Berita, Kolom Jamaah

Bangbangwetan Semburato (2)

oleh: Agung Trilaksono

Di teras rumah Ahid beberapa penggiat BBW berkumpul. Rapat pertama persiapan 12 tahun BBW. Masih tersimpan jelas dalam ingatan Very dengan nada kecewa tinggi memulai pertemuan. Kecewa atas keadaan surutnya geliat niat, jumlah personil maupun jumlah kas. Yang lain juga kemudian ikut ngudo roso. Secara utuh sebagai kumpulan “organisme besar” memang bisa disebut memprihatinkan bila parameter lahiriah umum yang digunakan, misalnya dengan sangat minimnya penggiat yang berkumpul malam itu dan juga minimnya sisa dana (kas) yang dimiliki.

Emosi Very diawal yang seakan menyalahkan keadaan perlahan berubah menyalahkan diri. Masing-masing orang yang hadir ngudo roso tentang dirinya yang tidak maksimal dalam nyengkuyung. Pelan-pelan suara meledak-ledaknya Very berganti dengan getaran suara menyalahkan diri.

Suasana berubah hening-haru. Rio berkata dengan bergetar “apapun upaya yang kita lakukan dalam rangka cinta, meskipun pasti masih jauh dari apa yang Cak Nun lakukan selama ini”. Dari proses ngudo roso itu perlahan-lahan membakar semangat semua yang hadir. Semangat untuk mengoptimalkan diri dalam persembahan cinta.

Empat tahun yang lalu, diawali hanya beberapa orang berkumpul kemudian menjadi gelombang besar. Balai Pemuda penuh jamaah, parkirnya tak tertampung hingga harus meluber ke seberang sungai. Memoderasi ribuan orang di jantung kota Surabaya bukan hal yang mudah, bagi sebuah komunitas non profit. Puluhan relawan dari berbagai eksponen Bangbangwetan bahu membahu mensukseskan acara tersebut. Mereka rela berlapar-lapar sedari sore bahkan siang hingga larut malam bahkan berganti hari. Saat ribuan jamaah menikmati sajian penampilan Cak Nun dan Kiai Kanjeng, banyak Relawan yang harus rela berada jauh dari keramaian itu (tak mendengar juga tak melihat) untuk menjaga keamanan sepeda motor, mobil maupun kendaraan lain yang parkir.

——

Hari-hari ini, meski tidak berada ditengah-tengah mereka yang sedang berproses pada perhelatan Enam Belas Tahun Bangbangwetan. Sesekali saya update dari group WA dan Medsos kondisi panitia dan persiapannya. Bagaimana dari sisi materi, hingga hari ini masih jauh dari kebutuhan seharusnya. Rasa dag-dig-dug penggiat hari-hari ini pasti pada puncaknya. Rasa takut mengecewakan, rasa tidak bisa melayani dengan maksimal, akan terus menjadi bayang-bayang para penggiat yang sedang berjibaku dengan waktu.  Tentu harus mengoptimalkan segala energi untuk bisa mempersembahkan yang terbaik. Over PD juga bisa jadi bukan hal yang baik. PD karena 16 tahun berproses dengan kondisi yang hampir selalu sama.

Bonek memang sudah menjadi karakter bagi masyarakat Surabaya tak terkecuali para penggiat BBW, selalu berjalan dalam was wisu. Tapi langkah kakinya Nekat berbekal tulus Bismillah. Segala langkah atas dasar Cinta seperti yang diungkapkan Rio diatas akan membersamai bukan hanya seluruh penggiat yang nyengkuyung acara 16 tahun Bangbangwetan, tapi juga forum Besar Bangbangwetan pada umumnya.

Waliraja – Rajawali bukan hanya pertunjukkan teater biasa, tapi sebuah penghelatan dengan kedalaman pesan yang berdasar pada keresahan zaman. Saya meyakini itu, demikian pula saya yakin Jamaah Maiyah menyakini itu pula. Dan andai masyarakat umum ikut menyaksikan penghelatan itu, tentu juga akan mendapatkan informasi yang sama. Informasi tentang sebuah kondisi yang terkemas rapi dengan keindahan seni pertunjukkan yang multidimensi.

Selamat Berproses

Di tahun ke 16

Jepara, 14 September 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.