Oleh: J. Rosyidi

 

Bila sahabat memulai membaca dari tulisan ini, sebaiknya membaca bagian pertama yang tayang minggu lalu. Mari kita teruskan pembahasan kita tentang kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam komunikasi dengan ananda.

  1. Kesalahan mata

Banyak orang tua yang berbicara dengan anak pada jarak yang cukup jauh. Misal ibu di dapur anak sedang berada di ruang tengah terus sekonyong-konyong ibu teriak minta dibelikan sesuatu. Kira-kira kalau kita menjadi anak tersebut, apa yang kita rasakan? Merasa dihargai apa tidak? Kalau jawabannya adalah tidak, maka esok hampiri putra-putri kita ketika ingin berbicara dengan mereka. Apalagi kalau berbicara dengan jarak yang terlalu jauh, makan akan memicu kita untuk berteriak, bukan? Nah, anak adalah peniru ulung. Jangan sampai anak kita juga terbiasa untuk berteriak.

Sebagai tambahan, kenapa harus mendekat ketika berbicara? Agar memungkinkan terjadi eye contact dengan anak. Komunikasi dengan eye contact yang tepat menunjukkan respek. Ketiadaan eye contact akan mengakibatkan anak merasa tidak dihargai. Apa yang terjadi ketika anak terbiasa merasa tidak dihargai? Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak memiliki sikap hormat kepada orang lain.

Sekadar tips tambahan, usahakan jarak mata ayah-bunda dan ananda berkisar pada jarak 40–50 cm. Jarak tersebut adalah jarak yang cukup moderat. Tidak terlalu dekat. Juga tidak terlalu jauh. Eye level juga usahakan untuk sama. Itu untuk menghindari kesan atasan-bawahan yang bisa jadi timbul dan ditangkap oleh anak. Bukankah kita menginginkan hubungan yang egaliter dengan anak, meski tentu saja dalam bingkai adab orang tua-anak.

  1. Membanding-bandingkan anak dengan orang lain

Enak gak kalau kita dibanding-bandingkan dengan orang lain? Tentu tidak enak, bukan! Begitupun yang dirasakan oleh anak-anak ketika kita–secara sengaja atau tidak–membanding-bandingkan dengan orang lain, termasuk dengan saudaranya sendiri. Sekali lagi perlu kita ketahui bahwa anak-anak dilahirkan dengan potensinya masing-masing. Kalau anak yang satu bisa matematika, yang lainnya tidak bisa ya gak papa. Bisa jadi ia mahir bermusik. Orang tua tinggal sabar untuk mendampingi anak dalam mengeksplorasi apa yang menjadi bakat terkuatnya.

  1. Menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang tidak masuk akal

 “Ayo makanannya dihabiskan. Kalau tidak nanti dikejar-kejar anjing loh!” Berapa banyak dari kita yang masih menggunakan teknik komunikasi semacam itu. Apa coba hubungan gak habis makan dengan dikejar-kejar anjing, hehehehhe… Kenapa model komunikasi ini harus kita hilangkan? Tentu saja karena itu akan memberikan asosiasi berpikir yang tidak tepat buat anak.

  1. Tidak mampu memisahkan perbuatan anak dengan “diri “ anak

Kita seringkali tidak mampu memisahkan antara perbuatan dengan diri seseorang. Padahal, menurut buku ”The Danish Way of Parenting” kemampuan tersebut adalah salah satu cara agar membuat kita menjadi lebih bahagia. Kita sering melabeli seseorang dengan satu perbuatan jeleknya. Begitupun seringkali sebagai orang tua, kita pun melakukan kesalahan yang sama pada anak-anak kita. Ketika anak menumpahkan air dalam gelas misalnya, kita langsung melabeli anak ceroboh. Coba dipikir, apakah dalam hal lain anak kita ceroboh? Tidak, bukan!

Contoh lain, ketika anak kita tiba-tiba meronta-ronta dan rewel dalam toko atau pusat perbelanjaan karena minta dibelikan sesuatu. Apa yang kita sering bilang? Kamu kok rewel, manja, dan lain sebagainya. Padahal dalam hal hal lain anak kita sangat mungkin mandiri dan menjadi pribadi yang tidak rewel, bukan? Lebih baik, misalnya kita bilang, “Kamu kok kali ini rewel? Ada yang ingin kamu sampaikan? Ayo bicara sama mama!”

***

Kalau kemudian kita data satu-persatu daftar kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam berkomunikasi dengan anaknya, niscaya akan panjang berderet-deret sehingga tulisan akan menjadi panjang. Kebiasaan memarahi anak atas kesalahannya di depan umum, melarang anak menangis, sering memotong pembicaraan anak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kali ini penulis mengajak ayah-bunda untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan. Bukankah kita diberi akal untuk mampu berpikir? Saya yakin ayah-bunda mampu memperbaiki komunikasi dengan ananda tercinta.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi