Kolom Jamaah

Bangbang Wetan dan Sosiologi Profetik

Oleh: Ach. Roeslan Rifa’i

 

Sosiologi Profetik pertama kali dikenalkan oleh Kuntowijoyo, yang biasa dijabarkan sebagai ISP “ilmu sosial berparadigma profetik”. Sosiologi profetik sendiri terdiri dari tiga pilar (humanisasi, liberasi dan transendensi) yang diambil dari sebuah ayat dalam al-Qur’an.

“kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah pada kemungkaran yang beriman kepada Allah…”

Lalu kenapa Kuntowijoyo memakai paradigma dalam Al Qur’an untuk dia bangun menjadi paradigma baru dalam disiplin ilmu sosial? Pertama, tentu saja karena keberadaan ilmu sosial berparadigma positivis yang berprinsip bahwa ilmu sosial harus bebas nilai, mengkaji masyarakat dan memaafkannya begitu saja sebagai wacana ilmu pengetahuan. Kedua, karena itu realitas sosial dan apa yang dibangun dalam kehidupan manusia bersifat kesadaran kolektif (kebudayaan kapitalis misal) telah menjadikan kehidupan manusia tanpa makna, manusia berjalan atas dasar utopia struktur yang mewacanakan kesempurnaan atas kehidupan hingga kehidupan manusia cenderung mekanik dan tanpa makna.

Dari itulah kita butuh sebuah gagasan baru, satu paradigma ilmu sosial baru menuju masyarakat yang beriman dan dirahmati Tuhan. Kita akan memulai hal itu dari tiga pilar profetik yang diwacanakan oleh Kuntowijoyo.

Humanisasi, (menyeru kepada kebaikan) Kuntowijoyo menyebutkan bahwa yang hilang dari humanisme barat adalah kehidupan manusia yang bermakna atas dasar-dasar keimanan, menjunjung tinggi subjektifitas dan melepaskan manusia dari struktur mekanikal yang membelenggu. Ia mencoba memberi makna bagi humanisme tersebut dengan meletakkan sisi kemanusiaan secara teosentris dan berpijak pada keimanan..

Liberasi, (mencegah kepada kemungkaran) dari kecondongan antroposentris Barat tersebut, manusia kehilangan tujuan utama kehidupan dan terkungkung dalam system mekanik yang mereka ciptakan. Hal ini menimbulkan pertanyaan kemana kemanusiaan itu kita bawa, membebaskan manusia dari apa, dan oleh siapa. Disinlahi ilmu sosial harus berpihak untuk membebaskan manusia yang terkungkung dan terlemahkan oleh system dan menjadikan makna keimanan sebagai pijakan.

Transendensi, (beriman kepada Allah), menurut Emile Durheim, yang sakral dan profan dalam semua agama hanyalah ilusi. Berawal dari semangat profetik, kita akan menelisik apa sebenarnya yang sakral dan profan itu. Sebagai awal sebuah konsep yang akan dijelaskan dalam dialog kecil filsafat, meskipun kecendrungannya pada teologi tapi kita patut mempertanyakan antara yang sakral dan yang profan itu. “bila Tuhan maha kuasa setidaknya racun itu tidak mematikan (sakral berawal dari fenomena yang dianggap magis dan mempunyai kekuatan diluar diri masyarakat). Tapi karena Tuhan maha kuasa, racun itu menjadi sesuatu yang mematikan (yang profan, dan transendensi ini mengalir begitu saja tanpa masyarakat sadari)”.

Namun disiplin ilmu sosial menghilangkan hal itu dan beranggapan bahwa transendensi adalah sebatas kajian ilmu psikis, maka keberadaan transendensi sebagai penopang humanisasi dan liberasi sengaja dihilangkan. Itulah yang menyebabkan unsur ketiga dari tiga pilar profetik itu seolah-olah tidak ada dan kehidupan manusia modern dewasa ini berlangsung seperti tanpa makna.

Namun dalam permasalahan kehidupan dewasa ini, masih ada sekumpulan manusia yang mempunyai mental baja yang tumbuh dari ketidakadilan. Mereka membangun kembali spirit profetik dari serpihan “wahyu” yang dibawah oleh Muhammad SAW, seperti komunitas Maiyah secara umum dan khususnya Bangbang Wetan (dengan idiom bahwa cahaya akan menelan kegelapan Nusantara dari ujung timur).

Secara tidak langsung, meskipun Bangbang Wetan tidak mengklaim gagasan Kuntowijoyo dalam kelahirannya dan aktivitasnya, mereka telah menerapkan prinsip liberasi kemanusiaan. Hal inilain tampak dalam, misalnya, penanganan lumpur Lapindo, korban penggusuran stren kali Jagir, korban kebakaran pasar Turi, kasus Bonek dan tragedi pemecatan 100 Buruh.

Begitu juga keberadaan forum Bangbang Wetan di tengah-tengah kota surabaya, forum arus bawah tersebut mengindikasikan bahwa Bangbang Wetan sendiri mempunyai corak Humanisme teosentris. Hal yang tergambar dari hadirnya masyrakat yang plural dari berbagai macam etnis dan budaya bahkan agama. Corak teosentris tersebut dapat dibilang tanpa klaim-klaim nilai dari BbW bahwa mereka humanis.

Transendensi komunitas tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah untuk diraih. Orang yang benar-benar mengerti transendensi dan mapan di dalamnya, bukan orang yang tak mengenal kejahatan. Bahkan Nabi Muhammad sendiri adalah orang yang benar-benar mengenal kejahatan dari kejahatan itu sendiri sehingga beliau mampu menukarkan kejahatan dengan rahmat Tuhan.

Kita akan memulai mendiskusikan hal itu dari sebuah potongan sajak terakhir dari tulisan Kuntowijoyo “Makrifat Daun-daun Makrifat”.

 

“Sebagai hadiah malaikat menanyakan

apakah aku ingin berjalan di atas mega

dan aku menolak

Karena kakiku masih di bumi

Sampai kejahatan terakhir dimusnahkan

Sampai dhuafa dan mustad’afin

Diangkat tuhan dari penderitaan”[1]

M. Ikbal menyebutkan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Sufi, mungkin saat dia bertemu Tuhan dia tak mau kembali lagi ke bumi, karena dalam dunia tasawuf bertemu Tuhan adalah puncak kenikmatan.

Sedemikian juga keberadaan Bangbang Wetan dalam mengisi kekosongan masyarakat Surabaya dengan wacana-wacana keilmuan yang mereka gaungkan di malam purnama setiap bulannya. Satu penegasan akan kesufistikan mereka. Saya menyebutnya sebagai “sufisme transformatif” yang menolak tawaran malaikat untuk berjalan di atas mega dan lebih memilih duduk nimbrung di tengah-tengah kota dengan segala macam persoalan masyarakat yang melingkupinya.

[1] Kuntowijoyo, Makrifat Daun-Daun Makrifat. (Jakarta: Gema Insani Press, 1995). 63

 

Ach. Roeslan Rifa’i. Penulis merupakan JM asal Lamongan yang aktif sebagai penggiat komunitas Rumah Sosiologi Indonesia. Bisa disapa melalui akun instagram @roeslan_riefaie