Oleh : Agung Trilaksono

Beberapa hari terakhir ini saya sedang belajar puasa dari teman-teman, sahabat kuli panggul di pasar, para tukang becak di bawah jembatan, tukang batu di proyek-proyek konstruksi sipil. Ketika hiruk pikuk televisi, masjid, mushola melakukan berbagai acara yang katanya memeriahkan bulan mulia. Artis-artis yang biasanya berpakaian seksi berganti kostum kerudung, hingga acaranya pun seolah berganti rupa ibadah ceria. Toa-toa pengeras suara dari masjid-masjid, langgar-langgar, terus saja berbunyi. Seolah tidak ada jam sebagai penanda waktu sehingga orang harus diingatkan sekeras-kerasnya. Tak peduli malam ataupun siang, waktu istirahat ataupun bekerja. Sepertinya inilah waktu untuk mendulang pahala, amal sholeh seolah hanya serupa.  

Di bawah teriknya mentari, teman-temanku itu berjibaku dalam pekerjaan beratnya. Peluhnya sudah membasahi seluruh tubuhnya. Disela lelah fisik, kelakar tawa digunakan untuk saling berbagi gembira. Yang terdengar oleh telinga lewat pastinya hanya umpatan kasar, bukan sapaan saling menggembirakan. Satu dua hisapan rokok digunakan untuk mengendurkan fikirnya. Galon air isi ulang tergetak sekenanya bercampur taburan debu semen, pasir, tanah dan keringat mereka. Sesekali digulingkan galon tersebut, dituangkan ke dalam gelas dari potongan botol minuman mineral, lalu diteguknya untuk mengusir dahaga.

Dalam imajiku datang sesosok orang berjubah dengan jenggot panjang dan celana cingkrangnya, “Qala Rosulullah S.A.W bersabda; Barang siapa yang tidak melakukan puasa dibulan Ramadhan…………………………….”. tak sanggup aku melanjutkan imaji itu.

Kuperhatikan lagi teman-temanku itu. Betapa gembira wajah-wajahnya di tengah peluh yang terus-menerus bercucur. Mereka bekerja keras setiap hari. Bisa berminggu-minggu jauh dari anak-istri. Tidur di bedeng-bedeng kecil sebelah bangunan tinggi menjulang yang kelak begitu megahnya. Siang berkawan terik, malam meringkuk berselimut dingin. Beralaskan terpal bekas baliho caleg atau iklan produk tertentu, adalah hal biasa.

Aku belajar pada wajah-wajah gembira itu. Aku begitu khidmat menghitung setiap tetes keringat mereka yang ditukar dengan selembar dua lembar uang yang kelak dibawa pulang, agar anak-Istri di rumah gembira pula.

DIMANA PUASA, DIMANA RAMADHAN !!!!

Apakah berada di dalam kantor ber-AC, di belakang meja sidang berkursi empuk yang secara lipsing menahan lapar dari sebelum subuh hingga Maghrib menjelang.
Mana yang kau sebut Berbuka, mana yang kau sebut Puasa.
Diantara perut lapar ternikmat tidur atau perut harus diisi agar bisa bekerja.

Mana yang kau sebut Puasa, dan dimanakah Berbuka.
Perut terisimu membuat orang gembira. Perut laparmu menebar kebijakan angkara.

Aku terus bertanya pada akal bodohku tak terhingga.
Sambil menuding lurus ke depan pada diriku sendiri.
KAU yang duduk dibawah atap, sepoi sejuk AC.
Jari tanganmu bergerak saja sudah kau hitung amal sholeh…
KAU yang tadi pagi makan kenyang, menahannya hingga sore menjelang sajian terhidang.
Itukah PUASAMU?

Guru aku benar-benar MALU, hanya seperti inilah PUASAKU.
Atas apakah ini PUASAKU?

Lalu masih pantaskah aku menuntut Hari Raya?

Masih pantaskah ..
Aku menuntut kemenangan?
Dimana perjuangannya?
DIMANA?
Teman, bolehkan aku belajar padamu.
Belajar pada hari-hari gembiramu.
Belajar pada sapaan lepas canda menggembirakanmu.

Ngoro, 30 Ramadan 1437 H

*Agung Trilaksono : Penggiat BangbangWetan. Pemegang sabuk hitam di sebuah aliran bela diri. Baginya, bekerja bukan untuk mencari rejeki melainkan untuk mendapat percikan barokah dari rejeki. Bisa dihubungi di Facebook dengan nama akun : Agung Trilaksono