Kolom Jamaah, Rubrik

BELAJAR KELOMPOK DALAM DISKUSI PIAGAM MAIYAH

Oleh : Zumrotul Fatma Rahmayanti

BangbangWetan mengawali Awal tahun 2018 dengan kegiatan yang berbeda dari biasanya. Biasanya jamaah hanya datang, duduk, bershalawat bersama, mendengar narasumber yang sedang berbicara di depan, dan tanya jawab. Kali ini, diskusi perihal Piagam Maiyah mengawali acara setelah shalawatan. Penyusunan Piagam Maiyah digaungkan oleh para penggiat Maiyah di Nusantara. Sehingga, setiap simpul maiyah di Nusantara juga sedang merumuskan hal yang sama dalam pertemuan mereka.

BangbangWetan malam itu diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan bershalawat bersama (rutinitas seperti biasa). Rockmen dengan suara khas Pak Men menghibur telinga jamaah yang merindukan alunan musik rock. Beberapa nomor lagu dibawakan sembari menunggu jamaah datang. Forum diawali dengan obrolan ringan dari para penggiat BangbangWetan seputar BangbangWetan Original Merchandise, Buletin Maiyah Jawa Timur, dan Sanabila. Yang barangkali saya menangkapnya sebagai sinyal sejenis open recruitment untuk sukarelawan dalam membantu kerja ketiganya. Peluang ini dilempar kepada jamaah, mengingat pegiat yang dapat dikatakan tidak terlalu banyak dibanding dengan jumlah keseluruhan jamaah.

Setelah obrolan selesai, barulah beberapa pegiat memberikan penjelasan bahwa kegiatan berikutnya adalah diskusi mengenai Piagam Maiyah. Ini tentu menimbulkan beberapa reaksi dalam benak jamaah, ada yang memang sudah mendengar atau membaca mengenai Piagam Maiyah, karena beberapa akun simpul maiyah telah menyinggungnya di media sosial, termasuk akun media sosial BangbangWetan. Ada yang benar-benar paham karena sudah mengikutinya di Padhang mBulan dan ada yang sama sekali belum paham atau baru mendengar malam itu tentang Piagam Maiyah. Sehingga, ada jemaah BBW yang kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan setelah ini. Sambil dijelaskan, beberapa penggiat lainnya berkeliling di antara jemaah mengedarkan 3 lembar kertas dan 1 bolpoin sebagai alat diskusi. 3 lembar kertas tersebut berisi semacam Press release tentang Piagam Maiyah yang langsung diinstruksikan oleh Progress, kemudian tabel berisi contoh usulan Piagam Maiyah, dan tabel kosong untuk mengisi usulan seperti contoh di tabel sebelumnya. Tabel contoh usulan tersebut berisi tentang nama pengusul, studi kasus, sikap seharusnya, dan draft butir piagam.

Jamaah diminta membuat lingkaran-lingkaran kecil atau kelompok diskusi yang terdiri dari 8-10 orang. Memang begitulah barangkali karakter orang maiyah, luwes, fleksibel, melawan arus. Diminta dalam jumlah tertentu, tetapi realitanya bertolak belakang, mereka hanya melingkar berempat, kadang 5 atau 6 orang. Tidak memenuhi permintaan. Namun ini bukanlah substansinya.

Dari kelompok-kelompok tersebut dimintalah 1 perwakilan, sampai terkumpul 10 orang yang naik ke panggung untuk berdiskusi. Sementara, saya bersama kelompok saya di pendopo terdiri dari 7 orang. Dengan waktu yang singkat kurang lebih hanya 20-25 menit, sambil sesekali menyeruput kopi, ada 3 usulan yang tertulis. Kelompok kami menggunakan metode dengan membebaskan siapapun yang memiliki studi kasus untuk menuliskannya, kemudian masing-masing anggota kelompok membaca studi kasus yang sudah ditulis untuk selanjutnya mendiskusikan isi tabel sikap seharusnya. Sementara, bagi kami draft butir piagam hanyalah kalimat padat yang meringkas isi tabel sikap seharusnya.

Bagi kami pengalaman yang berbeda mungkin akan menimbulkan sikap yang berbeda, meskipun sebetulnya dapat dikatakan cara berpikir kami hampir sama yaitu menggunakan cara berpikir Maiyah secara natural atau mengalir begitu saja. Sehingga, sikap-sikap yang dihasilkan pun tidak jauh berbeda, dan diskusi tidak berlangsung alot. Ketika waktu sudah habis, terkumpullah 3 usulan dari hasil diskusi. Tetapi diskusi dalam kelompok kami belum selesai, 4-5 orang termasuk saya masih asyik berdiskusi mengenai hal-hal lain yang dapat dikatakan sebagai studi kasus yang mestinya juga bisa dituliskan tetapi waktu terbatas. Misalnya mengenai apa itu fatwa, makanan haram yang hidup di dua alam, dan sikap dalam menghadapi pemberitaan berbagai hal oleh media. Diskusi lanjutan itu berlangsung ketika beberapa jamaah sedang mewakili kelompoknya untuk memaparkan hasil diskusinya di atas panggung. Sehingga, saya pun tidak mengetahui keseluruhan pemaparan hasil diskusi dari para perwakilan kelompok tersebut.

Saya semakin paham bahwa memang betul, pengalaman masing-masing orang berbeda, sehingga menimbulkan sikap yang berbeda-beda pula. Dalam berpikir secara maiyah, Mbah Nun berkali-kali mengingatkan dengan “Sek ta, sek”, agar para jamaah Maiyah tidak tergesa-gesa dalam menilai dan memutuskan sesuatu. Sebab, kata Mbah Nun, “apa yang menurut kita benar bisa jadi salah bagi orang lain dan begitu pula sebaliknya.”

 

Penulis adalah jamaah Bangbang Wetan yang masih menempuh pendidikan strata 1 Sastra Indonesia UNAIR. Aktif berkicau di twitter dengan nama akun @rahmapil