Oleh J. Rosyidi

 

Komunikasi dalam segala bentuknya merupakan sesuatu yang esensial. Karena dengan komunikasi yang efektif, seseorang bisa mudah untuk berinteraksi. Termasuk dalam hal hubungan orang tua dan anak tercinta. Masalahnya kerapkali orang tua secara tidak sengaja melakukan kesalahan-kesalahan dalam praktik komunikasinya dengan buah hati.

  1. Komunikasi “direct-otoriter”

Seringkali karena merasa telah cukup makan asam garam kehidupan, orang tua tidak sabar terhadap proses yang sedang dijalani oleh anak. Maka yang terjadi orang tua terjatuh pada model komunikasi yang terlalu “direct” hingga anak tidak memiliki kesempatan untuk berpikir-mengembangkan kreativitasnya.

Contoh sederhana komunikasi model ini adalah, misalnya, ketika anak mencoba untuk menyalakan mainan barunya, kita buru-buru memberi petunjuk bagaimana seharusnya mainan itu digunakan. Contoh lain misalnya ketika anak bingung menghadapi pilihan (misalnya saja A dan B) kita cenderung untuk langsung memulihkan. Alih-alih memperhatikan pertimbangan yang dimiliki oleh anak, kita dengan pertimbangan kita sendiri merasa yakin akan kebaikan pilihan yang kita pilihkan buat anak. Tidak ada ruang diskusi sama sekali.

Apa akibatnya kalau komunikasi model ini dibiasakan dalam hubungan kita dengan anak? Pertama, anak menjadi tidak kreatif dan kurang inisiatif. Kedua, anak menjadi anak yang kurang mandiri. Ketiga, anak bisa menjadi anak yang kurang bertanggung jawab.

  1. Tidak benar benar “hadir”

Kemajuan teknologi juga beban pekerjaan, seringkali menjadi “pengganggu” hubungan orang tua dan anak. Coba berapa kali ayah-bunda berbicara kepada ananda dengan masih memegang gawai? Berbicara kepada mereka tanpa menatap mata mereka? Atau kemudian misalnya ketika beban pekerjaan kita bawa ke rumah hingga kita marah ketika anak “mengganggu” kita yang mana bisa jadi mereka hanya meminta hak nya untuk mendapatkan perhatian “yang utama” dari kita.

Dalam konteks ini, saya ingin bertanya, yang mana yang menjadi prioritas utama kita. Anak apa gawai? Anak ataukah pekerjaan? Bukankah gawai bahkan pekerjaan hakikatnya adalah tools kita untuk membantu mewujudkan kesuksesan kita dalam tanggung jawab mendidik anak?

Ketidakhadiran kita dalam proses komunikasi dengan anak bisa mengakibatkan kita salah persepsi karena kekurangan fokusan kita. Tambah lagi kita akan melewatkan informasi – informasi yang disampaikan oleh anak melalui bahasa tubuhnya – yang bisa jadi itu malah sesuatu yang lebih penting dari sekedar komunikasi verbal anak.

Apa yang kemudian akan terjadi ketika kita sering tidak hadir pada saat komunikasi dengan anak terjadi? Anak akan kehilangan empati dan respect – dalam bahasa agama disebut adab- terhadap orang tuanya karena ia merasa tidak menjadi prioritas utama. Lama kelamaan ketiadaan adab ini bisa menjadi pemberontakan – pembangkangan- anak. Nahdzubillah.

  1. Kurang sabar hingga suara meninggi (bahkan sering marah)

Apa yang kita rasakan ketika anak berbuat salah? Seringkali kita sama sekali tidak mentolelir anak anak untuk berbuat kesalahan hingga nada suara kita meninggi – bahkan marah- untuk sekedar menunjukkan kekecewaan atau kemarahan kita. Kita kemudian malah mencap atau memberi label buruk pada anak padahal itu hanya satu – beberapa – perilaku dari banyak perilaku baik yang selama ini ditunjukkan ananda namun jarang kita apresiasi.

Kita seakan lupa bahwa kita pun dulu melakukan kesalahan – kesalahan yang sejenis. Bukankah kemudian kita tahu bahwa kesalahan-kesalahan adalah bagian dari proses belajar selama benar penyikapannya? Kenapa kita tidak mencontoh Allah yang senantiasa membukakan pintu maafNya?

Bisa jadi nada suara meninggi ayah bunda juga didorong oleh rasa ingin dipatuhi. Memang seharusnya anak patuh terhadap orang tua. Tapi bukan dengan nada meninggi seharusnya kepatuhan dari anak didapatkan. Kalau kemudian “nada meninggi” bahkan marah kemudian kita jadikan senjata untuk mendapatkan kepatuhan dari ananda, sebenarnya relasi apa yang hendak kita bangun? Apakah relasi kuasa? Relasi ordinat dan sub ordinat? Pemimpin dan bawahan? Ataukah relasi cinta yang berdasarkan hormat dan empati?

(bersambung ke bagian dua)

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi