BER ‘AKHLAK’ LAH , BARU BER ’ILMU’

Surabaya,9 agst 2017, Berita

Tadi malam bertempat di Pendopo Cak Durasim Surabaya, berlangsung forum diskusi rutin maiyah  BangbangWetan yang telah digelar setiap bulan hampir selama 11 tahun lebih. Tema yang diambil adalah “DARURAT DAULAT , WALA TANSA NASIBAKA MINAD DUNYA “ . Forum diskusi ini biasa dihadiri oleh masyarakat dari berbagai latar belakang dan usia, dan akhir akhir ini yang memenuhi rata rata adalah para pemuda.Forum diskusi sendiri dimulai dengan nderes Quran dan sholawatan yang dipimpin oleh Gus Lutfhi beserta beberapa jamaah penggiat.

Menjelang pukul 21;00 temen temen dari Bonek ( bondo nekat ) supporter klub Persebaya Surabaya turut serta menyeramakkan dengan menampilkan lagu dan yel yel khas dukungan layaknya ketika klub kesayangan mereka berlaga. Banyak jamaah yang sudah akrab dengan bonek dan Persebaya turut serta bernyanyi bersama sama. Nuansa bonek yang selama ini mungkin hanya ditemui ketika klub bermain, malam ini terasa kental serta turut hadir “ ngaji , sinau bareng “ dengan jamaah maiyah .

Menjelang tengah malam Nampak Yai Muzammil dari Yogyakarta serta Cak Mat dan Pak suko hadir bersama jamaah . Lagu Indonesia Raya berkumandang dilagukan untuk mengantarkan forum diskusi mala mini ke sesi berikutnya . Yai Muzammil memulai paparan tentang tema Darurat Daulat ini dengan menceritakan bagaimana kecenderungan masyarakat yang lebih mendahulukan akhlak daripada ilmu .

Beliau mengambil contoh seperti kita sedang ditawari makan, maka kita pasti akan menjawab ‘ sampun sampun ‘ meskipun sebenarnya juga belum makan. Ada lagi masyarakat khususnya NU yang memanggil Kanjeng Nabi Muhammad dengan mengawalinya memakai awalan Sayyidina . Ini menunjukkan bahwa betapa akhak sangat kuat dipakai serta dihargai dalam hubungan kemasyarakatan . “ Ahklak itu lebih utama , bahkan mendahului ilmu “ Tutur Yai Muzammil .

Kata demi kata dari tema dibahas dengan detail, dari asal Bahasa kata itu sendiri , makna dalam Bahasa aslinya serta makna dalam Bahasa turunannya. Hal ini perlu dipelajari agar kita tidak salah penempatan dalam penggunaan nantinya. Karena banyak kejadian komunikasi serta maksud yang tidak tersampaikan secara tepat dan utuh hanya karena penggunaan kata yang tidak / kurang pada proporsinya.

Silih berganti antara pak Suko, Cak Mat dan Yai Muzammil mengelaborasi tema malam ini . Sesi tanya jawab dibuka dan antusiame jamaah dalam merespon tema diskusi sangat bagus, sampai tak terasa waktu telah menjelang dini hari . [ ht/red ]