Oleh: J. Rosyidi

 

Apa yang harus kita ajarkan pertama kali kepada anak-anak kita? Nama-nama benda? Nama-nama hewan? Nama-nama tumbuhan? Atau apa sih? Masing-masing orang tua pasti punya cara pandang yang berbeda. Dan semuanya tidak ada yang salah. Kalau Lukman alhakim, kira-kira hal apa ya yang pertama kali diajarkan kepada anak-anaknya?

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (13)

Tauhid. Meng-esa-kan Allah. Mempersaksikan bahwa Dialah yang menciptakan semesta. Dialah yang menjaga alam raya. Dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Itulah fondasi yang ditanamkan Lukman kepada generasi penerusnya. Tentu saja mengajarkan ketauhidan kepada anak harus disesuaikan dengan umurnya. Mulai dari pengenalan Allah untuk anak-anak hingga kemudian pada teori ketauhidan yang agak rumit apabila sudah mampu diajak berpikir serius. Kapan-kapan kita akan membahas tentang bagaimana tips-tips praktis mengenalkan Allah kepada anak-anak kita. Termasuk kemudian bagaimana cara menjawab pertanyaan tentang Allah yang kadang membuat kepala kita cenat-cenut.

Rasulullah saw. bersabda: ”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah …. ialah hendaknya kamu selalu bertakwa, mengingat, mencintai, takut, dan menaruh harapan kepadanya, kemudian sesungguhnya jika kamu melakukan semua itu, niscaya Allah akan memuliakanmu.”[i]

Selanjutya, perhatikan kalimat “wahuwa yaidzuhu” yang diterjemahkan “di waktu ia memberi pelajaran kepadanya”. Pembelajaran yang bagaimana? Ada dua kesan yang bisa kita ambil dalam kalimat tersebut. Yang pertama pembelajaran tentang ketauhidan itu adalah tema tersendiri. Ataupun yang kedua ia bersifat sublim, menyatu, ke dalam pembelajaran-pembelajaran yang lain. Sementara pakar menambahkan bahwa dalam kalimat tersebut mengandung unsur targhib dan tarhib. Motivasi kepada anak untuk senantiasa melakukan kebaikan dan peringatan agar menjauhi kezaliman.

Kemudian kalau kita mencermati pilhan kata Lukman kepada anaknya, “Ya Bunayya”–bandingkan dengan perkatan Nabi Ya’qub a.s. ketika memanggil anaknya, “Ya Baniyya”–menandakan bahwasanya dalam mengajarkan anak, maka suasana yang dibangun adalah suasana kasih sayang. “Ya Bunayya” adalah bentuk tasghir, pengecilan. Namun bukan berarti merendahkan, melainkan memperhalus.

Sekali lagi, fondasi tauhid merupakan hal utama dan pertama yang senantiasa harus kita ajarkan terus menerus kepada anak. Bahkan seyogianya, kekhawatiran terbesar kita kepada anak bukanlah masalah duniawi seperti pekerjaan rumah dan sebagainya. Melainkan apa yang disembah anak-anak kita ketika kita sudah tidak membersamainya.

 

[i] Al-Firdaus bi Makmatsur al-Khitab, jilid 4, hal 422, hadis ke-7231

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi