Rukun Islam merupakan tahap-tahap transformasi diri untuk mencapai Puncak kepasrahan sebagai hamba.

Menjelang tengah malam, memasuki inti pembahasan dari tema malam ini, Syekh Nurshamad Kamba, Kyai Muzammil, dan Mas Sabrang hadir di tengah-tengah jamaah. Mas Sabrang mengawali pembahasan dengan memaparkan kondisi politik yang sedang terjadi saat ini terkait dengan konsep ‘ruwat’. Dalam hal ini peran Maiyah bukan untuk ngruwat kondisi dalam jangka pendek, melainkan untuk tujuan yang lebih besar. Mas Sabrang mencontohkan peristiwa Fathul Makkah, yang merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Islam. “Kehancuran butuh ketidakhancuran untuk dihancurkan,” ungkap Mas Sabrang.

Berangkat dari Sirah Nabawiyah, Syekh Kamba membicarakan konsep ‘ruwat’ yang dicontohkan Rasulullah dalam mentransformasikan orang-orang jahiliyah di Arab menjadi orang-orang yang cerdas.

Rukun Islam merupakan tahap-tahap transformasi diri untuk mencapai Puncak kepasrahan sebagai hamba. Makna Labbaik Allahuma Labbaik yang dikumandangkan ketika beribadah haji menurut Syekh Kamba bukanlah “Ya Allah, aku datang kepadaMu.” Beliau memaknainya dengan meninggalkan status keduniawian dan mempersembahkan diri seutuhnya sebagai hamba di hadapan Allah. Maka, haji merupakan puncak dari keIslaman atau kepasrahan. Kemudian, Syekh Kamba menegaskan kepada para jamaah, “Kembalilah kepada kesucian dirimu.”

Setelah pemaparan panjang oleh Syekh Kamba, Wakijo lan Sedulur kembali ke atas panggung untuk kembali menghangatkan suasana yang sejak tadi tampak tegang dalam pembahasan inti tema. Tidak tertinggal, Ruang Rindu yang dibawakan langsung oleh Mas Sabrang menjadi pengobat rindu para jamaah.