Oleh: J. Rosyidi

 

Setelah menanamkan prinsip tauhid kepada anak, seyogyanya sebagai orang tua, kita menanamkan pentingnya birrul walidain. Berbakti kepada orang tua. Sekali lagi tidak harus dipisahkan pengajarannya, bisa jadi bersamaan dengan mengajarkan tauhid kita mengajarkan biruul walidain atau sebaliknya.

 

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isro :23)

 

Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?” Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain.” Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah.” Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Sebenarnya, apa sih makna yang dikehendaki dengan pemilihan kata birr, sementara ada kata khoir ataupun hasan yang memiliki makna serupa. Al birr artinya kebajikan atau berbuat baik. Berbuat baik diusahakan semaksimal mungkin baik kualitas maupun kuantitas. Berbuat baik meneladani salah satu asma Allah, Al Barru.

 

Sementara itu kita pun mengenal kata al barri yang berarti daratan (bumi). Daratan yang menghampar melambangkan keluasan tak bertepi. Demikian kiranya kebaktian yang diharapkan dari seorang anak terhadap orang tuanya adalah kebaikan yang tak bertepi. Tanpa sekalipun menyakiti. Bahkan sekedar ucapan “ah” terhadap orang tua sudah dianggap dosa oleh Allah.

 

Lantas, bagaimana mengajarkan anak agar berbakti kepada orang tua. Selain dengan membekali dengan ilmu, yang terpenting adalah teladan. Anak-anak, dalam masa pertumbuhannya laksana sponge yang mampu menyerap apa yang dilihat dan didengar maupun dirasa. Oleh karenanya kita pun harus mencontohkan kepada anak bagaimana bakti kita kepada orang tua kita. Jangan bermimpi punya anak yang berbakti kepada kita sementara kita pun abai terhadap orang tua kita.

 

Membacakan cerita-cerita tentang kebaktian seorang anak terhadap orang tuanya bisa menjadi cara selanjutnya. Salah satu kisah sahabat yang baik dalam hal ini adalah kisah Uwais Al Qorni. Si Manusia Langit. Tentu ayah bunda sudah tahu bukan? Kisah – kisah cenderung merangsang imajinasi anak. Sementara cara kerja otak kita menyimpan ingatan dalam bentuk gambar atau imaji.

 

Yang tak kalah penting adalah memenuhi hak-hak anak. Menjadikan anak sebagai prioritas kita. Bukankah terkadang banyak dari kita yang menjadikan anak adalah prioritas yang kesekian? Contoh kecil misalnya, kita sering menyalahi janji dengan anak akibat ada keperluan lain yang sebenarnya seringkali tak penting penting amat. Anak akan tahu bahwa ia adalah prioritas utama atau bukan bagi orang tuanya. Karena anak toh juga manusia yang memiliki perasaan.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi