Oleh: J. Rosyidi

Minggu ini kita kembali belajar dari Lukman bagaimana mendidik anak. Setelah sebelumnya diselingi oleh “Bagaimana Mengenalkan Anak Pada Rabb-nya”, bahasan kali ini melanjutkan bahasan tafsir surat Lukman sebelumnya.

Jika dalam dua tulisan sebelumnya titik tekan pengenalan Allah pada anak adalah merasakan kasih sayang-Nya serta memupuk ketakjuban betapa Maha Kuasanya Allah melalui fenomena-fenomena yang terhampar di jagat raya, maka sebelum mengenalkan dan melatih anak agar menjadi hamba yang hanya beribadah kepada-Nya, anak perlu diajarkan bahwa segala perbuatannya diawasi oleh Allah. Sejak bangun dari tidur hingga menuju tidur lagi.

Sejenak, mari kita renungkan kandungan ayat ke-16 dari surat Lukman berikut.“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Hisyam bin ‘Urwan, dalam kitab Al Bidayah wan-Nihayah, meriwayatkan dari bapaknya, bahwa Lukman pernah berkata kepada anaknya: “Kalian akan memetik apa yang kalian tanam.”

Sofyan Ats-Tsauri pun dalam kitab Tahdzib al Asma’ wal-Lughot, menyebutkan perkataan Lukman yang senada: “Hai anakku, jangan meremehkan perbuatan apapun. Sesungguhnya perbuatan yang kamu remehkan bisa jadi besar di kemudian hari.”

Kalau kemudian kita menggali kepada akar budaya Nusantara—Jawa lebih tepatnya—sebenarnya pesan ini pun juga telah diwanti-wanti oleh leluhur. Kita mengenal piwulang, “ngunduh wohing pakarti“, memetik buah, hasil akibat dari perbuatan kita sendiri.

Maka sebaiknya, sedari dini kita harus menanamkan pemahaman kepada anak akan adanya “buah” dari setiap perbuatan. Apabila perbuatan baik, maka buahnya akan baik, vice versa. Dalam konteks pengajaran tauhid kepada anak, erat kaitannya dengan pengawasan Allah setiap saat. Tidak sedetikpun luput dari pengawasan-Nya.

Lantas, bagaimana menanamkannya pada anak kita?

Bila anak kita melakukan kebaikan, maka orang tua sebaiknya tidak pelit untuk memuji perilakunya. Tentu saja, pujian yang diberikan ke anak hendaknya senantiasa dikaitkan dengan bahwa Allah menyukai perbuatannya.

Sebagai contoh, saat anak selesai belajar. Orang tua bisa menyampaikan bahwa hal demikian sangat disukai. Lebih-lebih, Allah-pun menyukai orang-orang yang berilmu dan meninggikan derajatnya dengan pengetahuan. Contoh lain bisa diterapkan dengan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan anak.

Ketika anak merasa senang atau mendapati perasaan lega setelah menolong orang, misalnya, beri pengertian kepada mereka, bahwa Allahlah yang menghadirkan perasaan senang dan lega itu, karena Allah senantiasa mengawasinya. Dan itu adalah salah satu balasan dari Allah terhadap perbuatan baik yang dilakukan hamba-Nya.

Tentu saja hal sebaliknya juga ditanamkan ke anak. Andai anak berbuat kesalahan, setelah kita menegur, orang tua bisa menanyakan bagaimana perasaannya. Dengan hati yang relatif masih bersih, insya Allah dalam diri anak akan timbul perasaan tidak enak, gelisah dan semacamnya. Nah, ini adalah pintu masuk bagi orang tua untuk menyatakan bahwa itu adalah “hukuman” Allah. Namun, berikan penekanan bahwa Allah tetap memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki perilakunya. Kita juga bisa mengajarkan tentang pentingnya meminta maaf setelah melakukan kesalahan.

Mengetahui bahwa hamba senantiasa berada dalam pengawasan Allah, merupakan fondasi bagi orang tua untuk mengajarkan dan melatih praktik ibadah kepada anak. Yang patut digarisbawahi, para orang tua wajib memberikan contoh tentang “pengawasan” Allah ini, sehingga akan melahirkan perbuatan atau tindakan yang berwujud kebaikan, kebenaran dan keindahan. Bukankah tingkah laku orang tua adalah sebaik-baik contoh bagi anak?

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi