Malam itu angin sepoy nan lembut membantu kami dalam mengurai kebuntuan berpikir. Kami mulai mencairkan suasana diskusi tentang pengalaman di Tanah Mandar yang berlanjut pada perihal perjalanan hidup masing-masing. Melingkarlah tiga orang manusia,  Pak Sutar dari Paseban Majapahit,  Mas Wakijo dari Gambang syafaat sekaligus Vokalis Band kondang Wakijo lan Seduluran, dan Mas Prayogi dari Relegi yang membagi banyak ilmunya dalam buku The Spiritual Journey of Emha Ainun Nadjib.

Mas Wakijo membuka pembicaraan tentang pengalamannya menulis lagu, “aku lek nulis lagu iku ora tau nang laptop, biasane bungkus rokok tak suwek,  tak tulis neng kono”  kata beliau sembari menghisap Ji Sam Soe yang sudah diolesi Kutus-Kutus. Kami mendengarkan cerita itu dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mas Wakijo yang pada awalnya bingung ketika ada himbauan untuk menjalin silaturrahmi ke dulur tua di Tanah Mandar akhirnya pada satu momen menyadari betapa pentingnya sowan ke dulur tua ini. “Selain sambutan dan jamuan makan yang sempurna, aku ngeroso mulih neng kampung halamanku dewe “ Tukas Mas Wakijo.

Beberapa pengalaman yang membuat kami terenyuh adalah ketika Mas Wakijo menceritakan persentuhan dengan keluarganya dari A sampai Z, hingga tiba saatnya bapak beliau pergi ke tukang potong rambut dan di dalam ruangannya menempel dengan indah foto-foto Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Tukang Cukur itu bercerita banyak Hal tentang Maiyah. Bapak beliau mendengarkan dan lebih memilih untuk tidak merespon. Hal mengejutkan terjadi ketika tukang cukur tersebut tiba-tiba nyeletuk dengan kalimat informasi “ada 16 orang yang beruntung hari ini,  mereka adalah orang terpilih untuk mengunjungi tanah yang banyak orang Maiyah rindukan, yaitu tanah Mandar, tanah yang katanya di mana Maiyah lahir disitu” sontak beliau langsung kaget dan menunjukkan foto mas Wakijo, “ iki lo foto anakku, iki sing kaos abang pojok dewe”  dengan nada tinggi dan sedikit bangga sepertinya,  mencoba menegaskan kepada tukang cukur bahwa Mas Wakijo adalah anak beliau. Dari fenomena ini, merubah kecintaan banyak hal, yang dulu agak apatis dengan Maiyah,  kini menjadikan beliau amat dekat dan otomatis menambah kemesraannya terhadap Mas Wakijo.

 

Pak Sutar tidak mau kalah, sosok tua gondrong dengan perawakan gagah sedikit mirip bintang Hollywood, Tom Cruise ini menceritakan pengalamannya. Awalnya kami sungkan sekali beramah tanah terhadap beliau. Stigma ini berubah ketika beliau bercerita tentang perijinan untuk sebuah perjalanan. Ketika itu, istrinya menemukan hal aneh. Dalam saku belakang celananya terlihat Pak Sutar menyembunyikan beberapa sachet Tolak Angin, dengan sinis istri beliau mengatakan “ Jare preman, tapi kok gawane tolak angin?” Seketika itu kami tertawa lepas. kami tidak menyangka perawakan sangar bak preman Wonokromo ini takut masuk angin.

 

Konten diskusi mulai menarik ketika beliau mulai serius bilang, “awakmu iki termasuk arek nom sing beruntung.” Lah opo’o, Pak?” jawab kami.  “yo iyo,  awkmu sik enom wes oleh dasar, iso kenal Maiyah trus iso dolen mrene” tambah beliau. Kami semakin antusias mendengarkan pengalaman beliau yang kadang dikemas dengan humor ala zaman old. Perjalanan hidup beliau yang berpindah-pindah tempat dari tempat satu ketempat lainnya. Akhirnya pada satu titik, beliau menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Yaitu Maiyah. Menurut beliau, Maiyah adalah jalan terang menuju kedamaian. Sampai saat ini hidupnya tidak lepas dari merawat dan mendedikasikan dirinya pada Paseban Majapahit.

 

Tiba pada giliran mas Yogi. Sebagai penulis dan dosen, rasanya kami tidak percaya kalau beliau mengalami masuk angin dan mual. Tidak banyak yang beliau ceritakan kepada kami selain tentang Pak Tamalele yang dipercaya Mbah Nun sebagai tukang pijat handal ketika beliau berada di Tanah Mandar. Diskusi ditutup dengan saling pamit rehat di dalam rumah adat yang akan selalu kami rindukan.

 

Dari pengalaman dulur-dulur di atas, kami yang terhitung delegasi millenial sangat yakin bahwa ada harap yang akan terus kami cari. Ada ilmu yang akan mencerahi, dan yang pasti ada cinta yang tumbuh didalam hati. Semoga dalam perjalanan ini, kami mendapatkan banyak hal bermanfaat lainnya, dan semua ini tidak lepas dari buah kontribusi Mbah Nun sebagai manusia yang cinta kepada sesama. (YSS)