Oleh: Ahmad Irham Fauzi

(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

Beberapa saat yang lalu, hati saya digetarkan oleh video singkat yang diunggah seorang sahabat di akun Instagramnya. Video berisi kumpulan foto aktivitas putrinya, dengan backsound sebuah lagu berjudul “Lullaby”. Lagu berlirik bahasa Jawa karya Mbah Sujiwo Tedjo. Di caption, ditulis doa syukur dan harapan sang ayah kepada putrinya yang sedang genap berusia 2 tahun. Kenapa hati saya tergetar? Tak lain, sebab lagu ini punya tempat cukup istimewa di benak saya.

Sekitar lima – enam tahun yang lalu, saya rajin menikmatinya ketika ngudang Srikandi, putri saya yang saat itu masih bayi. Juga tak jarang, sambil menggendong Srikandi, saya rengeng-rengeng “Lullaby” itu hingga ia tertidur pulas. Pernah juga, saking tak tertahannya, air mata menetes jatuh pada wajah Srikandi, hingga tidurnya sejenak terusik.

Hingga kini saya masih hafal liriknya, begini :

Anakku

Anakku sing manis, ja pijer nangis

Sun gendhong, sun lelela lela

 

Ning pang wit

Wiwit bang bang wetan, wis tanpa sela

Saloka unine kepodhang

Nganti dhong wengi

Kuwi ngengudang kowe

 

Mbesuk yen wis gedhe, nalikane

Sesandhingan karo kekasihmu

Kekaron sih ngadhep ombaking urip

Aja lali marang, aja lali marang

Bang bang wetan

Manuke podhang

Alur imajinasi memang sulit untuk dinalar. Setiap menyimak atau melantunkannya sendiri, imajinasi saya melesak jauh pada bayangan bahwa saya sedang menatap Srikandi sedang duduk di pelaminan bersama sigaraning nyawa-nya. Maka terbit harapan padanya agar ia tak lupa pada Bangbang Wetan, asal usul dirinya, pada mata air nilainya. Semburat cahaya kejernihan jiwa yang Tuhan titipkan padanya, perlu sering untuk di-sowani, sebagai bekalnya mengarungi ombak kehidupan.

Rasa-rasanya, kurang lebih demikian jua bersitan jiwa yang hinggap di hati, setiap mendapati wujud bulan selepas purnama. Terbit kerinduan untuk menjemput ruh manuk podhang, semangat muda yang mendobrak kejumudan mengingini perubahan. Sekaligus meneguk mata air ilmu yang otentik nan sejati.

 

Dan ribuan jiwa besok jumat berkumpul di Balai Pemuda. Saya berharap, semoga diperjalankan katut ngiyup di rindangnya kepengayoman dan kepengasuhan Sang Ngai Ma Dodera.

 

Dan Srikandi, tentu saya ajak serta.

 

BangbangWetan, Aku Lala Padamu.

24 September 2018

 

Ahmad Irham Fauzi, JM tinggal di Gresik, lebih sering sinau bareng JM Damar Kedhaton.