Berlusin Keberuntungan

(12 tahun BangbangWetan)

“Merebaknya Jamaah Maiyah di berbagai tempat, ini seperti Emha sedang menyiapkan bola lampu–bola lampu yang terhubung oleh kabel. Tinggal menunggu saatnya aliran listrik dinyalakan, dan akan menyala seluruh bola lampu tersebut.” [WS. Rendra]

 

Dua belas (12) tahun untuk konsistensi sebuah perhelatan berbasis komunitas maupun komunitas itu sendiri, kohesi dan interaksi di dalamnya, kebersambungan dan ketersambungan dari tahun ke tahun sebenarnya adalah hal yang biasa saja ditemui dalam guyub masyarakat Nusantara.

 

Menjadi menarik ketika percepatan dan Revolusi Industri 4.0 yang menggelombang menjadi dominan dan kemudian diabsahkan sebagai parameter kemajuan dan pencapaian dengan isme yang berwujud sisi materi belaka. Sebuah kegiatan berbasis komunitas bisa bertahan sedemikian lama di dalam kepungannya adalah sebuah anomali sosial. Bukannya tidak mungkin, hanya saja ia menjadi langka terkecuali dengan adanya sebuah titik tuju yang bisa diukur dengan materialisme tadi.

 

Demikianlah BangbangWetan menemukan titik koordinatnya dalam absis-ordinat zaman.

 

Kehadirannya hingga menginjak putaran 12 tahun adalah satu bentuk keberuntungan. BangbangWetan beruntung hadir di Surabaya, sebagaimana Surabaya juga beruntung akan kehadirannya. Masing-masing jamaah BangbangWetan memiliki kesan dan persentuhan keberuntungan personanya dengan BangbangWetan, sebagaimana BangbangWetan juga beruntung dengan kehadiran jamaah yang  tanpa lelah nyengkuyung perhelatan bulanan di jantung Kota Pahlawan, Surabaya.

 

Sebagaimana lazimnya Maiyahan lain, BangbangWetan menyeruakkan wangi paseduluran. Sebagai satu keluarga, setiap sedulur pastilah menginginkan, mengharapkan, dan mengupayakan keselamatan, kegembiraan maupun kebahagiaan sedulur-nya. Satu bentuk  terminologi mu’min yang hakiki. Interaksi di dalamnya mengindikasikan transformasi kebaikan dan saling menjauhkan dari keburukan. Sebuah bentuk amr ma’ruf nahi munkar.

 

Pada setiap perhelatan bulanan hingga tahun ke-12-nya, jamaah tidak hanya sekadar hadir secara fisik, bertemu muka, dan bertukar sapa dengan sesama sedulur-nya, namun juga memberikan apa saja yang bisa mendukung terlaksananya perhelatan. Manifestasinya berupa tenaga, dana, do’a, dan harapan juga pemikiran. Sungguh sebuah orkestrasi kemesraan yang nyata. Layaknya satu proyeksi Segitiga Cinta yang diperkenalkan Mbah Nun. Semakin indah karena yang menjadi kosmos seluruh interaksi paseduluran ini adalah iklim dialektika cinta Allah-Muhammad-Hamba, dengan tetap jujur sebagai manusia.

 

Atas seluruh perkenanNya dan segala usaha untuk senantiasa  gondelan klambine Kanjeng Nabi, sudah selayaknya keberuntungan demi keberuntungan BangbangWetan dan jamaahnya disyukuri dengan tetap berendah hati dan terus memohon hidayahNya. Bersama waktu, semoga bola-bola kecil keberuntungan ini terus menggelinding, membesar  hingga Tuhan menyerunya sebagai hum al-muflihun yang diulang 12 kali di dalam kitab suciNya. Satu kesesuaian dengan 12 putaran surya yang telah ditempuh BangbangWetan.

 

(kalimat tersebut ada di al-Baqarah: 5, Ali ‘Imran: 104, al-A’raf: 8, al-A’raf: 157, at-Tawbah: 88, al-Mu’minun: 102, an-Nuur: 51, ar-Ruum: 38, Luqman: 5, al-Mujadilah: 22, al-Hasyr: 9, dan at-Taghabun: 16)

 

Menjadi satu kewajaran ketika keberuntungan ini dibagi dan dipancarkan ke seluruh Ruang Maiyah, dimana Titik demi Titik menjelma Garis, memanjang ke segala arah bertaut menjadi Bidang untuk kemudian beririsan satu sama lain menjadi Bangunan. Dengan keberuntungan yang dipancarkan, niscaya Titik hingga Bangunan itu menjadi struktur keberuntungan sejati.

 

Mari kita tautkan raga dan atma. Saling tahadduts bin ni’mah di 12 tahun BangbangWetan. Jum’at, 28 September 2018 di Balai Pemuda. Kembali kita rayakan ekspresi rindu dalam simfoni paseduluran nan tiada koda.

 

Oleh : 

Tim Tema ISIM BangbangWetan