Oleh: Samsul Huda

(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

 

Empat kali ditangkap polisi, empat kali pula lolos dari polisi. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya tahun 2007, saya membawa rombongan ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) dari Kutorejo, Mojokerto, menuju Balai Pemuda Surabaya untuk menghadiri BangbangWetan (BbW).

 

Pergi pulang rombongan lewat tol dalam kota, Surabaya. Sebelum sampai di Balai Pemuda, kami dihadang polisi sampai tiga kali. Dua kali di jalan tol, sekali di dalam Kota Surabaya, dan yang keempat waktu perjalanan pulang.

 

Pada salah satu peristiwa “penghadangan” itu, sopir saya larang turun. Saya yang menemui polisinya. Dengan tegas saya sampaikan kepada bapak polisi bahwa kami ini Jamaah Pengajian BangbangWetan dari Mojokerto. Polisi tidak kenal dan tidak paham apa itu BbW dan meminta rombongan kembali ke mojokerto dengan surat tilang. Saya pertegas lagi kepada polisi, setiap bulan kami Maiyahan bersama Cak Nun di Balai Pemuda Surabaya untuk sinau bareng. Mereka tetap belum paham apa itu Maiyahan dan apa itu BbW. Ahirnya kami dilepas dan persilakan melanjutkan perjalanan dengan syarat penumpang dilarang berdiri dan wajib duduk di dalam kendaraan.

 

Peristiwa itu membuat kedatangan kami di BbW “terlambat” bahkan membuat komandan BbW, Mas Dudung, gupuh, was-was, dan deg-degan karena khawatir kami tidak bisa datang, padahal saya sudah berjanji untuk mengisi acara sholawatan bersama ISHARI.

 

Sesampai di Balai Pemuda, para penggiat BbW pada bertanya, “Kenapa sangat terlambat, Pak Samsul?” Saya jawab, “Saya tidak bisa jawab. Ceritanya panjang”. Tanpa basa-basi para penggiat “menggiring” kami ke panggung utama untuk bersholawat.

 

Ada lagi peristiwa yang mendebarkan hati, sampai saya khawatir dan ketakutan. Benar-benar saya ketakutan. Saat itu, tanpa rencana, tiba-tiba saya ingin datang ke BbW di halaman TVRI, Jl. Mayjen Sungkono, Surabaya. Berangkatlah saya sendirian dari Mojokerto. Saya sangat bersyukur karena malam itu bertepatan dengan Milad ke-11 BbW dengan tema ‘Gayuh Welasan’. Hadir pula dalam acara tersebut Mbah Nun, KiaiKanjeng, Ibu Novia, Gus Sabrang, Mbah Fuad, dan Syekh Kamba.

 

Apa yang membuat saya ketakutan? Sekitar jam 23.00 saat Simbah Ainun sangat serius melihat dan menjelaskan keadaan Indonesia dan dunia saat ini, tiba-tiba ada suara bising, suara gaduh. Seperti ada suara demo berkendaraan motor di jalan raya. Kemudian ada suara sirine polisi mondar-mandir, bolak-balik. Sampai Simbah terganggu dan berhenti sejenak. Ahirnya Simbah melanjutkan, “YO NGENE IKI ISINE DUNYO SAK IKI. MASIO WIS TUWEK- TUWEK,  YO JEK SENENG DADI AREK CILIK, TROMPETAN. TERUS SOPO SING TEMEN-TEMEN PINGIN GAYUH WELAS, NYENGGEK WELAS. YO WIS AWAKMU THOK IKI, REK“.

 

Apa yang membuat saya ketakutan? Saya takut acara dibubarkan. Saya membayangkan para intelijen berseliweran. Saya membayangkan apa yang terjadi jika Simbah ditangkap polisi, karena saya sendiri merinding memperhatikan dan menyimak penjelasan Simbah yang sangat serius itu.

 

Ahirnya suasana kembali khusyuk dan Simbah melanjutkan dawuh-dawuhnya. Simbah tampak tenang, tidak ada perubahan sedikitpun pada diri Simbah. Di sinilah saya semakin yakin bahwa Simbah adalah Waliyyullah, Wali Allah, yaitu ORANG YANG SEMUA URUSANNYA SUDAH DIAMBIL ALIH OLEH ALLAH SWT SEHINGGA JIWANYA “laa choufun ‘alaihim wa laa hum yakhzanuun“. Jiwa yang tidak punya rasa takut dan sedih sedikitpun terhadap dunia.

 

Maka menurut saya, semua yang terlibat di BbW, mulai dari kelahirannya sampai pada perjalanannya hingga milad ke-12 ini adalah orang-orang yang jiwanya ROODLIYATAN, ridha bahwa BbW sebagai MUNA, anugerah dari Allah Al-Mannaan dan Allah-pun ridha kepada mereka dan BbW. Sehingga BbW dan siapapun yang terlibat di dalamnya adalah MARDLYYAH, mardliyyatan minAllah. Wallahu a’lam.

 

Penulis merupakan santri Pesantren padhangmbulan, simpul Paseban Majapahit Mojokerto, hodimul ma’had “Roudlotunnasyi’n”, Berat Kulon, Kemlagi, dan Ma’had “Amanatul Ummah”, Pacet. Berdomisili di Rejoso, Payungrejo, Kutorejo, Mojokerto.