Sonya Ramadlan

Barokah Amar Maiyah

Mas Rahmat dan Mas Dudung tidak nampak di lingkaran. Nuansanya agak berbeda dengan Amar Maiyah putaran pertama. Heri Tello membuka majelis  dilanjutkan dengan pembacaan Tahlukah oleh Cak Lutfi. Suara Cak Lutfi yang dari beberapa hari yang lalu agak terganggu tidak nampak berpengaruh bagi jamaah yang mengikuti. Koor Lailahailallah Muhammaddurasulullah dari jamaah menjadi latar yang apik berpadu dengan tartil Tahlukah yang dibaca Cak Lutfi dengan intonasi tegas mengalir. Memasuki pembacaan hizb Nasr, agak berbeda dengan putaran pertama, Cak Lutfi mengajak semua membaca hizb. Alurnya dibuat lambat sehingga hampir semua bisa ikut membaca. Seringkali Cak lutfi “mempertegas makna” dengan membaca perkata. Di perulangan kalimat-kalimat tertentu Cak Lutfi sering terkesan ‘menerabas hitungan’. Tidak peduli harus tiga atau sembilan perulangan, ketika belum pas untuk melanjutkan Cak Lutfi akan mengulangnya.

 

“Tidak harus khusyuk,” kata yang seringkali Cak Lutfi kemukakan ketika membaca wirid ataupun salawat. Tapi kata itu jelas hanya ‘bahasa satir’, dan hanya jika berada di majlis Amar Maiyah malam itu saja Anda bisa merasakan.

 

Indal qiyam dan doa yang diborong langsung oleh Cak Lutfi menutup rangkaian Amar Maiyah.

 

Selanjutnya Hari Tello melanjutkan dengan forum perkenalan, melanjutkan perkenalan yang sempat juga dilakukan di Amar Maiyah putaran satu. Kali ini semua yang hadir, khususnya yang baru, diminta untuk memperkenalkan diri: nama, alamat, dan pekerjaan. Dari perkenalan yang berlangsung santai muncul banyak pertalian tak terduga. Semisal ada yang bekerja di tempat pabrik yang sama, berjualan di area sama, kuliah di universitas yang sama. Salah seorang jamaah yang hadir menjadi ikon malam itu adalah seorang juru parkir di Kampus B Unair. Ketika ada jamaah lain yang menyatakan mempunyai toko, atau tempat usaha lain. Beliau selalu nyeletuk “Enek parkirane gak,” atau “Parkirane rame opo gak”. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lahan parkir adalah aset sektor non formal yang bila dijual belikan hingga ratusan juta. Omset harian juga mulai ratusan ribu hingga jutaan. Sektor yang mungkin bisa dikatakan “alternatif”. Parkir kemudian diabadikan Heri Tello sebagai kata kunci bagi yang malam itu hadir untuk berkomunikasi lanjut lewat wadah group wa BBW 3 yang dimoderasi oleh Amin.

 

Entah apa yang direncanakan Mbah Nun dengan memberi tugas Amar Maiyah. Minimal dari dua kali pelaksanaan Amar Maiyah terkumpul “energi baru”. Muncul bibit-bibit penggiat baru yang semoga pertaliannya lebih erat, lebih kuat sehingga nilai sebaran manfaat Maiyah Bangbangwetan lebih besar lagi. /atl

 

Surabaya, 30 April 2019