Karena sifat pemaparannya adalah “contagious” dengan droplet yang datang bersama bersin, batuk, dan dahak sebagai perantara, salah satu upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin interaksi ke sesama manusia. Dari segala metode yang ada, mengalihkan semua kegiatan ke rumah dianggap sebagai cara terbaik. Sehingga secara global melalui WHO, kita semua disarankan atau diperintahkan, bahkan dipaksa untuk di rumah saja.

Implikasi dari gerakan yang di Indonesia diterjemahkan sebagai “Bekerja, Belajar, dan Berdo’a dari Rumah” ini sangat tidak sederhana. Tata hubungan antar manusia semenjak anak cucu Adam bertumbuh sebagai suku, bangsa, hingga negara dengan alienasi yang bersifat domestik, regional, hingga global menjadikan rumah tidak lagi sebagai sentra kegiatan. Di banyak bidang, orang justru melakukan banyak hal di luar untuk bisa dibawa ke rumah. Rumah bukan medan pertempuran yang mengharuskan orang mengeluarkan potensi terbaik cipta, rasa, dan karsa mereka. Rumah adalah titik keberangkatan sekaligus markas komando tempat segala strategi dirancang dan ditetapkan. Namun, the battle is out there.

Seseorang atau satu keluarga sangat mungkin merancang arsitektur mimpi-mimpinya di rumah. Namun mereka harus segera terjaga, bangun dari tidur untuk kemudian keluar rumah dan menjadikan rancang bangun itu menjadi karya nyata. Rumah akan kembali marak di saat penghuninya kembali berkumpul untuk melepas penat dalam kehangatan hubungan primer. Bercengkerama, nguda rasa tanpa siasat dan pretensi.

Linear dengan alinea di atas, wajar rasanya jikalau banyak dari kita yang harus beradaptasi hingga ke titik kulminasi untuk menjalani kehidupan yang seolah berpaling haluan 180 derajat. Tapi tenang, mari tarik napas dalam-dalam dan berpikir jernih. Terlepas dari banyak hal yang membuat kehidupan kita bukan hanya shiyam, bahkan shaum hingga ke hal-hal yang tak tebersit sebelumnya. Kita tak boleh pasrah terhempas begitu saja ke pojok gelap sebuah keadaan. Bersama kita buktikan bahwa masyarakat Indonesia merupakan sebenar-benarnya bibit unggul, manusia tahan banting, otak kancil, atau seribu ungkapan keyakinan lain.

Dalam Maiyah, kita mengenal terminologi Pasa, Nandur, Shadaqah. Sepertinya inilah saat yang tepat untuk benar-benar menjadikan terminologi tersebut sebagai praktek umum, bukan sekadar quote pemanis medsos kita. Tentunya rumah yang dalam hal ini kita jadikan sarana utama. Kita jadikan rumah sebagai Kawah Candradimuka untuk mengejawantahkan pasa (shaum) dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari, nandur terutama dalam tataran eksplisit ketimbang implisit, hingga shadaqah semampu kita dimulai dari lingkungan terdekat kita. Songgo bareng, tanggung bareng.

Seberapa luas dan jauh langkahmu, lebih ditentukan oleh iguh dan imaji pikiranmu. Jadilah ahli Wing Chun yang semakin diuntungkan ketika berduel di ruang sempit, atau Bima yang menemukan jati diri dan mengenal Tuhannya justru saat ia terhisap ke ruang sempit bernama Dewa Ruci.

Mengeluh secukupnya, bertindak selanjutnya. Setapak demi setapak. Selangkah demi selangkah. Jatuh, kita papah bersama. Lalu teriakkan dengan lantang, “Otot kawat balung wesi. Ora tedhas tapak paluning pande sisaning gurenda, tinatah mendat jinara menter”, sebagai penyemangat bersama bahwa kita bisa melalui ini, walau dari ruang sempit bernama rumah.

 

Oleh : Tim Tema BangbangWetan