Belajar Menghikmahi Puasa


“Puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar engkau melatih diri untuk melakukan apa yang pada dasarnya tidak engkau senangi serta tidak melakukan apa yang ada dasarnya engkau senangi.”

– Muhammad Ainun Nadjib – 

Gejolak perpolitikan Bangsa Indonesia mulai merambah ke ranah agama. Terbukti dari berbagai aksi pengkotak-kotakan golongan bermuatan politik yang terjadi belakangan ini. Arus politik yang terpusat ke Ibu Kota malah memecah belah Kebhinekaan dengan aksi pengumpulan karangan bunga, ribuan status yang mungkin palsu, ribuan lilin yang kalau dihitung dengan benar ternyata bisa lebih dari jutaan, serta berbagai aksi save si ini dan save si itu berdasar pada kepentingan-kepentingan pribadi.

Bukan dunia perpolitikan yang ingin saya bahas lebih lanjut di sini, namun salah satu pengalaman dan pelajaran yang saya ambil darinya. Saya pernah mengabdi selama 2 tahun di salah satu lembaga pedidikan di Surabaya yang sebagian besar karyawannya memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Perbedaan keyakinan yang saya maksud adalah dalam hal pemelukan agama. Sesuatu yang belakangan agak sensitif bila dibahas lebih dalam di negeri yang Pancasilais ini.

Rentang waktu 2 tahun itu sangat berharga. Salah satu pelajaran yang dapat saya ambil adalah belajar menjadi minoritas. Belajar menyesuaikan diri bersama yang tidak sekeyakinan. Itulah hal baru yang dapat saya pelajari ketika memulai pengabdian tersebut.

Pernah saya menggumam dalam hati ketika mengingat masa-masa itu. “Mungkin inilah yang dirasakan teman-teman sekolah saya yang bukan muslim dulu.”

Pelajaran yang terberat terjadi ketika Bulan Ramadhan. Di saat teman-teman yang lain makan dengan santainya di siang hari, saya harus tetap menahan diri untuk tidak mokel. Bulan Ramadhan pertama saya ketika berproses di tempat tersebut berbarengan dengan awal saya bekerja. Bisa dibayangkan betapa galaunya saya yang ketika itu masih bersikukuh untuk dihormati ketika menjalankan ibadah puasa.

Perasaan mangkel menggelayuti hati dan pikiran saya. Hal itu disebabkan karena saya masih berpikiran sempit bahwa orang puasa harus dihormati oleh orang yang tidak berpuasa. Sama seperti kaum-kaum yang teriak-teriak melakukan razia dan menutup warung yang buka pada siang hari. Hingga tibalah saya dipertemukan dengan sebuah buku berjudul ‘Tuhan Pun Berpuasa’ yang ditulis oleh Cak Nun.

“Puasa adalah sebuah metode dan disiplin agar engkau melatih diri untuk melakukan apa yang pada dasarnya tidak engkau senangi serta tidak melakukan apa yang ada dasarnya engkau senangi.”

Nukilan kalimat dari buku Tuhan Pun Berpuasa di atas menjadi rujukan saya untuk mencoba merefleksikan diri. Kalau puasa hanya dimaknai untuk menahan lapar dan dahaga, lalu apa bedanya dengan perpindahan jam makan? Berikut pertanyaan yang pernah saya lontarkan kepada diri sendiri. Jawaban kemudian didapatkan bahwa menahan lapar dan dahaga adalah puasa yang paling dasar. Level yang lebih tinggi lagi adalah melakukan apa yang tidak saya senangi.

Puasa yang saya jalani sebelum bertemu dengan buku yang dicetak pertama kali tahun 1996 tersebut adalah puasa yang ‘egois’. Terus-terusan meminta dihormati dengan mengedepankan ego sebagai seorang muslim. Tanpa menyadari bahwa ibadah puasa sejatinya adalah penyerahan ego yang diperuntukkan hanya untuk Tuhan.

Kesimpulan yang saya dapatkan adalah, kalau puasa kita berkualitas, godaan apapun yang mengganggu puasa kita akan sangat gampang untuk dimentahkan. Salah satu contohnya adalah menolak tawaran untuk makan ketika sedang berpuasa hingga akhirnya terbiasa untuk berdamai dengan keadaan di lingkungan sekitar.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang terus-terusan secara tidak sengaja maupun sengaja menggoda puasa saya ketika itu. Berdasarkan godaan tersebut, saya mulai belajar memaknai puasa yang sejati. Bahwa semakin banyak godaan, puasa akan semakin berkualitas kalau kita mampu menahannya.

Secara tidak langsung pula, puasa mengajari apapun yang berkaitan dengan ketahanan sistem imun di dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan politik. Bahwa “Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan.” Marilah bersama-sama mengendalikan diri untuk bertahan dalam kecarutmarutan kondisi saat ini dengan kacamata pandang yang telah kita seting dengan belajar dari Ramadhan kita bulan ini.

 

Oleh – Danang Y. Riadi

*Jamaah Maiyah, tinggal di Blitar. Berbagi dan belajar sebagai pengajar magang. Bisa disapa di akun twitter @DanangJunior.