Rahim

Berhenti selamanya atau sekadar Istirahat?

Oleh: Imroah

Beberapa pekan lalu, saya masih ingat tepatnya pada malam satu Suro, ada salah seorang teman menyapa melalui pesan singkat untuk menanyakan keadaan. Karena kami jarang berkomunikasi, akhirnya kita berbincang cukup panjang. Ia menanyaiku beberapa pertanyaan pribadi, beberapa pertanyaan umum lainnya, termasuk menanyai perihal mengapa tidak aktif menulis, padahal tulisanku termasuk salah satu yang ditunggu. “Bahasamu ora neko-neko alias santui gak ndakik-ndakik tur enteng nak uteg”, ujarnya.

Pada saat itu saya tersentak kaget, ternyata dia mengikuti tulisan-tulisan yang saya buat. Meskipun tidak pernah di-publish pada media mainstream, ternyata dia mengikuti. Saya hanya bilang, “Oh, ngerti tulisanku to?”. Lalu dia melanjutkan pertanyaannya, “Ya ngertilah, kon tau  nulis nak caknun.com barang to?”. Lantas saya hanya membalas  dengan emot senyum. Dia semakin mengorek-ngorek dengan pertanyaannya dan saya tetap menjawab dengan “mbuletisasi”.

Baiklah, mungkin di sini adalah media yang tepat untuk menjawab pertanyaan salah seorang kawan saya.

Perihal tulis-menulis: saya sangat harus banyak belajar pun hati selalu bergejolak dan selalu mengakui kekurangan ketika menyampaikan sesuatu. Perihal malu dengan apa yang saya tulis dan utarakan: banyak orang belum mengenal saya namun hanya melihat sekilas dari apa yang saya tuliskan. Itu sah-sah saja sebenarnya. Namun yang harus diketahui semua orang bahwa apa yang saya utarakan hanyalah omong kosong dan topeng-topeng; baik berupa tulisan, perkataan, ungkapan. Kecuali pada situasi tertentu. Untuk itu saya putuskan untuk tidak mem-publish apapun, entah dalam jangka beberapa waktu atau mungkin selamanya.

Keputusan itu adalah dampak dari perkataan salah seorang teman, ia mengatakan, “Aku tidak sebaik kamu dalam mengenakan topeng-topeng.” Lalu kusambut dengan pertanyaan, “Topeng maksudmu?”. Lantas ia menjawab, “Kamu bisa besikap A kepada B, bisa bersikap B kepada C, bisa bersikap C kepada D”. Lantas saya masih bingung dengan perkataannya dan mengejar untuk mendapatkan jawaban yang lebih spesifik. Kemudian ia menjelaskan bahwa sikap saya kepada A bisa sangat berbeda terhadap sikap saya kepada B. Dari sini saya mulai mengerti maksudnya. Jawaban saya saat itu, “Karena saya dibesarkan di beberapa organisasi berbeda kultur dan budayanya, maka saya harus belajar kepada siapa saja yang ada di hadapan saya; dengan siapa saya berbicara dan mengungkapkan pendapat”.

Flashback, saya pernah menceritakan kepadanya beberapa pengalaman  (temasuk ketika SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga detik ini) berorganisasi dengan kultur dan wajah berbeda yang pernah saya jelajahi. Dari yang mempercayai suara adalah aurat hingga yang menyakini salat cukup dilakukan dalam hati. Saya berbicara lantang kepada teman tersebut, bahwa apa yang dikatakan adalah benar. Saya selama ini hanya bertopeng dan selalu bertopeng. Bukan tentang tidak percaya diri: karena dari literatur yang saya baca, orang tidak menjadi diri sendiri termasuk orang yang hilang kepercayaan diri dan dengan menduplikasi karakter orang lain mereka merasa aman. Namun tidak bagi saya, saya hanya berusaha mengimbangi orang yang ada di hadapan saya. Karena prinsip saya adalah mengosongkan wadah di hadapan orang lain adalah bekal belajar dan menyombongi orang sombong adalah bentuk perlawanan. Lantas saya melanjutkan, “Tidak ada yang asli pun termasuk kepadamu. Bisa menjadi diri sendiri, ketika saya sendiri”.

Teman saya mengungkapkan kegelisahannya terhadap perkataan tersebut, “Lah terus piye aku percoyo omonganmu lek kabeh topeng?”. Lantas aku menjawab, “Saringen sing apik, guwaken sing elek”. Lantas ia berucap sekali lagi argumennya, “Makane iku, aku gak iso sebaik awakmu bertopeng”.

Pada saat itu saya tertegun dengan ucapannya. Di dalam konsep yang saya pahami, bertopeng adalah konotasi munafik dan itu cukup menyentil. Membuat saya introspeksi diri hingga detik ini dan entah sampai kapan kata itu berkecamuk dan menghiasi hari-hari ke depan. Otak saya masih terisi penuh terhadap pertanyaan dari batin saya yang menanyakan, “Apakah saya bagian dari orang munafik?”. Ini adalah pertanyaan yang belum bisa saya jawab hingga sekarang. Padahal setahu saya, orang munafik adalah orang yang sangat dibenci Allah. Jika saya termasuk golongan orang munafik, maka sungguh Allah telah memalingkan wajahnya terhadap diri saya. Lantas apa yang saya harus lakukan jika itu terjadi? Kecuali, saya termasuk orang yang celaka.

An-Nisa ayat 145: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”.

Dari perkataan dan ayat itu saya banyak merenung dengan diri sendiri. Sebatas yang saya tahu, ciri orang munafik adalah jika dipercaya berdusta, khianat, ingkar janji, malas beribadah, bersumpah palsu, fujur dalam pertikaian, dan riya’ . Maka mohon maaf kiranya jika saya perlu masukan untuk memutuskan: dalam hal ini akan kembali menulis atau tidak.

Serta dalam tulisan ini juga bentuk pesan dan pernyataan yang harus diketahui banyak orang bahwa tidak semua orang menjadi diri mereka sendiri ketika berbaur dengan masyarakat. Entah apapun alasannya. Sedikit yang saya pahami tentang kondisi tersebut adalah bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Semua makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan dan tak terkecuali manusia. Sedangkan yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain (tumbuhan dan hewan) adalah niatnya.

Semoga dari tulisan ini ada masukan dan kritik untuk pribadi. Termasuk untuk memutuskan berhenti selamanya atau sekadar istirahat (menulis). Serta semoga saya dan Anda bukan dan tidak akan menjadi bagian dari orang-orang munafik. Aamiin…

Sekilas tentang penulis : Lahir di kediri, bekerja sebagai buruh pendidikan di taman kanak-kanak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *