Oleh: Dimas Syaiful Amri

(Refleksi 12 tahun BangbangWetan)

Jum’at malam, 28 September 2018, Balai Pemuda Surabaya yang menjadi tempat berlangsungnya acara 12 tahun BangbangWetan begitu padat dipenuhi oleh para generasi pembaharu. Mereka datang untuk menyatakan keabsahan tema peringatan bertajuk “Berlusin Keberuntungan”

Angka 12 memang tergolong unik. Di antaranya adalah merupakan jumlah akumulasi 5 rukun Islam dengan 6 rukun iman yang hasilnya adalah 11 dan dilengkapi oleh ihsan sehingga genap 12. Jumlah huruf dalam lafaz Arab ‘La ilaha ilallah’ pun ada 12, yang menjadi harapan BangbangWetan lebih matang sebagai wadah ber-mujahadah dalam meng-Esa-kan Allah. Lafaz huruf Arab kalimat ‘Muhammadu Rasulullah’ pun berjumlah 12, seolah memberi pesan untuk selalu berusaha tepat memegang tuntunan Kanjeng Nabi sampai tingkat mukasyafah. Jumlah 12 dari huruf Arab ‘Abu Bakar as Siddiq’ pun seakan memberi pesan untuk semakin dermawan. Jumlah huruf Arab ‘Umar bin Khattab’ pun ada 12, memberi pesan untuk selalu tegas dan berani. Huruf Arab ‘Utsman bin Affan’ pun berjumlah 12, memberi isyarat tentang kelembutan. Berikutnya, Jumlah huruf Arab dari ‘Ali bin Abi Thalib’ pun berjumlah 12, menjadi simbol pintu ilmu dan kebijaksanaan.

 

Sesuai tema, memang dapat kita temukan begitu banyak keberuntungan dari acara tersebut. Antara lain cerita tentang seorang jama’ah yang beruntung terhindar dari bencana gempa Palu dikarenakan pergi ke Jawa untuk mengikuti Maiyahan yang salah satunya adalah malam kemarin.

 

Kehadiran Cak Kartolo turut menambah curahan keberuntungan di malam itu. Mbah Nun berkelakar, “Apa gunanya hidup ini bila tidak ada Kartolo di dalamnya”.

 

Mbah Nun kemudian mempersilakan Cak Kartolo dengan nada bercanda, “Sak karepe sampean, terserah kate lapo, kate turu yo gak masalah“. Dengan enteng Cak Kartolo menimpali, “Lek kongkon turu yo patenono dhisek lampune“. Sebuah dialog yang membuat kita ingat akan ilmu “empan dan papan”, intinya semua yang dilakukan harus menyesuaikan situasi, kondisi, dan tempat.

 

Cak Kartolo mengawali dengan guyonan, “Wes tuwek, tapi durung dipangan codhot“. Dari guyonan itu dapat diambil pelajaran tentang semakin matang usia seseorang harus pula diiringi dengan kemampuan untuk melindungi diri dari pengaruh negatif dari luar.

Kemudian beliau melanjutkan cerita tentang rasa lelah dari kepadatan aktivitasnya yang diimbuhi guyonan tentang “nyithak boto“, seolah mengisyaratkan kita agar jangan pernah lelah untuk bergerak dan menghilangkan keinginan untuk bersantai-santai. Dari guyonan tentang jantung yang akan dipasangi ring tinju, Cak Kartolo seolah mengingatkan kita untuk tidak kagetan dalam melihat pertarungan dan pertikaian yang terjadi hari ini dan di masa-masa mendatang.

 

Guyonan dilanjutkan, tentang kesibukan mencari hutangan beras dan makelar tanah, tapi bukan tanah seperti yang kita bayangkan, melainkan tanah longsor. Hal ini seolah mengingatkan kita untuk tidak sibuk atas dunia yang bersifat sementara dan bisa rusak kemudian tak bernilai apa-apa.

 

Beliau pun menawarkan, siapa yang butuh rumah agar menemui beliau, namun ditawarkannya rumah tawon yang pintunya banyak. Itu mengingatkan tentang bentuk rumah tawon yang hexagonal (segi enam) perlambang rukun iman. Pintu yang banyak juga mengingatkan kita untuk selalu bisa terbuka dan menjadi ruang, menerima siapa saja dengan kasih sayang.

 

Setelah dipersilakan berdiri, sambil menunggu pemutaran musik latar pengiring kidung, Cak Kartolo kembali bercanda dengan menawarkan diri untuk ditanyai tentang isi bumi. Seolah menggoda kita agar tak pernah berhenti belajar agar tahu dan memahami segala sesuatu dengan mendalam dan terus bersifat membumi.

 

Terjadi interaksi guyonan ringan antara Cak Kartolo dengan Mbah Nun. Kidungan pun dimulai.

 

Kulo mbiyen pegawai negeri, saiki yo getun mburi“.

Mlebu telat, mulih ndhisiki. Oleh telung wulan dilereni“.

Seolah memberi pesan bahwa seseorang akan menanggung akibat dari segala perbuatannya, dan jangan sampai berbuat yang berbuah penyesalan di kemudian hari.

 

Saiki dadi wong seni. Kerjo sepi bojo nodhong njaluk kendaraan, tak tukokno odhong odhong“.

Ini seperti memberi nasehat agar menjalani hidup dengan gembira, dan menemukan solusi yang menggembirakan semua pihak.

 

Kemudian beliau memulai kidungan yang lebih serius dimana isinya ucapan selamat atas 12 tahun BangbangWetan dan pesan agar terus sinau untuk bekal dunia akhirat.

 

Kidungan kembali mblehar (melantur) dengan candaan makan knalpot. Kemudian menceritakan tentang kisah sebagai olahragawan yang seharusnya rajin berlatih dan mengatur pola makan, tapi malah makan kroto dan kelabang. Dari situ dapat diambil pelajaran agar kita selalu bersungguh sungguh dalam menjalani suatu profesi.

 

Masuk pada beat yang lebih tinggi, Cak Kartolo melanjutkan kidungan jenakanya.

Masio cilik aku yo mumpuni, lomba opo mesti nomer siji“.

Wong tas iki melok lomba lari, saking bantere nubruk Mbah Ngatemi“.

Dari bait itu dapat ditemukan pelajaran bahwa sifat ananiyah dapat menimbulkan aniaya.

Terus lomba nang Tulungagung, hadiahe gedhe tak pilih wurung“.

Lomba tarik tambang onok stasiun, tak pikir mungsuh uwong dadak mungsuh sepur“.

Dari sini dapat diambil pelajaran tentang kemampuan mengontrol diri, menolak sesuatu yang menyebabkan kebinasaan meski dengan iming-iming keuntungan besar.

Terakhire lomba nang Banjarmasin, aku terus mrono gak ambil pusing“.

Lomba mangan gagal bertanding, tak pikir mangan sego dadak mangan kalajengking“.

Ini memberi pesan pada kita agar mampu menghindar dari segala yang mudharat dan tak manfaat.

 

Setelah menutup kidungannya, Cak Kartolo kembali berkelakar bahwa ia tidak butuh uang, melainkan butuh beras. Seperti mengisyaratkan agar kita tidak menjadi budak uang, kebutuhan akan beras menjadi pesan bahwa kita bekerja sebenarnya agar bisa tetap hidup dan menghidupi.

 

Setelah itu masuk sesi tanya jawab bersama Cak Kartolo, interaksi berlangsung sangat mesra dan penuh tawa. Salah satunya pertanyaan Cak Suko tentang apakah Cak Kartolo yang jenaka pernah merasakan sedih, dengan enteng ia menjawab ‘sedih bila mempunyai banyak utang’. Seperti mengingatkan para pengelola negara agar tidak menumpuk utang untuk mencitrakan kesuksesan dalam membangun.

 

Juga pertanyaan Cak Suko tentang seandainya Cak Kartolo diajukan menjadi walikota, dengan kocak ia menjawab pasti sehari setelah dipilih, esoknya diberhentikan. Dari situ seharusnya mereka yang tak mampu mengemban amanah pemerintahan merasa tersindir dan tahu diri, bukan malah mengajukan diri atau ngotot mempertahankan kursinya.

 

Kemudian pertanyaan tentang materi lawakannya yang tidak pernah habis pun dijawab dengan enteng, “Nggeh kulakan“. Yang jika diartikan adalah sebuah pesan untuk terus “kulakan” atau mencari ilmu dengan sungguh-sungguh agar menjadi seorang yang mumpuni sesuai konsep mujahadah.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu beliau jawab pun dengan jujur beliau akui tak bisa menjawab. Memberikan teladan bagi kita tentang keterbukaan, kejujuran, dan sifat lapang dada dalam mengenali kemampuan diri. Bahkan saat ditanya tentang siapa pemain ludruk yang hebat beliau pun mampu menyajikan kerendah-hatiannya dengan jenaka. Saat ditanya apakah bisa menirukan guyonan pemain ludruk lain seperti Cak Basman, beliau pun menjawab tak bisa. Seolah memberi kita pesan tentang pentingnya orisinalitas dan menjadi diri sendiri.

 

Pertanyaan seorang jama’ah tentang makanan favorit pun dijawab dengan jenaka, “Aku iki sak anane, tempe mergo murah karo iwak teri“. Ikan Teri kemudian diplesetkan dengan “diteri tanggane“. Ini mengajarkan kita untuk selalu sederhana dan berhemat, juga semangat saling berbagi.

 

Terakhir setelah mengucapkan salam penutup, beliau berkelakar merasa dirinya seperti Aa Gym, sama-sama satu angkatan, hanya saja Aa Gym dari Tsanawiyah sedangkan Cak Kartolo dari Sanatorium. Guyonan tersebut seolah mengajarkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan dan sampai kepadaNya dari jalur mana saja, yaitu dari ilmu yg dipelajari di sekolah (Tsanawiyah) atau dari pengalaman sakit sekalipun (Sanatorium).

 

Mbah Nun pun kemudian mengajak jama’ah untuk mendoakan Cak Kartolo agar diberi panjang umur. Dari situ dapat kita tangkap pesan agar kita selalu merawat kegembiraan dan mengapresiasi melanjutkan budaya yang baik dari para pendahulu.

 

“Anda mengalami apa yang sudah hilang sejak empat belas abad.” Sejak wafatnya Rasulullah, Islam sudah diwarnai dan ditunggangi kepentingan-kepentingan. Sedang di sini, kita tidak menemukan Islam yang seperti itu tadi.

 

Kanjeng Nabi ngongkon dadi wong apik.” Merupakan pesan Mbah Nun mengenai keberuntungan maiyah, yang memahami bahwa Kanjeng Nabi tidak mengharuskan kita untuk menjadi orang Islam yang hanya mengacu pada simbol dan identitas. Yang lebih ditekankan kanjeng nabi adalah agar kita bisa belajar untuk menjadi orang baik. Artinya al-Quran menekankan, bahwa prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Ajaran tentang formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki.

 

Di maiyah kita diajarkan bahwa pemahaman bukan hanya ada di dalam otak, tetapi juga seluruh bagian tubuh. Kita diajarkan untuk menjadi orang Islam yang hanif (lurus) dan orang hanif yang Islam (sesuai arahan Nabi Muhammad).

 

Hanifiyah, yaitu agama yang mengajarkan bahwa keselamatan diraih dengan perbuatan baik atau amal saleh. Agama hanif (agama yang condong kepada kelurusan atau kebenaran) adalah kumpulan orang-orang dengan segenap keistimewaan yang ada pada dirinya, seperti kecerdasan akal dan pengetahuannya yang luas, pandangan-pandangannya sangat kritis terhadap problematika kehidupan, relatif lebih berbudi pekerti luhur dan terpelajar. Menolak menyembah berhala karena dipandang sia-sia, dan mengajak kepada ketauhidan.

 

Pada dasarnya agama yang sah tidak bisa lain dari sikap pasrah kepada Tuhan (al-Islam). Tak ada agama tanpa sikap pasrah. Berdasarkan teologi ini, maka semua agama yang benar, adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, yakni mengajarkan al-Islam. Sebab agama para nabi terdahulu, semuanya adalah Islam. Agama Islam tampil dalam rangkaian dengan agama-agama al-Islam yang lain. Walaupun dalam kenyataannya, agama-agama lain itu tidak disebut dengan nama Islam.

 

Inti pokok dari ajaran para Nabi ialah memusatkan penghambaan diri dan pengabdian mutlak hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, diikuti dengan perlawanan kepada tirani dan menegakkan keadilan dan keseimbangan. Karena itu Islam dan sebagaimana agama-agama sebelumnya adalah agama hanif, artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik.

 

Mbah Nun pun memberi pesan agar sebelum berijtihad kita harus menjalani proses mujahadah dan mukasyafah. Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun”. (HR Abu Dawud)

 

Fajar yang nampak dari timur, pertanda matahari baru segera muncul, sebagai awal dari era baru, lahirnya para generasi pembaharu. Generasi Maiyah yang mampu ber-mujahadah dan ber-mukasyafah hingga melahirkan ijtihad yang kebenarannya dipuncaki dengan hikmah yang bersifat personal. Generasi yang terus mengupayakan keindahan dengan selalu fastabiqul khairat. Generasi yang mampu melahirkan kegembiraan, kedamaian, kebahagiaan, dan keberuntungan bagi semua.

 

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) hanya kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang “ummiy” yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-A’raf : 156-157)

 

Dimas Syaiful Amri, Penulis merupakan pegiat Sulthon Penanggungan, Pasuruan. Sehari-hari menjaga toko kelontong di pasar Pandaan.