Bambang Ekalaya dan Laboratorium Mini Javanologi

Oleh: Rio NS

Merujuk pada satu fragmen Mahabarata, kita mengenal tokoh bernama Bambang Ekalaya. Ia adalah cah ndeso yang sangat mengidolakan Resi Dorna sebagai mahaguru yang diyakini bisa membesutnya menjadi seorang ksatria dengan kompetensi memanah level juara dunia.

 

Karena kondisi geo-sosiologisnya yang berada jauh dari lingkar kekuasaan, maka Ekalaya harus menerima takdirnya untuk hanya bisa menjadikan manekin Sang Guru sebagai mentor dalam olah kanuragan. Hitungan tahun mencatat masa persekolahannya hingga pertemuan fisik bisa terwujud namun dengan pilihan berat; Sang Guru meminta Ekalaya mematahkan ibu jari kanannya sebagai prasyarat untuk bisa diterima sebagai siswa.

 

Terlepas dari perjalanan hidup Ekalaya yang tragis demi satu penokohan tunggal Arjuna, sejatinya terdapat ribuan orang, lingkar, simpul dan komunitas yang serumpun dengan Bambang Ekalaya. Satu kesamaannya adalah bahwa mereka memiliki rentang jarak yang secara geografis berjauhan dengan Sang Guru. Setidaknya, karena momentum peristiwa dan kesejarahan tidak memungkinkan mereka untuk menikmati kemewahan bisa bertemu muka secara badaniah dengan guru, panutan sekaligus idola mereka.

 

Satu dari ribuan itu adalah Majelis Maiyah Balitar. Kelompok kecil yang menetapkan dirinya sebagai Simpul Maiyah sedari awal kelahirannya itu menetap di sebuah daerah tingkat dua yang memiliki dua pemerintahan administratif, kabupaten dan kota. Jaraknya dari ibu kota provinsi tidak jauh-jauh amat. Namun interaksi dengan Sang Guru secara nyata hanya bisa mereka dapatkan dalam siklus bulanan bernama Padhang mBulan–sebuah forum yang menjadi sumur sekaligus ibunda dari berratus forum lainnya.

 

Secara kuantitas, jumlah mereka tidaklah banyak. Penggiatnya berkisar jumlah jari kaki dan tangan. Sementara “jama’ah”–sebutan bagi khalayak yang cukup datang dan tidak.terlibat di dapur pengolahan tema, poster dan reportase serta teknis event bulanan itu sendiri–ada di kisaran angka 30 -50 orang belaka.

 

Struktur demografis yang mewarnai komposisi penggiat dan “jama’ah” didominasi mereka yang berada di usia 18-35 tahun. Datang dari berbagai lapisan sosial dengan pekerja lepas dan mahasiswa sebagai jumlah terbanyak, mereka berhimpun dalam satu kesamaan cara pandang: bahwa mendekati Sang Guru melalui berbagai dimensi adalah satu tarekat yang mesti ditempuh demi “ijazah” dan kelulusan.

 

Setiap bulan berkumpul di satu rumah sederhana yang berlimpah kehangatan dan persaudaraan, sedari mula pertama mereka tetapkan penggunaan bahasa Jawa sebagai tema sekaligus pokok bahasan. Sedikit lebih dalam ke mozaik pembentuk lingkaran, kelompok ini memang banyak ditopang oleh orang-orang yang berlatar belakang Islam tradisional, kejawen hingga jagad pakeliran.

 

Saya menyebutnya laboratorium mini javanologi yang dalam kerja “kelaboratannya” lebih banyak menggunakan kitab kuning, hadis dan Al Qur’an sebagai preparat utama. Kiranya tak jadi persoalan, sepanjang relevansi dan jalur metodologisnya tetap setia pada alur logika dan kebenaran. Satu hal yang menjadi ciri dari pembahasan tema-tema aktual yang selalu dilakukan Sang Guru.

 

Bambang Ekalaya memang tidak pernah menjadi tokoh utama dalam apapun lakon yang dimainkan sang dalang. Peperangan Baratayuda sebagai tonggak penting sejarah Pandawa dan Kurawa juga tidak mencantumkan namanya. Namun niatan, semangat, komitmen, dan konsistensinya dalam menetapkan tujuan untuk kemudian bersungguh menjalaninya akan mengendap di pantai ingatan.

 

Rio N. S, penggiat BangbangWetan yang menemukan keseimbangan diri pada musik rock dan sastra. Bisa disapa melalui akun Facebook: N Prio Sanyoto.