BAPAK POLAH ANAK KEPRADAH

[ Apresiasi tema BangbangWetan juli 2017 – NASAB NASIB GENERASI KINTIR ]

Bangsa Indonesia, terutama para generasi muda sedang mengalami kebingungan dan keraguan dalam melangkah untuk mengambil setiap keputusan dan sikap. Mungkin mereka sedang diserang berbagai pertanyaan yang menumpuk di kepala, serta kecemasan akan masa depan. Mereka yang memendam begitu banyak pertanyaan tentang keadaan, berlari-lari mencari jawaban bak kuda-kuda yang berlari gelisah di padang tandus, sebab rumput hijau, sumber air, dan pepohonan mulai jarang mereka temui. Generasi muda yang seperti itu butuh dirangkul, kegelisahannya perlu ditenangkan, kecemasannya perlu diredam, agar mereka tetap seimbang berdiri di antara berbagai silang sengkarut keadaan.

 

Bicara permasalahan, pasti ada sebab dan akibat. Butuh data untuk melakukan penelitian dan sikap yang obyektif didalam melihatnya. Dalam hal ini saya pribadi tidak punya kemampuan mengetahui titik-titik detail permasalahannya, hanya melihat dan mencoba mengupas fakta dan realita yang sering terjadi secara garis besar. Mungkin saat ini Indonesia berada pada klimaks permasalahan, dimana kita sangat mudah sekali menemukan pertengkaran-pertengkaran remeh-temeh, mulai dari ricuhnya sidang wakil rakyat yang sama sekali tidak menjadikan kepentingan rakyat sebagai titik berat dalam setiap keputusan yang diambil, perdebatan egosentris kaum idealis, sampai pada perebutan lahan parkir kaum jelata. Mengapa mereka begitu sensitif terhadap perbedaan? Karena masing-masing memegang kepentingan individu dan ingin menang sendiri. Sebab bisa menjadi akibat dari sebab baru yang kita temukan, lalu apa yang menyebabkan manusia sibuk berorientasi kepada kepentingan pribadi?

 

Pengaruh globalisasi kini menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Globalisasi telah menjadi agama baru yang dianut oleh masyarakat modern, orientasi kehidupannya adalah kekuasaan,  rajanya adalah nafsu keserakahan diri, penguasaan atas sumber daya alam menjadi lajurnya, dengan metode perampokan yang dibungkus dengan slogan kerjasama dalam pembangunan, serta jangan lupakan eksploitasi atas nama pembangunan yang memiliki jalan begitu luas dan lebar dalam sistem regulasi di negara Indonesia. Penyebaran agama baru ini lewat media-media sosial yang kini sangat digandrungi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat; anak-anak diberikan tontonan pembodohan; generasi muda diberi makanan kebencian dan ketidakpastian informasi yang dimasak sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bentuk kepedulian pada mereka; orang tua disibukkan oleh pengejaran atas dunia, dimata, telinga, mulut, otak, dan hatinya penuh oleh kepentingan duniawi. Mungkin itu salah satu sebab kenapa dalam dialektika budaya kita saat ini sangat sensitif dan rentan sekali mengalami perpecahan, manusia sangat mudah membuat batas dirinya dengan yang selain dirinya, sifat ke-aku-annya begitu dominan, nilai-nilai luhur tidak lagi menjadi pertimbangan utama dan tidak jarang alpa dalam kehidupan sosial. Dalam agama globalisasi tidak ada nilai luhur, tidak ada tangan peduli, tidak ada mata kasih, tidak ada cinta, yang ada hanyalah kepentingan sendiri yang berlandaskan nafsu keserakahan. Sungguh manusia berada pada tingkat paling rendah jika menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.

 

Bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yatim piatu, bangsa anut gubyuk, bangsa kintir arus berbagai budaya dan pemikiran dari luar dirinya, Ia tidak punya sosok bapak dan ibu yang mengayomi dan mengelus kepalanya ketika ia lelah berfikir mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan pribadinya, bingung kepada siapa Ia belajar. Ia kehilangan parameter contoh kemuliaan hidup dari seorang bapak dan ibu. Bangsa Indonesia berusaha mencari sosok atas dasar pengetahuannya sendiri, maka begitu banyak kelompok jamaah pengajian, klub-klub, sampai geng motor yang dipimpin oleh sosok. Tidak menjadi masalah jika masing-masing mampu dengan luas hati menerima perbedaan, saling menghormati satu sama lain, mau berendah hati untuk bersama-sama duduk, yang menjadi masalah jika masing-masing dari mereka tidak memiliki kesadaran lingkar batas kehidupan bersosial. Seseorang mendengarkan musik lewat sound adalah boleh dan itu hak dia, namun jika dilakukan di samping tetangga yang sedang beribadah, tindakannya itu tidak lagi menjadi boleh, karena tindakan itu bisa menjadi sebab rusaknya hubungan sosial. Sebab ketika dia menghidupkan sound dengan keras, suara musik itu masuk ke dalam ruang orang lain, dan menciptakan dialektika dengan konteks baru dalam dimensi nilai sosial, hal itu menyalahi sistem nilai dan tataran akhlaq dalam kehidupan sosial yang sudah terbangun secara alami. Di tengah terombang-ambingnya pikiran, pertengkaran dan kekhawatiran bangsa Indonesia, dimunculkanlah sosok oleh beberapa manusia yang sangat ingin berkuasa atas sumber daya alam di Indonesia. Sosok. yang dijunjung-junjung, dibedaki, digincui, sampai orang-orang yang melihatnya jatuh hati, dan legowo menjadikannya sosok bapak, sosok yang nantinya bakal dijadikan salah satu pintu masuk rumah bagi perampok untuk memperlancar  aksinya. Ibarat tuan rumah yang bekerjasama dengan perampok yang akan menjarah rumahnya. Sungguh ironi.

 

Sedikit menarik mundur kepada sejarah, leluhur bangsa Indonesia konon adalah bangsa yang besar, hal ini dibuktikan oleh penemuan-penemuan artefak, sisa-sisa bangunan kerajaan dan sistem yang dibentuk dalam peradaban pada masa itu, sistem hukum, budaya, adat istiadat dan nilai-nilai yang dipegang teguh dalam kehidupan mereka. Bukan untuk bertujuan mengungkapkan kalau peradaban leluhur bangsa Indonesia yang dahulu lebih baik daripada sekarang, tetapi kenapa kita tidak belajar dari orangtua kita langsung, leluhur asli bangsa Indonesia, yang secara nasab keturunan kita adalah keturunan asli bangsa Indonesia, bahasa kita, budaya kita, yang sedikit atau banyak kita temukan kesamaan, hal itu akan mempermudah kita dalam belajar, karena kita tidak lagi membuat hal baru atau budaya baru sebagai syarat untuk mewarisi keilmuannya.

 

Banyak sekali kita menemukan budaya baru dari luar yang dengan mudah masuk ke dalam negeri. Pada awalnya mungkin kita melihat budaya baru itu sebagai sesuatu yang tabu, karena budaya baru itu tidak pernah kita jumpai pada budaya bangsa Indonesia sebelumnya. Tidak menjadi masalah jika selama budaya baru itu segaris lurus atau justru membawa nilai luhur yang baru dengan nilai luhur budaya kita, yang menjadi masalah jika budaya baru itu bersimpangan atau berlawanan dan bahkan secara nilai kedudukannya jauh lebih rendah dari apa yang sudah dibangun dan dipegang oleh leluhur kita. Peran media global menjadikan budaya yang berseberangan itu terlihat sebagai sesuatu yang biasa dan bahkan dijadikan sebuah syarat keharusan oleh seseorang jika ingin dilabeli sukses dalam hidupnya. Serba terbolalik-balik, yang rendah dipandang tinggi dan dianggap sebagai pencapaian, yang mulia dipandang kolot dan sok suci. Saat ini kita memang hidup di jaman talbis, serba selimut, topeng-topeng, penuh dengan ketidakjelasan, seseorang menipu, memfitnah semudah ia meludah.

 

Generasi muda mempunyai peranan penting di dalam sebuah peradaban, generasi muda saat ini adalah generasi transisi, dimana ia hidup di jaman peralihan antara generasi orang tua bangsa Indonesia dengan generasi bangsa Indonesia yang akan lahir. Ia ikut bertanggungjawab menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan. Seorang bijak pernah berkata, “Hanya ada 2 pilihan, memilih apatis atau mengikuti arus? Tetapi aku lebih memilih menjadi manusia merdeka.” Jika ungkapan itu dihubungkan dengan masalah Indonesia saat ini, pertanyaannya adalah, memilih untuk diam menikmati kehancuran? Ikut peran serta mempercepat kehancuran? Memilih merdeka serta ambil peran memperbaiki keadaan? Berperan serta memperbaiki keadaan tidak hanya dengan cara ikut berdemo, mengikuti gerakan-gerakan revolusi, atau duduk berdiskusi kaum elit mahasiswa, tetapi dimulai dari diri sendiri dan lingkungan kecil kehidupan kita, orangtua kita, tetangga, kelompok tani, dan banyak berbagai lapisan masyarakat lainnya, sembari sesekali melihat dan mendengar “bapak” kita yang lucu ketika berbicara di media.

 

Oleh : Fajar Akmal R. 

Pemuda kelahiran jombang, bisa dihubungi di : fajarakmal165@gmail.com