah. Lihatlah betapa mereka menyengajakan diri untuk bersolek menyambut bulan kemerdekaan kita sebagai bangsa yang berdaulat atas negara. Sepanjang jalan yang terlalu sempit untuk dua mobil berpapasan itu, aneka penjor  berwarna-warni meramaikan suasana. Seperti hendak menjadi nauangan bagi pengguna jalan, kertas berwarna merah berseling putih ditarik melintang zig-zag dengan benang.

Tanaman di pot-pot depan rumah atau secuil taman yang masih ada dipangkas dedaunan keringnya serta digemburkan tanahnya, tak jarang pagar sederhana dari bilah-bilah bambu ditegakkan. Di banyak pintu gerbang gang-gang perumahan, gapura-gapura yang sudah ada dicat ulang. Tulisan relief semen yang sejak awal tertanam, diperjelas. Sehingga bacaannya kembali terlihat terang. Tak jarang pula dibuatkan secara dadakan patung-patung ukuran madya yang menggambarkan pejuang dengan senapan atau bambu runcing di tangan.

Gambaran di atas adalah apa yang nampak secara statis dan menetap selama kurun waktu kurang lebih satu bulan. Kalau kita meluangkan kesempatan lebih lama untuk melihat adegan lainnya, tengoklah betapa kemeriahan itu juga meliputi serbaneka kegiatan yang mereka selenggarakan. Meski “sekedar” lomba-lomba yang memerlukan sedikit keterampilan namun bangunan hati dan semangatnya tercermin nyata dari ekspresi para peserta juga pemirsanya.

Balap karung, balap kelereng, makan kerupuk, memasukkan jarum, sepakbola ­conthong, bakiak beregu, lomba memasak, merias wajah pasangan, sepeda hias dan tak ketinggalan tarik tambang serta panjat pinang. Daftar ini masih bisa bertambah panjang kalau berkenaan dengan jenis lomba yang digelar dan nyaris menjadi adat karena selalu berulang.

Di tanggal 16 malamnya, digelar doa bersama warga setempat yang diadakan di perempatan atau jalanan. Beberapa istilah untuk ini adalah malam ­tirakatan, bari’an, renungan atau sekedar malam pitulasan.

Dengan meletakkan di tengah, di awal atau pada kebanyakan sengaja dijadikan penghujung rangkaian, digelar pawai atau karnaval serta panggung gembira. Ah, betapa sungguh suka cita mereka merayakan Hari Kemerdekaan. Perayaan yang didasari penghaturan syukur bahwa penjajah telah enyah serta kaum kolonial sudah pulang.

Kegembiraan yang tidak lagi didasari dan sama sekali melupakan siapa dan bagaimana Presiden serta jajaran menteri-menterinya menjalankan roda pemerintahan. Atau atmosfer riang gembira dimana invaliditas fungsi representasi wakil rakyat terlupakan. Serta di sana-sini, aparat penegak hukum yang masih main mata dengan pihak-pihak yang mestinya menjadi musuh bebuyutan.

Ketika berencana dan menyelesaikan tulisan ini, saya meniatkan tidak ingin melakukan studi komparasi antara kedua kawasan. Seperti sudah saya sampaikan di awal, saya hanya ingin mengajak kita semua berjalan-jalan. Karena penilaian tak terucapkan atau analisa yang rapi terpendam tak jarang lebih jujur dan sahih sebagai bahan rujukan.

Kalau boleh, ijinkan saya mempertanyakan kepada diri saya sendiri juga pembaca sekalian mengenai hal kecil yang mungkin terabaikan. Tentang bagaimana kita perlakukan Bendera Merah Putih setelah dan sebelum digunakan. Akankah ia kita cuci dan setrika layaknya benda berbahan kain lainnya? Berapa kali kita melipat serta warna apa yang harus menjadi penampang luarnya?

Kalau jawaban ini saja tidak secara spontan kita bisa berikan jawabnya, saatnya kita kurangi secara signifikan melimpahkan kekesalan dan kekecewaan atas apa-apa yang berkaitan dengan bangsa dan negara hanya kepada mereka. Yups! Kalau masih sering kita dengar rintih tangis Ibu Pertiwi, biarlah tangan-tangan kita yang mencari tahu apa sebab dan bagaimana penyembuh terbaiknya.

 

 

Penulis : Rio NS

Penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.