Bangsa Pendekar

 

Dari pelajaran sejarah yang kita dapatkan di Sekolah Dasar masih teringat nama dua farm  yang tercatat sukses mendirikan dua candi besar di pusaran tengah Jawa Dwipa. Masing-masing adalah Wangsa Sanjaya di belakang Candi Prambanan dan Wangsa Syailendra sebagai inisiator tegaknya Candi Borobudur. Gempuran vulkanik Merapi pada akhirnya memaksa mereka mengalihkan pusat peradaban ke timur. Demikian dan seterusnnya seperti tercatat dalam sejarah yang kita yakini kebenarannya.

Titik berat pembicaraan kita adalah wangsa-wangsa sesudahnya. Dengan tidak mengesampingkan segala peninggalan dan ingatan monumental yang telah tertulis, mengendap satu pertanyaan: apa yang telah “sukses” mereka perbuat? Mereka di sini bisa berarti pula kerabat, kakek nenek, dan leluhur kita.

Apakah Soempah Pemoeda dan Proklamasi Kemerdekaan lolos kualifikasi sebagai satu pencapaian yang tertulis dengan tinta emas? Apakah keberhasilan mendepak mundur pasukan Mongol, VOC, tentara sekutu, dan pasuka bela diri Nippon bisa kita sebut sebagai satu prestasi dan prestise?

Untaian kalimat seperti “Bukan tentang jatuhnya melainkan tentang bagaimana kita bangkit setelahnya” atau personifikasi seperti “Bahkan keledai pun tak mau jatuh dua kali di lubang yang sama” lazim kita dengar. Keduanya atau beberapa pepatah-petitih lain menyiratkan sifat dasar manusia unggul untuk menolak gagal dan belajar dari kesalahan masa lalu.

Namun betulkah kita saat dan selama ini memahami dan mengaplikasikan wisdom klasik semacam itu? Siklus lima tahunan atas nama demokrasi di negara sabuk khatulistiwa  bisa kita jadikan satu contoh “kecil”. Berapa kali kita terperdaya oleh jargon, janji, dan bualan mereka yang sebenarya mesti merengek untuk bisa menjadi wakil dan lembaga pesuruh kita. Ironisnya, setiap kali pula kita terantuk pada batu kecele massal. Menyakitkan memang namun tak apalah, toh banyak teman dan saudara mengalami duka yang sama.

Satu kegunaan yang seharusnya kita dapatkan dari duduk berlama-lama hingga dini hari menjelang setiap bulan ini adalah terbangunnya struktur mental dan pemikiran yang senantiasa waspada. Satu bangunan prinsip hidup yang sebenarnya sudah diingatkan oleh pendahulu sekian dekade silam; eling lan waspada.

Di beberapa kesempatan, Mbah Nun pernah mengatakan bahwa “waspada” bisa diinterpretasikan sebagai “takwa”. Mengambil contoh seorang yang berjalan di lintasan berduri, kehati-hatian dari setiap langkah yang dihentakkan adalah manifestasi dari waspada. Tak berlebihan bila eling lan waspada adalah bentuk nyata dari takwa.

Format kewaspadaan ini terus kita kembangkan sesuai takaran internal dan usikan eksternal. Karena porsi yang tidak tepat akan menyeret kiat kearah deformitas yang justru menyakitkan. Ambil saja contoh kecil betapa kewaspadaan yang berlebih berpotensi menjadi phobia atau satu bentuk penyakit mental semacam ansietas atau kecemasan. Walau di sisi lain penyakit mental macam ini pun bisa kita olah kembali menjadi peningkatan imunitas.

Dengan tetap memberikan apresiasi kepada garis darah dan daerah dari mana kita dilahirkan, sejatinya Orang Maiyah adalah Bangsa Pendekar. Tentu saja yang dimaksud dengan pendekar di sini bukan lagi kata benda melainkan kita sifat. Ia lebih dimaksudkan sebagai bangsa yang memiliki daya tahan dan daya lenting atas segala bentuk terpaan derita. Sebuah fenomena yang bagi orang kebanyakan mengandung duka cita, kezoliman, perlakuan tidak adil, bahkan pelecehan martabat, kita sikapi dengan canda tawa. Keikhlasan kita menerima dan melakoni peran adalah satu bentuk dari apa yang sering disebut sebagai “mupus”.

Bangsa Pendekar itu adalah mereka yang tidak berhenti menjaga proporsi dan ketepatan pada setiap ucapan dan perilaku. Juga dalam hal mempertahanan kadar kewaspadaan. Seperti kutipan kucil dari repertoar Sengkuni 2019 minggu lalu, “Orang waspada bisa jatuh suudzon sedang orang khusnudzon bisa jatuh teledor”. Artinya, kewaspadaan itu sendiri punya potensi antitesis yang kontraproduktif pula.

Lalu bagaimana cara Bangsa Pendekar ini bersikap terhadap posisi dan keberadaan diri mereka di tengah belantara pergaulan bangsanya? Sebagai paduan dari talenta dan laku sadar pengembangan diri, Bangsa pendekar ini meletakkan kewaspadaan di tangan kiri sebagai bentuk pernyataan sikap mental dan olah pikir serta kemampuan bertindak dan doing something di tangan kanannya. Keduanya tidak pernah bersatu, memiliki peran masing-masing namun tetap punya energi kinetik dahsyat ketika  digerakkan secara bersama.

Secara faktual, Bangsa Pendekar adalah mereka yang tersisihkan atau sengaja menyisihkan diri, terpinggirkan dan tak berdaya baik secara finansial maupun dalam mekanisme pengelolaan kehidupan bernegara. Namun ini tidak berarti alasan yang menjadikan mereka berdiam. “Tangan Kiri” mereka terus bergerak menguatkan internalisasi secara personal dan mengusahakan perambatan ke lingkungan sekitar. Keluarga, tetangga, kerabat, dan sanak saudara menjadi ladang nyata untuk mereka melanjutkan kinerja tandur dan puasa. Belum berdayanya “Tangan Kanan” bukan dalih bagi Orang Maiyah, Bangsa Pendekar ini untuk terus melantunkan nyanyian perubahan.

Orang Maiyah adalah mereka yang terus menerus mencari kesejatian makna kata, mempelajari fenomenologi, terbiasa mensikapi berita dengan pisau analisis, cermat menentukan sikap dan gerakan dengan tanpa meninggalkan prasangka baik terhadap putaran semesta. Mereka adalah manusia yang tak lagi berfokus kepada siapa melainkan apa.

Secara sederhana, way of life yang menjadi jalur utamanya adalah menempatkan kewaspadaan serta kehati-hatian. Bangsa Pendekar punya langgam sendiri yang jauh berbeda dari lingkungan dan zaman.

Benar tidaknya, sudah seberapa jauh skala pencapaiannya, seberapa luas sebaran energi sentripetal dan sentrifugalnya, mari kita perbincangkan di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim pada satu malam yang sangat mungkin basah oleh hujan di paruh ketiga bulan pertama.

 

[Tim Tema BangbangWetan]