Redaksi

BangbangWetan ‘Pulang’

img_2948

BERITA : Bangbangwetan Desember 2016 , Balai Pemuda Surabaya.

Istilah “Pulang” mungkin sangat tepat untuk menggambarkan BangbangWetan (BbW) edisi pamungkas di tahun ini. Setelah sempat hengkang dalam empat kali perhelatan hengkang, tepat pada 15 Desember 2016 BbW pulang ke rumah, yakni di Balai Pemuda Surabaya.

Tempat yang dipakai untuk menggelar forum adalah halaman depan Gedung Merah Putih dengan panggung menghadap ke barat. Halaman yang lebih sempit dari biasanya dan deras hujan yang sempat menyapa tak mengurangi antusiasme para Jannatul Maiyah (JM) untuk hadir.

Suasana Surabaya pun seolah mengajak JM untuk berkumpul dalam lingkaran berbalut cahaya. Menghangatkan diri dalam siraman-siraman ilmu bersama yang lain.
BbW edisi Desember mengambil tema “Menanti Ajal”. Sedikit terasa ngeri dan menimbulkan pertanyaan di antara para JM. Mas Amin ssebagai moderator memancing respon jamaah tentang tema dengan cara yang baru. Sebanyak 28 jamaah ditunjuk secara acak dan dibagi menjadi empat kelompok ditambah 1 kelompok yang diisi para penggiat BbW. Kelima kelompok tersebut masing-masing diberi satu tema untuk dijadikan bahan diskusi kelompok.

Lima tema yang dilemparkan adalah; Bagaimana kesalahan cara berfikir yg ada d masyarakat kita? peran Maiyah terhadap situasi saat ini, Identifikasi terhadap kekurangan umat muslim di Indonesia, Kontribusi apa yg bisa diberikan jamaah Maiyah terhadap Indonesia, dan momentum untuk memunculkan sebuah gerakan. Hasil diskusi kelompok nantinya akan disampaikan di atas panggung yang diwakili oleh perwakilan dari setiap kelompok.
Penjabaran hasil diskusi ini langsung ditanggapi oleh Cak Nun di atas panggung. Hal ini yang membuat suasana malam itu sangat hidup.

Banyak hal yang disampaikan Cak Nun terkait dengan kondisi masyarakat saat ini. Juga berapa hal tentang cara pandang kehidupan. Hidup seperti menambang secara tradisional. Ilmu adalah cara pandang dan kepekaan untuk menemukan emas di dalam kumpulan kerikil. Temukan Muhammad-mu dalam sisi manusiamu.

Di tengah diskusi Cak Nun juga menyampaikan bait-bait puisi. Hidup adalah aliran yang bergetar dan getaran yang mengalir. Selain itu Cak Nun juga menyampaikan tentang penyakit orang Islam dalam memandang dan merespon setiap peristiwa yakni cendhek (pendek), ciut (sempit), dan cethek (dangkal).
Sebelum BbW berakhir, masih dalam suasana Maulud Nabi Muhammad SAW, di akhir acara Kyai Muzammil bersama-sama JM menyampaikan rasa cinta kepada Kanjeng Nabi melalui Shalawat Burdah yang dipimpin langsung oleh Kyai Muzammil.

Red : FN/Ht