BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN

Oleh : Ahmad Fuad Effendy

 

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al-Insyirah 5-6)

Ada beberapa ungkapan yang populer di tengah masyarakat berkaitan dengan kesulitan dan kemudahan. Antara lain, “sesudah kesulitan ada kemudahan”, “habis gelap terbitlah terang”, “badai pasti berlalu”. Ungkapan-ungkapan bijak ini membantu banyak orang untuk tidak pesimis dalam menghadapi kesulitan dan tetap memiliki harapan untuk datangnya kemudahan.

Al-Qur`an sendiri memberikan rumus atau kaedah yang lebih dahsyat, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Insyirah: “Fainna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra” (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Rumus kehidupan dari Al-Qur`an ini menegaskan bahwa “bersama kesulitan ada kemudahan”, bukan “sesudah kesulitan ada kemudahan”. “Di dalam kesulitan ada kemudahan, di dalam gelap ada cahaya”. Kesulitan yang dihadapi oleh seseorang bisa jadi justru merupakan jalan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.

Dalam penerapannya, rumus atau kaidah kehidupan ini diperkuat dengan kaidah lain dalam Al-Qur`an, surat Al-Baqarah 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Kaidah ini diperjelas lagi maknanya dalam ayat 19 surat An-Nisa` 19: “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

Peristiwa-peristiwa sejarah dan bahkan kejadian-kejadian dalam kehidupan kita sendiri, jika kita titen, memberikan bukti yang membenarkan rumus tersebut. Dilarungnya bayi Musa di sungai Nil oleh ibundanya atas perintah ilham dari Allah, ternyata menjadi pintu masuk menuju istana Raja Fir’aun yang kemudian mengangkatnya sebagai anak atas permintaan sang permaisuri. Kesulitan yang dihadapi oleh permaisuri raja dalam merawat bayi Musa karena terus menangis dan tidak mau disusui oleh siapapun, ternyata merupakan jalan untuk kembali kepada sang ibu yang sudah merindukan bayinya dengan sepenuh hati.

Dibuangnya Yusuf muda ke dalam sumur oleh saudara-saudara kandungnya sendiri, ternyata merupakan jalan bagi Yusuf untuk menjadi anak angkat seorang pejabat tinggi Mesir. Kesulitan yang dihadapi Yusuf muda yang tampan dalam menghadapi godaan dan cumbu rayu ibu angkatnya sehingga harus masuk penjara demi mempertahankan kesucian dirinya, ternyata membuka jalan baginya untuk menjadi pejabat yang dipercaya menangani perekonomian negara.

Dan kita, saya dan anda, apakah tidak pernah mengalami hal yang serupa meskipun beda skalanya? Tak pernahkah kita mengalami satu kesulitan dalam satu hal tapi Allah memberikan kemudahan dalam hal yang lain? Ada seorang doktor yang tiga kali ikut ujian masuk PNS tidak lulus, lalu Allah menuntunnya untuk menjadi pengusaha, sehingga penghasilannya berlipat-lipat dari gaji PNS. Tak pernahkah kita menghadapi jalan buntu, lalu tiba-tiba Allah menunjuki kita jalan keluar yang tidak pernah kita duga-duga? Allah berjanji “barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki yang tak pernah dibayangkannya”.

Rumus “inna ma’al ‘usri yusra” ini ternyata tidak hanya berlaku dalam kehidupan manusia, melainkan juga dalam segenap ciptaan Allah di alam semesta. Ambil contoh lalat. Pernahkah mendengar Nabi bersabda, “Jika ada seekor lalat terjatuh pada minuman kalian, maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat” (HR Al-Bukhari). Ada yang berpendapat bahwa hadis ini “jorok”. Dalam persepsi umum, lalat adalah binatang kotor, suka makan yang kotor-kotor, hinggap di tempat yang kotor, dan pasti akan menebar kotoran dan penyakit. Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa lalat hidup di sampah dan limbah yang mengandung sejumlah besar bakteri, virus, dan berbagai mikroba lainnya.

Namun harus dipahami bahwa hadis ini bukanlah perintah, melainkan sebuah jalan keluar. Dalam keadaan tidak ada lagi yang bisa diminum, padahal harus minum, maka cara demikian bisa dilakukan. Karena hal itu disampaikan oleh Nabi, maka tidak mungkin akan menimbulkan suatu bahaya. Di sinilah tugas ilmuwan muslim untuk melakukan penelitian terhadap pernyataan Beliau bahwa “satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat”.

Sekelompok ilmuwan di Mesir dan Arab Saudi melakukan beberapa percobaan pada wadah berbeda yang berisi air, madu, dan jus. Mereka membiarkan jenis cairan tersebut dihinggapi lalat. Kemudian mereka tenggelamkan lalat di beberapa wadah ini. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa cairan yang tidak ada lalat ditenggelamkan mengandung banyak bakteri dan virus, sementara wadah lain di mana lalat benar-benar ditenggelamkan tidak terdapat bakteri dan virus. Penemuan bahwa ada penangkal untuk patogen dan bahwa ada berbagai jenis bakteri dan penangkalnya, baru diketahui pada dekade terakhir abad ke-20, namun Nabi Muhammad Saw sudah menyinggung soal ini 1400 tahun yang lalu. Ternyata benar bahwa dalam diri lalat yang penuh penyakit dan bakteri di satu sayapnya itu terdapat obat penawar pada sayap lainnya. Jika tidak, spesies lalat akan binasa karena kuman itu. Tapi nyatanya lalat tetap ada di lebih dari 87.000 spesies.

Bakteri adalah organisme hidup yang sangat kecil. Jumlahnya miliaran dalam satu gram tanah pertanian dan jutaan dalam setetes ludah. Pengaruh bakteri pada kehidupan biologis di bumi tidak terbatas. Tanpa bakteri tidak ada tanaman yang bisa tumbuh, dan tanpa tanaman tidak akan ada kehidupan bagi hewan dan manusia.

Dan akhirnya, melihat keadaan amat sulit yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, yang seolah-olah berada dalam kegelapan yang berlapis-lapis, maka kembali kepada rumus “bersama kesulitan ada kemudahan”, bolehlah kita berharap bahkan percaya bahwa ada cahaya di dalam kegelapan itu. Namun jika Allah tidak menunjukkan cahaya, tidak akan ada seorang pun yang dapat menemukan cahaya itu. Maka kewajiban kita adalah meneguhkan tauhid, memurnikan niat, menyehatkan akal, menanam benih kebaikan dan menebarkan kebaikan itu sendiri tanpa henti. Dengan harapan Allah akan menunjukkan kepada kita cahaya itu dan memberikan jalan keluar dari problema akut yang dihadapi oleh umat dan bangsa dewasa ini.

 

Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, adalah salah satu marja’ (rujukan) Maiyah. Dipercaya sebagai anggota Majelis Ummana ( Board of Trustees) di King Abdullah bin Abdul Azis International Center of Arabic Language.