Oleh: Turah Asih Lestari

Pak Ervan Muchlis namanya, Pria berkumis itu adalah salah satu kru yang mengkoordinir penataan alat-alat musik KiaiKanjeng. Sosok yang sangat jarang disorot kamera, karena memang peran Pak Ervan adalah di balik layar. Kiranya, kali ini kita perlu belajar dari kesungguhan Pak Ervan dalam menjalani perannya sebagai salah satu kru KiaiKanjeng.

 

Sepintas, orang tidak tahu dan tidak berkeinginan mencari tahu siapa Pak Ervan Muchlis. Peran beliau dan kru lain memang tidak terlihat nampak di depan mata jika acara Sinau Bareng sedang berlangsung. Kita baru akan melihat apa yang dikerjakan oleh kru KiaiKanjeng sebelum acara dimulai dan sesudah acara selesai. Cobalah sesekali datang ke Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng (CNKK) sebelum acara. Pak Ervan sangat sibuk menata dan menyetel alat-alat KiaiKanjeng.

 

Pedoman pak Ervan adalah kru tidak boleh sakit (dinukil dari BMJ edisi Oktober 2019). Sepintas jika berpikir linear, ungkapan tersebut agaknya sedikit nakal dan menentang ketentuan Allah. Yang namanya orang bekerja, pasti akan capek. Jika diforsir berlebihan, tubuh bisa sakit. Itu sunnatullah.

 

Namun coba kita tadaburi dengan seksama. Kru tidak boleh sakit dalam ungkapan Pak Ervan yang penulis bisa tangkap adalah ada dua: Pertama, ungkapan manja seorang hamba kepada Tuhannya yang meminta agar diberi kesehatan secara terus menerus. Kedua, semangat kerja para kru KiaiKanjeng yang harus terus dijaga. Artinya dalam keadaan apapun harus tetap semangat dan menjalankan tugasnya dengan baik.

 

Meskipun Pak Ervan telah berpedoman bahwa kru tidak boleh sakit, tentu saja Allah yang telah mengatur semuanya. Pak Ervan pernah tidak datang di Mocopat Syafaat tiga kali karena sakit (BMJ edisi Oktober 2019). Jelas bahwa manusia hanya bisa berencana dan Allah-lah yang menentukan.

 

Pak Ervan dan kru lain di KiaiKanjeng tidak bisa diremehkan. Meskipun sebagai orang yang “hanya” menyetel alat musik, posisinya sangat vital. Artinya, siapapun itu dan apapun posisinya, tetap harus menjalankan peran dengan sepenuh hati. Sebagai contoh lain jika seseorang yang perannya sebagai pihak yang bertanggung jawab membersihkan rumah, ternyata dia meremehkan perannya, bayangkan saja pasti rumah itu akan kotor karena orang yang bertugas untuk bersih-bersih meremehkan posisinya dan sering tidak masuk kerja karena menganggap “ah, cuma bersih-bersih, tidak terlalu berpengaruh”.

 

Selain ungkapan kru tidak boleh sakit, ada satu lagi ungkapan Pak Ervan yang bisa menjadi bekal bagi anak-cucu Maiyah di manapun berada. “Bekerja tanpa memiliki motif apapun.” Haduh, jadi malu dengan ungkapan itu. Seringkali bermaiyah kepingin bertemu Mbah Nun saja. Namun yang lebih penting dari motif itu adalah dengan atau tanpa Mbah Nun, bisa sinau bareng dengan hati yang ikhlas.

 

Tentu, jika kita memiliki motif selain Allah, akan menjadi lelah dan tanpa sadar akan mundur sebelum bertempur dalam aktivitas apapun. Sebagai contoh jika kita bermaiyah memiliki motif lain selain lillahita’ala–ingin numpang dikenal orang misalnya–nanti jika dalam perjalanan tidak sesuai denga apa yang kita harapkan, akan mundur dengan sendirinya.

 

Namun, Pak Ervan secara tidak langsug mengajarkan kepada kita semua bahwa dalam menjalani hidup, terutama dalam bidang pekerjaan, lebih baik tidak usah ada motif apapun. Agar dalam menjalaninya bisa lila legawa dan bersungguh-sungguh.

 

Lain pak Ervan lain pula Pak Islam. Pak Islamiyanto adalah salah satu vokalis KiaiKanjeng yang berdomisili di Klaten, Jawa Tengah. Salah satu laku hidup yang bisa kita pelajari dari Pak Islam adalah meninggalkan cerita kebaikan untuk anak cucu (BMJ edisi September 2019).

 

Menurut pak Islam, untuk apa memiliki kesuksesan dalam arti memiliki jabatan tinggi dan harta melimpah jika tidak memiliki cerita kebaikan untuk anak-cucu kita kelak.  Artinya dalam hidup harus terus berbuat baik kepada sesama manusia maupun sesama makhluk Allah.

 

Cerita kebaikan yang ditinggalkan untuk anak-cucu salah satunya dengan cara minimal tidak membuat cerita buruk. Karena untuk meninggalkan cerita baik terkadang sulit dan tidak semua orang diberikan fadilah untuk itu. Lantas apa yang harus dilakukan? Hidup dengan apa adanya dan tidak mencelakai orang lain, tidak melukai orang lain. Dalam berbagai kesempatan Mbah Nun sudah sering menyampaikan hal ini. Jika kita tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk kebermanfaatan orang lain. Minimal orang lain yang bersama kita merasa aman.

 

Sedikit cerita kebaikan yang bisa diambil dari Pak Islamiyanto dan Pak Ervan. Semoga bisa kita ambil manfaatnya. Tentunya masih banyak cerita kebaikan dan laku hidup yang bisa kita ambil pelajaran dan manfaatnya dari para pelaku jalan sunyi yang lain.

 

Turah Asih Lestari, Jamaah Maiyah asal Temanggung, Jawa Tengah. Bisa dihubungi di turahasih.lestari@gmail.com