Oleh: J. Rosyidi

 

Ayah-Bunda, sebentar lagi Ramadan tiba. Meski dalam situasi di tengah pandemi kita tentu harus tetap mengkondisikan agar ibadah Puasa seluruh anggota keluarga berjalan maksimal. Benar begitu bukan? Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadan dan memberikan kemampuan kita untuk mengisinya dengan sebaik baiknya.

Mari kita lanjutkan lagi mencari ibrah parenting dari Lukman Al Hakim yang termaktub dalam surat Lukman ayat ke 17. Mudah mudahan ini bisa menjadi bekal kita bersama.

 

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ       ( لقمان : ۱۷ )

 

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Setelah kita menanamkan kecintaan kepada Allah, menanamkan bahwa Allah Sang Maha Rahman dan Rahim, menginstall dalam pikiran anak bahwa Allah senantiasa tahu apa yang kita lakukan, maka selanjutnya adalah mengajarkan kepada anak tentang kewajiban kewajibannya sebagai seorang hamba.

Ayat tujuh belas ini memiliki urutan yang kalau kemudian kita perhatikan sejatinya adalah petunjuk Allah bagaimana mendidik anak dalam beribadah kepada Rabb-nya. Melakukan solat, memerintahkan kebaikan, dan kemudian bersabar terhadap apa yang menimpa.

Dalam memulai mengajarkan anak untuk beribadah, maka teladan dari orang tua adalah sarana utama. Sebelum memulai memerintahkan ananda untuk Salat, kita pun harus mencontohkan Salat dengan disiplin. Ketika kita ingin anak kita mengaji, maka kita pun terlebih dahulu harus mencontohkannya. Termasuk kemudian ibadah Puasa yang akan kita jelang ini, Insya’Allah.

Setelah memberikan contoh baru kemudian tahap selanjutnya adalah menyuruh, mengajak, membimbing ananda untuk mampu beribadah dengan baik dan benar. Ini yang kemudian perlu kita perhatikan. Sebagai orang tua, kita perlu melandasi diri kita dengan pemahaman agama yang baik.

Dalam pengamatan saya, banyak orang tua yang tidak memiliki pemahaman agama yang baik, terus kemudian menyerahkan pendidikan agamanya kepada guru sekolah maupun guru ngaji di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Mudah – mudahan Ayah-Bunda tidak termasuk ya. Sebenarnya kalau memang terbatas pengetahuan agamanya, seyogyanya orang tua pun bisa belajar terlebih dahulu bukan?

Kalau kemudian tidak sempat istifadah, ber-mulazamah, bertemu dengan guru secara langsung kita bisa menggunakan media daring bukan. Insya’Allah sudah banyak kajian kajian online kok. Tapi bukan mencari sendiri dari mbah google loh, karena rawan tersesat. Karena baik madu dan racun, semua bercampur tanpa kejelasan mana bedanya.

Yang perlu digaris bawahi adalah dalam mengajak anak untuk beribadah kepada Rabb-nya, haruslah dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Hindari kalimat yang  berkesan intimidatif kepada anak, karena akan menciptakan kenangan buruk dalam aktivitas beribadah. Sehingga terjadi keterpaksaan dan suatu ketika bisa jadi ketika tidak dalam pengawasan kita, bisa jadi ananda enggan untuk beribadah. Naudzubillah.

Terus bagaimana dengan sabda nabi yang memerintahkan anak untuk Salat di usia tujuh tahun dan kemudian boleh dipukul pada usia sepuluh tahun jika tak mau melaksanakannya? Coba kita tengok kemudian sirah Beliau. Apakah Beliau pernah memukul anaknya? Tidak pernah.

Saya pribadi memahami usia tujuh tahun sebagai usia mula untuk anak bisa diperintah beribadah. Karena pada usia itu secara psikologis anak sudah siap dengan hal-hal abstrak sederhana. Anak anak juga sudah mengerti urutan dan sebab akibat. Tapi selama belum baligh maka belum ada kewajiban untuk beribadah bukan? Maka usia 10 tahun itu bisa kita pahamkan sebagai usia krusial bagi anak untuk mulai bisa disiplin beribadah.

Setelah semua usaha kita, baik memberi contoh yang konsisten maupun mengajak, memerintahkan anak untuk beribadah dengan baik, maka sikap selanjutnya adalah bersabar. Karena segala hidayah berasal dari Allah. Apabila hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak boleh berlelah dan berputus asa untuk terus mengupayakan agar anak mampu beribadah dengan baik.

Wahai Tuhanku, jadikan aku dan anak keturunanku orang orang yang senantiasa mendirikan sholat dan senantiasa berada dalam ketaatan kepadaMu.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi