Oleh: J. Rosyidi

Pernah nggak sih kita berbohong? Pernah lah ya. Meski tidak dengan maksud membohongi untuk menyakiti tentunya. Pernahkah ayah-bunda berbohong kepada ananda? Mungkin dulu-dulu pernah kali. Tapi mudah-mudahan setelah ini tidak lagi ya, ayah-bunda.

“Nak, ayo makannya dihabiskan. Nanti kalau tidak habis, akan disuntik Pak Dokter loh!” Ayah-bunda pernah mengatakan hal seperti itu kepada ananda? Bisa jadi memori anak akan menyimpan dalam waktu lama perkataan itu. Anak pun tidak makan karena kebutuhan. Anak pun bisa jadi takut dengan dokter. Seringkali kebohongan yang kita lakukan menjadikan anak menangkap konsep yang salah. Tidak menangkap bangunan pemahaman yang benar. Dalam konteks contoh ini adalah apa hubungannya menghabiskan makanan dengan rasa takut ketemu dokter.

Lebih lanjut lagi, kenapa sih perkataan bohong kepada ananda harus dihindari? Pertama, satu kebohongan akan memicu kebohongan berikutnya. Misalnya ketika ayah harus berangkat ke kantor, sementara sang anak tidak mau ditinggal dan tentu saja ke kantor tidak memungkinkan membawa ananda, bisa jadi sang ayah “terpaksa” untuk berbohong. Ketika pulang dan sangat anak bertanya lagi, tentu akan menimbulkan kebohongan baru, bukan? Kenapa tidak memberikan penjelasan dengan sabar saja!?

Dampak kedua apabila kita–sebagai orang tua–sering berbohong kepada anak adalah ananda menjadi anak yang tidak percaya diri. Kok bisa begitu? Kebohongan-kebohongan yang dialami oleh anak akan memicu perasaan bahwa dirinya tidak bisa dipercaya. Diperlakukan tidak setara, sehingga ia harus dibohongi. Apabila terus menerus, maka akan tertanam konsep inferior dalam dirinya.

Sebagai orang tua, teladan adalah salah satu yang paling penting dalam aspek pembelajaran kepada anak. Nah, teladan apa yang akan kita berikan kepada ananda kalau kemudian kita seringkali berbohong kepada ananda. Apakah kita menginginkan ananda menjadi pribadi-pribadi yang gemar berbohong. Naudzubillah. Rasulullah ﷺ  menekankan kepada kita,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ(وفى رواية لمسلم: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ) حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ(وفى رواية لمسلم: وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ) حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً. رواه البخاري ومسلم

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai Pendusta alias pembohong.” (HR. Bukhari-Muslim).

Salah satu alasan yang seringkali menjadi pemicu orang tua untuk berbohong kepada anak adalah agar segera mengakhiri percakapan dengan anak. Ketidaksabaran kita meladeni pertanyaan anak, yang memang dalam fase ingin tahu akan berbagai hal, menjadikan berbohong sebagai shortcut. Hal ini bisa jadi karena kita tidak menempatkan anak sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Anak ditempatkan di bawah urusan urusan lain, semisal pekerjaan. Padahal sekali lagi perlu kita ingat bahwa anak adalah investasi terbaik untuk masa depan kita. Bukankah salah satu amal yang senantiasa tidak putus pahalanya adalah doa anak yang saleh?

Terus, bagaimana sih agar kita bisa mengurangi atau menghilangkan sama sekali perilaku berbohong pada anak? Kuncinya adalah sabar. Sebagaimana sudah sekilas saya singgung di atas. Nah melatih kesabaran itu yang memang harus terus menerus dilakukan. Sabar memang mudah ditulis ataupun diucapkan. Tapi sungguh itu berat dilakukan. Tapi saya yakin, ayah-bunda mampu kok.

Hal selanjutnya adalah kemampuan merangkai kata. Kreativitas kita menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, sehingga anak menjadi puas dengan jawaban-jawaban kita. Atau apabila memang tidak memungkinkan untuk segera dijawab, ya jujur saja. Tapi gunakan bahasa yang tidak menyakiti anak. Sehingga anak tetap merasa menjadi prioritas utama orang tuanya.

Eh, sebenarnya secara psikologi, ada nggak sih manfaat berbohong? Atau ada nggak sih berbohong yang diperbolehkan? Sepanjang bacaan saya sih, sampai saat ini saya belum menemukannya. Semangat ayah bunda untuk belajar lagi ya.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi