Oleh: J. Rosyidi

 

Luqman Hakim, bukanlah seorang nabi, tapi dia adalah seorang yang diberikan hikmah. Namanya tertulis dalam Al-Qur’an sebagai nama surat. Percakapan dengan anaknya tentang prinsip-prinsip hidup terurai rapi dengan indahnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an surat Luqman ayat 12 sampai 19. Coba dibuka lagi Al-Qur’an-nya, kemudian dirujuk pada ayat-ayat tersebut. Nah, mari kita men-tadaburi bersama.

 

“12. Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

 

Poin pertama yang bisa kita ambil sebagai bahan perenungan kita bersama adalah, Luqman diberikan Allah hikmah. Dan dengan hikmahnya tersebut Luqman mampu melakukan pola pengasuhan yang tepat. Apa itu hikmah? Secara bahasa, hikmah berarti kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan Al-Qur’anul karim. Hikmah juga berarti ilmu yang diamalkan atau perkataan yang logis yang bersih dari kesia-siaan. Sementara mufassir menyebutkan bahwa hikmah menunjukkan pemahaman yang tepat terhadap Al-Qur’an dan sunnah.

 

Apa yang kemudian bisa kita petik di sini? Hal pertama yang harus dimiliki oleh orang tua adalah ilmu. Termasuk pula ilmu parenting. Nah, karena Al-Qur’an (dan hadits) merupakan buku panduan seorang muslim, maka pengasuhan anak yang kita lakukan terhadap anak-anak kita pun seyogyanya berbasis pada prinsip dan nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

 

Poin selanjutnya kita bisa membedah kata syukur. Kenapa itu kemudian disandingkan dengan hikmah? Bagi saya pribadi ini adalah kunci sukses selanjutnya dalam pengasuhan anak. Rasa syukur – dalam hal ini memiliki anak – adalah titik tolak awal dalam pengasuhan. Rasa syukur melahirkan kesadaran bahwa anak adalah anugerah sekaligus amanah yang dititipkan Allah kepada kita. Maka sebagai konsekuensinya kita dituntut untuk memperlakukannya sebagaimana tujuan penciptaannya.

 

Apa itu tujuan penciptaan seorang anak? Tentu sebagai manusia dia punya taklif untuk beribadah kepada Allah yang menciptakannya. Oleh karenanya orang tua harus mampu mengarahkan anak menjadi hamba-hambaNya. Pada prinsipnya setiap anak disertai fitrah kehambaan, sehingga orang tua hanyalah perlu untuk menyemainya saja.

 

Tujuan penciptaan selanjutnya adalah menjadi khalifah Allah di muka bumi. Hal ini kemudian terkait dengan bakat-bakat anak. Orang tua harus sabar menemani anak-anak menemukan bakatnya masing-masing. Seringkali di sini orang tua gagal. Selain karena kurang sabar pun juga menurutkan egonya hingga memaksakan anak untuk menjalani obsesi orang tua.

 

Kembali lagi ke laptop. Eh salah, maksudnya ke bahasan syukur yang kaitanya dengan pengasuhan. Seringkali orang tua tidak mensyukuri kehadiran anak sehingga timbulah masalah yang ada pada anak. Bisa dikatakan, hampir semua masalah yang terjadi pada anak, kalau ditelusur lebih rigid adalah kesalahan orang tua.

 

Orang tua sering abai pada perkembangan jasmani dan rohani, fisik dan psikis anak. Banyak orang tua yang hanya mencukupkan pada pemenuhan kebutuhan sandang pangan dan papan saja. Padahal, sekali lagi pengasuhan (pendidikan) anak adalah kewajiban orang tua.

 

Dalam konteks ini, apabila orang tua tidak benar-benar bersyukur terhadap anak, maka berarti ia kufur. Kalau demikian orang tua jenis tersebut adalah orang tua yang durhaka kepada anak. Loh-loh bukannya yang bisa durhaka itu anak? Begini ayah-bunda, anak kecil – sebelum akil baligh – dia tidak terkena beban dosa. Kita malah yang telah berlumur dosa. Jadi pada posisi ini yang lebih dekat dengan Allah siapa? Orang tua apa anak? Hehehhe… Maka sebagai orang tua kita harus benar-benar menunaikan hak anak-anak kita, dalam hal ini termasuk hak pendidikan anak. Karena menunaikan hak anak itulah sebentuk syukur kita yang sebenarnya.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi