Oleh : Mashita Charisma Dewi Eliyas

 

Bulan April adalah bulan yang secara pribadi saya tunggu kedatangannya. Kenapa ? Karena saya merindukan perjumpaan kembali dengan bapak-bapak serta beberapa pemain Teater Perdikan. Tahun lalu,  saya menjadi salah satu orang yang beruntung untuk ikut andil dalam pergelaran Teater Sengkuni 2019. Repertoar yang naskahnya ditulis oleh  juga Mbah Nun tersebut dipentaskan secara spartan di beberapa kota. Surabaya menjadi bagian dari perjalanannya.

Seirama kabar yang saya terima, ada momentum berharga yang pantas dinantikan kedatangnnya. Momen itu berupa menyiapkan dan menunggu bapak-bapak makan pagi di hotel, ngobrol dengan beberapa pemain dan crew, mengirimkan makanan ke ruang ganti sampai hal yang paling tidak terlupakan adalah ketika menyuguhkan jus jambu  selama tiga hari berturut-turut untuk Pak Jujuk Prabowo sang sutradara. Ya… ada info bahwa beliau termasuk “istimewa”  karena memang jarang makan nasi. Entah apa yang ada dalam fikiran saya, yang jelas, secara pribadi ada keinginan kuat untuk ikut menjaga asupan nutrisi para pemain serta segenap pendukung pementasan selama mereka ada di Surabaya.

Beberapa waktu lalu,  Pak Jijit–salah satu tokoh yang terlibat cukup aktif–melontarkan ceketukannya  saya dan team dapur “Mbak, pokoknya hidup dan mati lambungku beberapa hari ini tergantung kamu ya”. Wah, betapa besar peran kami. Gumam saya dalam hati sambil bersyukur akan tanggung jawab yang kami pikul.

Bercengkrama selama tiga hari bersama mereka yang ada di satu keluarga bernama Teater Perdikan membawa kesan tersendiri bagi saya. Karena itu pula,   13 dan 14 April ini seharusnya menjadi momentum untuk bisa bertemu dan melepas rindu kembali. Ada agenda pementasan bertajuk Sunan Sableng dan Paduka Petruk, yang akan kembali di gelar di Balai Pemuda, Surabaya. Apa daya, manusia berencana dan Tuhan pula penentu segalanya. Situasi yang berkembang akibat penyebaran virus Corona tidak memungkinkan kami memberi yang terbaik bagi kedatangan kembali mereka semua.

Selain catatan kenangan bersama pelakon, sutradara dan segenap nama pendukung, saya juga merindukan terulangnya kedekatan dalam kerja dan kesibukan bersama kawan-kawan panitia. Antusias mereka masih terasa hangatnya hingga hitungan 12 bulan terlewati. Betapa tidak, sampai H-7 tiket tak kunjung habis terjual, belum lagi ketegangan ketika ada beberapa calon penonton yang meminta fasilitas-fasilitas yang awkard. Ingatan lain adalah peristiwa gontok-gontokan ketika kami satu sama lain berselisih faham atau  beda pemikiran dalam memutuskan satu-dua hal teknis. Namun saya yakini adanya kesamaan pada kami yaitu agar pementasan berlangsung sesuai rencana dan membawa kegembiraan kepada semua pihak.

Akan tetapi saya dan teman-teman masih optimis bahwa Sunan Sableng dan Paduka Petruk tetap akan kembali singgah di Surabaya. Allah maha rahman dan rahim karena menyaksikan gigihnya latihan demi latihan bapak-bapak yang sebagian besar adalah “alumnus” Teater Perdikan. Keinginan untuk bisa bersua dan bergabung didalam proses pembuatan konsep, menyusun serta menyaksikan bahwa panitia Surabaya pun begitu antusias untuk menyambutnya. Satu bentuk “ekspresi* yang sangat  wajar karena kuatnya kesan yang melekat dari “hajatan” serupa tahun lalu. Satu kegiatan yang menyisakan “Ruang Rindu” bagi kami semua. Sebuah lubang di hati yang tak ada obatnya selain pertemuan itu sendiri.

 

Sidoarjo, 12 April 2020

 

Penulis adalah Jamaah Maiyah asal Sidoarjo yang berkecimpung dalam bidang pendidikan anak usia dini serta aktif menulis .Bisa disapa di akun instagram @sitaeliyas