BERPESTA DENGAN DUKA

 

” Mereka tak meratapi dengan tangisan dan diam di rumah. Kalau kita meratapi, kesedihan justru tinggal lebih lama, kawan. Kau akan sulit keluar dari kesedihan itu. Kebahagiaanmu bakal semakin jauh.”

 

Ia mengundangku ke rumahnya. Laki-laki itu memang gemar sekali berpesta, bahkan ia tak pernah melihat situasi saat berpesta. Baru saja seminggu yang lalu ia mengundangku untuk berpesta, atas kenaikan gajinya di sebuah perusahaan, tempat ia bekerja selama tiga tahun belakangan. Pesta itu dilangsungkan di sebuah cafe, yang sepertinya sudah ia kosongkan khusus untuk tamu-tamu pestanya. Istrinya tak turut hadir di sana, katanya ini khusus.

Satu bulan yang lalu kami juga berpesta, saat itu ia baru saja pindah rumah. Ke tempat ia mengundangku sekarang. Masih sama, tak ada yang berubah dari rumah ini. Hanya kuingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumah barunya, aku melihat sebuah pigora foto. Di dalamnya terbingkai dua orang suami istri berbalut baju pernikahan adat Jawa. Pigora itu tak terpasang lagi ketika tadi aku masuk. Dindingnya lebih lengang dari sebelumnya, tapi masih ada satu lukisan yang di dalamnya ada kuda-kuda yang berlari di pantai, dengan warna cat agak muram, pasir hitam, dan langit mendung.

Hari ini pestanya lebih ramai dari dua pesta yang kuhadiri sebelumnya. Mau pesta apa lagi dia, pikirku.

Seperti biasa saat aku datang di sana sudah banyak tamu lainnya. Ada yang asyik berbincang dengan lawan jenisnya, ada yang bergerombol membincangkan politik dan tetek bengek, ada yang memilih menyendiri di pojok dan menikmati minumannya di samping jendela, ada juga yang berdiri di sebelah meja makanan, sibuk memperhatikan makanan apa yang akan dicomotnya. Usia mereka rupa-rupa. Jadi pesta ini tak sama sekali identik dengan reuni SMA satu angkatan. Mirip reuni akbar, tempat para orang tua berusaha menjodohkan anak-anak mereka.

Tak semua tamu aku kenal. Aku kenal Durja, pria bertubuh besar, tinggi, dan tegap, kulitnya coklat terbakar. Ia memakai kemeja denim dan melambaikan tangannya ke arahku ketika aku datang. Aku kenal Lukas, yang sedang berbincang dengan Durja. Lukas bertubuh lebih pendek dari Durja, tapi perutnya sedikit membumbung ke depan dari pada perut Durja yang rata. Rambutnya botak. Kutahu dari pemilik rumah bahwa ia orang yang tak pernah absen dari pesta. Aku bergabung bersama mereka. Mereka sedang membicarakan pesta ini saat aku tiba.

“aku nggak ngerti apa sih maksud dia, masak suasana hati kayak gimana pun dipestain sama dia?”

“Durja..durja..dia memang suka pesta. Mau tidak mau kita juga harus datang sebagai teman. Hitung-hitung makan gratis.”

“Soal makanan bukan perkara, tiap hari aku masih bisa beli makanan pakai hasil kerjaku.”

“ya mau gimana lagi, dia itu kan nggak suka sepi. Hura-hura terus memang. Apa kau lupa sewaktu kita kuliah, dia yang paling banter ngajak kita ke klub.”

“tentu nggak, Kas. Aku bertemu istriku di sana. Meskipun harus mabuk dulu.”

Kubiarkan mereka berbicara dulu, sebelum aku masuk dan ikut pembicaraan mereka. Sambil kuperhatikan sekelilingku, barang kali istri pemilik rumah muncul tiba-tiba di tengah pesta. Di pesta ini jumlah perempuan tak sebanyak tamu laki-laki. Beberapa dari mereka merokok. Maria, mengenakan gaun hitam selutut, rambutnya hitam berkilau, kukunya dikutek hitam, jari-jarinya yang lentik menggenggam sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya. Aku mengenal Maria di pesta rumah baru satu bulan yang lalu. Baru hari ini aku melihatnya kembali. Badannya semakin berisi, dadanya menyembul keluar seperti ingin tumpah, rambutnya dipotong menyerupai laki-laki, bibirnya bergincu merah, semakin cantik saja ia.

“Kalian sudah lama datang?”

“Setengah jam yang lalu. Durja lebih dulu, aku menyusul.”

Laki-laki pemiliki rumah menghampiri gerombolan kami. Ia menyapa dan basa-basi seperlunya. Setelah berbincang dengan Durja tentang pekerjaan, suasana hening. Aku pun mencoba bertanya.

“kemana istrimu?”

“tidak ada.”

“apa dia sedang keluar rumah?”

“Tidak.”

“lantas, kemana? Kok dari tadi aku tak melihatnya.”

“Tidak ada.”

Kemudian, ia mengirimkan gestur kepada kami dengan menepuk lengan atas kiriku, dengan kalimat “aku tinggal dulu ya, nikmati pestanya kawan-kawan!” yang tak terucap. Ia melangkah pergi meninggalkan gerombolan kami menuju dua orang yang nampaknya baru saja memasuki pesta.

Laki-laki itu membuatku penasaran, untuk apa pesta ini diadakan. Sebelum aku bertanya pada Durja dan Lukas, aku mengingat obrolan kami suatu siang saat jam istirahat kerja. Aku, Durja, dan laki-laki itu menghabiskan sisa jam istirahat di sebuah balkon tempat kami bekerja.

Laki-laki itu mengawali pembicaraan kami di tengah siang yang tak seterik kemarin.

“aku ingin berpesta” kalimat itu disambung hisapan batang rokok yang cukup panjang.

Saat itu aku baru satu bulan mengenal mereka, maka aku pun bingung menjawabnya. Durja yang melihat kebingunganku, akhirnya angkat bicara menanggapi perkataan laki-laki itu.

“bukannya satu bulan yang lalu saat istrimu keguguran kau sudah berpesta?”

Keguguran? Pesta? Pesta setelah istrinya keguguran? Apa sudah gila laki-laki ini? Aku pun menyela pembicaraan itu.

“maaf bung, maksudnya berpesta saat istri bung keguguran itu bagaimana?”

“dia itu kalau berpesta mana pernah melihat-lihat situasi” Durja menjawab sebelum laki-laki memberi penjelasan panjang pada kami.

“ya, betul. Memang, seperti itu. Aku merayakan kehamilan istriku yang gugur. Jadi, ya itu caraku menghibur diri. Sebab kesedihan itu harus dirayakan kawan. Kau pernah lihat adat orang Toraja ketika ada yang meninggal? Mereka tak meratapi dengan tangisan dan diam di rumah. Kalau kita meratapi, kesedihan justru tinggal lebih lama, kawan. Kau akan sulit keluar dari kesedihan itu. Kebahagiaanmu bakal semakin jauh.”

“ah masak begitu bung Durja?” aku hanya berpura-pura meminta pendapat Durja, karena sungguh ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang berpesta ketika seharusnya ia berkabung.

Durja mengangkat bahu, ia menyalakan batang rokok yang kedua. Masih ada sepuluh menit kira-kira jam istirahat yang tersisa.

“bung, nanti kalau aku membuat pesta, datanglah. Biar kita bisa merayakan kesedihan bersama-sama.”

Aku mengangguk berkali-kali dengan ragu-ragu. Laki-laki itu ternyata mengerti ketidakterimaanku.

“kenapa kau tampak ragu-ragu kawan? Ayolah, kita itu harus berpikir ke depan. Kesedihan itu kan bukan untuk diratapi, ditangisi berhari-hari. Kalau kita sedih terus, ia akan tertawa melihat kita. Semakin betah ia bersama kita. Kebahagiaan perlu dijemput.” Lalu ia melangkah masuk, meninggalkan aku dan Durja.

“kau mungkin berpikir bahwa dia gila, tapi dia pernah lebih gila lagi dari pesta sebulan yang lalu”

“maksudmu Ja?”

“Sebelum aku kenal dia, ada yang bercerita padaku seperti aku bercerita ini padamu. Waktu mertuanya meninggal, ia pun berpesta, tepat satu hari setelah pemakaman.”

“istrinya tak tau soal pesta itu?”

“entahlah bung, yang jelas menurut cerita itu juga, rumah tangganya masih baik-baik saja. Tapi mereka memang sering bertengkar. Setiap habis bertengkar dengan istrinya, dia pasti mengajak kami minum. Dia yang mentraktir.”

Satu minggu setelah pembicaraan kami siang itu, aku diundang berpesta di rumah barunya. Ini baru masuk akal, pikirku.

Aku datang pada pukul delapan malam, saat itu kulihat Durja sudah asyik dengan makanan dan minuman di hadapannya. Di sebelah Durja, duduk seseorang perempuan, dialah Maria. Ia menggunakan tanktop yang dibalut jaket kulit hitam, aku tau itu karena ia sempat melepaskan jaketnya. Roknya sepuluh senti di atas lutut, rambutnya terurai dan bergelombang, dan jari-jari lentiknya yang berkutek merah lincah memainkan batang rokok. Wanita ini misterius. Ia tak banyak bicara, bicaranya sedikit-sedikit atau ia hanya akan bicara bila perlu, bila ditanyai. Itulah yang membuatku semakin ingin mengenalnya. Di pesta berikutnya, malam ini, aku sudah lebih banyak berbincang dengannya.

***

Lukas pergi mengambil minum. Hingga tinggal aku dan Durja, lalu Durja mencondongkan badannya ke arahku, dan berbicara dengan sedikit berbisik,

“kau belum tau? Istrinya sudah pergi ke rumah mertuanya. Maksudku dia pulang ke rumahnya. Kemarin mereka bercerai.”

 

 

Penulis : Zumrotul Fatma Rahmayanti

Mahasiswi S1 Sastra Indonesia Universitas Airlangga, bisa dihubungi : rahmapil22@gmail.com